Kamis, 21 Mei 2020

Baubau: Kota Favorit di Sulawesi Tenggara

Jika saya ditanya tentang apakah entitas atau daerah favorit untuk penugasan di wilayah Sulawesi Tenggara, maka Kota Baubau adalah jawabannya. Ada banyak alasan yang menjadikannya sebagai tujuan favorit saya. Yang terutama adalah kota ini adalah lokasi terbaik di Sulawesi Tenggara untuk menyaksikan senja (karena selama 5 tahun di Sulawesi Tenggara saya tidak pernah ke Wakatobi).
Wantiro Baubau
Sebagai informasi, Kota Baubau merupakan satu dari dua wilayah yang berstatus kota di wilayah Sulawesi Tenggara. Dengan status ini, Kota Baubau dapat memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayahnya lebih maju dari wilayah lainnya sehingga dapat menjadi sebuah pusat perekonomian khususnya di wilayah Pulau Buton dan sekitarnya. 
Suasana Kota Baubau dari Ketinggian Perbukitan
Kota Baubau merupkan kota yang sangat berkesan bagi saya.  Kota ini relatif tertata rapi, ramai dengan mobilitas dan aktifitas ekonomi, menjadi jalur penghubung transportasi laut nusantara, serta menjadi perpaduan antara kekayaan dan kelestarian sejarah dengan perkembangan sosial kemasyarakatan. Dengan alasan-alasan tersebut saya menganggap kota ini pantas jika dijadikan  ibukota sebuah provinsi.
Senja di Lakeba Resort Baubau
Letak kota ini sangat strategis karena berada di tepi laut yang menjadi jalur transportasi utama nusantara. Selain itu wilayah kota ini juga meliputi kawasan perbukitan yang cukup tinggi yang diantaranya dimanfaatkan sebagai area pemukiman. Suhu di kota ini sebagaimana kota-kota diwilayah tropis cukup panas. Namun jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Sulawesi Tenggara, di kota ini banyak tumbuh pohon perindang di sisi jalan. Pepohonan ini lumayan bisa sedikit menjadi pelipur panas atau sekedar menjadi penyejuk pandangan.
Terkait infrastruktur dan fasilitas pendukung kawasan perkotaan, saya menilai bahwa kota ini sudah bagus. Jalan raya dan jalan di kompleks pemukiman membentang mulus dengan kualitas yang baik dan dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas sebagai pedoman berkendara bagi para pengguna jalan. Untuk angkutan transportasi darat, di Kota Baubau selain terdapat angkutan pete-pete juga ada angkutan taksi. Untuk jalur laut, pelabuhan Kota Baubau melayani banyak sekali rute. Baik rute nasional maupun rute antar pulau di sekitar kepulauan Buton. Areal pelabuhan juga ditata dengan semakin baik dengan pemisahan peruntukan antara angkutan penumpang dan angkutan barang. Hal ini berpengaruh pada kelancaran pelayanan pelabuhan. Melengkapi moda transportasi yang ada, di Kota Baubau terdapat sebuah bandara yang melayani perjalanan menggunakan pesawat udara. Bandara ini melayani rute penerbangan ke beberapa kota dengan intensitas jadwal penerbangan yang sedang.
Kesibukan di Pelabuhan Baubau
e sektor ekonomi, di kota ini ada banyak lokasi pusat perbelanjaan atau pasar yang melayani kebutuhan masyarakat Baubau. Ada Pasar Kota Tua yang diantaranya menjual barang-barang elektronik, pasar Wameo yang khas dengan pakaian impor seken-nya, Pasar Buah lapangan Lembah Hijau yang stand dan stok buahnya melimpah, Pasar Tradisional Karya Nugraha di Jalan Haji Agus Salim serta yang paling baru Hypermart Buton.
Fasilitas lain yang juga tersedia di kota ini adalah fasilitas kesehatan berupa rumah sakit yang representatif baik yang dikelola Pemda maupun swasta seperti RS Siloam. Selain itu banyak pula terlihat papan reklame praktek dokter privat dan apotik tersebar di beberapa lokasi di kota Baubau. Untuk fasilitas pendidikan, ada banyak kampus yang dapat menampung mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Namun yang menjadi perhatian saya adalah banyak sekali akademi perawat di kota ini. Banyaknya akper-akper ini mungkin dikarenakan animo masyarakat yang tinggi serta motif praktis agar cepat kerja selepas lulus pendidikan.
Kota Baubau juga sangat rekomended untuk para pecinta wisata kuliner. Ada banyak lokasi dan jenis makanan yang bisa dinikmati saat berkunjung ke kota ini, baik jenis makanan seafood sampai makanan khas Jepang. Salah satu lokasi tujuan utama wisata kuliner yang harus dikunjungi saat berada di kota ini adalah Pujasera Betoambari. Lokasi ini menjadi salah satu favorit saya untuk berwisata kuliner karena di tempat ini saya bisa menyantap makan malam sekaligus menikmati suasana pantai Baubau pada malam hari.
Menikmati Sajian Suki di Metro Suki & Resto Baubau
Untuk akomodasi, kota Baubau ini patut diacungi Jempol. Ada banyak hotel atau penginapan yang bisa digunakan baik untuk acara kedinasan, pelesir maupun bisnis. Dari beberapa hotel yang ada di Baubau, Hotel Adios merupakan hotel yang paling rekomended. Hotel ini terletak di kawasan perbukitan dengan view luas menghadap ke arah pusat kota dan pelabuhan serta Selat Buton. Selain letaknya yang strategis, hotel ini  mempunyai kamar yang berukuran lega, kamar mandi dilengkapi bath tub, gratis air mineral, plus gratis laundry. Sarapan di hotel ini juga memberikan memori luar biasa karena kita bisa menikmati makan pagi sambil menyaksikan pemandangan kesibukan pelabuhan Baubau dan lansekap laut selat Buton. Hotel Adios juga menawarkan pemandangan senja yang menakjubkan, setiap hari, kecuali saat mendung gelap. Di sini saya seringkali terkesima dengan pemandangan senja yang selalu spektakuler setiap harinya.
View Dari Hotel Villa Adios Baubau


Kota Baubau dan sekitarnya mempunyai beberapa obyek wisata baik wisata sejarah maupun wisata alam. Berikut ini beberapa obyek wisata yang pernah saya kunjungi saat berada di Baubau
Benteng Keraton Buton
Kota Baubau mempunyai peninggalan sejarah yang patut dibanggakan. Peninggalan sejarah ini berupa benteng yang berukuran luar biasa besar. Saking besarnya, di dalam komplek benteng ini terdapat pemukiman penduduk yang lumayan padat. Benteng ini sangat megah dan kokoh. Pada beberapa bagian, tembok benteng dibangun menjulang tinggi dengan dilengkapi meriam untuk membuat gentar musuh yang akan menyerang.
Benteng Keraton Buton


Meriam dan View Kota Baubau


Di dalam komplek benteng ini juga terdapat istana atau Keraton Buton. Bangunan keraton ini sangat khas dan menampilkan kekayaan budaya Buton. Selain itu di komplek benteng ini juga terdapat sebuah masjid yang sangat bersejarah. Tampilan masjid ini mungkin sederhana jika dilihat dari perspektif masa kini, namun pada masanya, bahkan hingga saat ini,masjid ini masih terlihat anggun, kokoh dan megah. Tak salah jika tempat ibadah ini menjadi kebanggaan masyarakat Baubau.

Masjid Kesultanan Buton
Pantai Nirwana
Kota Baubau mempunyai sebuah pantai yang sangat cantik yakni pantai Nirwana. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Baubau. Daya tarik utama dari pantai ini adalah pasirnya yang putih dan lembut. Selain itu gelombang air laut di pantai ini sangat tenang dan pantainya tidak terlalu dalam sehingga aman untuk digunakan berenang. Menghabiskan senja di tempat ini juga patut dicoba karena pemandangan matahari terbenam di tempat ini sangat indah.
Pasir Putih dan Laut Tenang di Pantai Nirwana


Senja di Pantai Nirwana


Bukit Wantiro.
Lansekap di bukit ini ditandai dengan tulisan Baubau berukuran besar yang dapat terlihat dari jarak yang sangat jauh. Di bukit ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan senja yang spektakuler hasil perpaduan gugusan pulau, laut yang tenang dan suasana sore yang menyenangkan. Di bukti ini pengunjung dapat juga menikmati pisang goreng hangat dan minuman sarabba di bukit yang indah ini. Selalu mengesankan menghabiskan waktu senja di Wantiro Baubau.
Little Wantiro


Pesona Senja Dari Bukit Wantiro


Ngkari-Ngkari atau kampung Bali.
Ngkari-Ngkari adalah wilayah transmigrasi yang dihuni oleh pendatang yang berasal dari Bali. Warga transmigran ini masih kental memegang adat dan budaya Bali yang terlihat dari banyaknya bangunan dan tempat ibadahnya yang khas. Di tempat ini juga terdapat areal persawahan luas yang subur dan ditata dengan rapi serta instagrammable.
Kampung Bali di Ngkari-Ngkari Baubau
Selain obyek-obyek wisata di atas, masih banyak lokasi yang bisa dikunjungi pada saat berada di Baubau antara lain: Pantai Kamali, lokasi pusat keramain kota Baubau dengan patung naganya yang ikonik; Air terjun tirta Rimba, air terjun yang tidak terlalu tinggi namun lokasinya menenangkan karena berada di tengah hutan yang sunyi; Pantai Jodoh; Pantai yang kini masuk wilayah kabupaten Buton Selatan.
Ikon Kota Baubau di Pantai Kamali


Pantai Jodoh


Air Terjun Tirta Rimba

Selasa, 19 Mei 2020

Catatan dan Kesan Semasa Bertugas di Bumi Anoa: Edisi Kolaka Utara

Penugasan sebagai abdi negara di daerah merupakan sebuah peluang untuk dapat menjelajahi pelosok negeri. Kesempatan ini tidak didapat oleh semua orang bahkan oleh sesama abdi negara sekalipun. Agar pengalaman saat bertugas di daerah tetap terdokumentasikan, berikut ini saya sajikan catatan perjalanan atau kesan saat saya menjalankan penugasan ke daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Edisi kali ini adalah Kabupaten Kolaka Utara. 
Kawasan Masjid Agung Kolaka Utara
Kabupaten Kolaka Utara adalah kabupaten di daratan pulau Sulawesi dengan jarak dan waktu tempuh terjauh dari ibukota provinsi. Dibutuhkan waktu sekitar 6 hingga 7 jam perjalanan darat dari Kendari untuk sampai ke ibukota kabupaten ini yakni Lasusua. Untuk dapat sampai ke Lasusua, pengguna kendaraan harus melewati wilayah Kolaka. Jalan penghubung dari Kolaka ke Lasusua didominasi perjalanan naik turun bukit dengan kelok-kelok tajam dengan badan jalan yang berukuran sempit. Pada saat awal berkunjung ke Lasusua, kualitas jalan penghubung masih buruk dan fasilitas pendukung kelengkapan dan keamanan jalan masih sangat minim. Namun saat saya terakhir mengunjungi kabupaten ini sudah terlihat kemajuan pesat terkait faktor keamanan dan kenyamanan berkendara.
Jalan Berkelok dengan Kualitas Bagus

Melewati Areal Perkebunan dan Kawasan Hutan

Hampir setiap tahun saya dikirim tugas ke kota ini. Dengan demikian saya bisa menyaksikan progress pembangunan infrastruktur dan ekonomi di daerah ini. Disamping itu, perjalanan saya ke ibukota kabupaten paling utara di Sulawesi Tenggara ini selalu mengesankan karena saya dapat menikmati pemandangan hamparan laut dari ketinggian perbukitan sambil merasakan sejuknya hawa kawasan perbukitan yang sebagian besar masih ditumbuhi pepohonan tinggi dan rindang.
Jika beruntung, akan mendapatkan pemandangan senja yang menakjubkan 
Kesan saya, Lasusua adalah kota kecil yang rapi dan sejuk yang berkabut pada setiap pagi. Rapinya kota ini akan terlihat jelas jika dilihat dari kantor Bupati Kolaka Utara yang letaknya sangat strategis, yakni berada di atas bukti dan menghadap ke arah laut luas. Di kaki bukit, terdapat kompleks perkantoran yang diatur secara terpadu sehingga koordinasi dan akses antar instansi dapat dilakukan dengan mudah.
Salah Satu Sudut Kawasan Terpadu Perkantoran Pemkab Kolaka Utara
Satu hal yang membuat saya kagum adalah pembangunan jalan raya berbayar untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh ke bagian utara kawasan Kolaka Utara yang dinamakan tol Lasusua-Tobaku. Jalan kembar yang dibangun diatas areal reklamasi ini sangat panjang dan kualitasnya relatif bagus. Yang menjadi nilai lebih dari jalan ini adalah pemandangan laut di sisi jalan yang luar biasa indah, terutama di kala senja.
"Tol Laut"

Beberapa Spot Yang Bisa Dinikmati

Terakhir, saya juga terkesan dengan adanya masjid yang berada di ujung kawasan reklamasi. Masjid ini berukuran masif dengan arsitektur yang mengesankan dan merupakan perpaduan dari berbagai macam kultur. Pada saat saya bertugas di Lasusua, masjid ini belum sepenuhnya selesai. Namun demikian, bangunan tempat ibadah ini sudah terlihat indah dan menawan ditunjang dengan penataan kawasan di sekitarnya yang terlihat dilakukan dengan matang.
(Bagaikan) Masjid Terapung 


Sabtu, 02 Mei 2020

Pelesir Ranah Minang: Traveling Akhir Tahun yang Mengesankan

Travelling merupakan salah satu aktivitas rekreasi yang bisa membuat pikiran menjadi lebih terbuka dan merupakan sarana melepas penat yang efektif karena rutinitas pekerjaan. Selain itu, bagi saya manfaat travelling paling utama adalah untuk semakin mengenal kekayaan budaya, sejarah  serta memperkaya pengetahuan dan pengalaman kita tentang daerah-daerah di nusantara.
Pelesir Ranah Minang

Traveling edisi kali ini mengambil lokasi di Ranah Minangkabau. Ada beberapa lokasi yang sempat saya eksplore dengan rentang jarak lokasi yang sangat jauh. Dari satu ujung ke ujung yang lain. Adapun partner traveling kali ini adalah rekan sekantor yang juga bertindak sebagai juru kemudi selama tour de Ranah Minang ini.
Saya tiba di Bandara Minangkabau pada tengah hari dalam cuaca yang cerah. Dari bandara kebanggan Sumatera Barat ini, kami mencoba moda transportasi baru untuk menuju ke Kota Padang yakni kereta bandara. Akses dari bandara menuju ke stasiun KA ini dipermudah dengan dibangunnya koridor khusus yang bagus, baru dan nyaman. Begitu juga dengan ruang tunggu keberangkatan yang dilengkapi dengan tempat ibadah dan sarana bermain anak.
KA Bandara Minangkabau
Setelah menunggu beberapa saat, KA berangkat. Kesan yang saya dapat, kereta yang melaju perlahan ini sangat nyaman dengan AC yang distel tepat. Saat itu, kereta berangkat dengan sedikit penumpang. Namun sayang kereta tiba-tiba macet di stasiun pertama. Setelah beberapa saat, kereta akhirnya dapat melaju kembali untuk kembali macet di tengah perjalanan, kali ini di lokasi yang jauh dari stasiun. Karena macetnya terlalu lama, kami akhirnya turun dari kereta untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan taksi online.
Kereta Karam :)
Sebelum beristirahat, kami sempatkan makan malam di RM Martabak Arham yang sangat popular di kota Padang ini. Disamping menu utama yakni martabak daging, menu lain yang saya pesan adalah nasi goring kambing yang lemaknya memanjakan mulut namun membuat lengket tenggorokan.
Rasa Tidak Pernah Mengecewakan
Wisata kuliner malam itu masih berlanjut. Kali ini kawasan RST yang kami jelajahi untuk menikmati durian. Mungkin karena saat itu musim hujan dan kami masih merasa kenyang, rasa durian yang kami nikmati tidak terlalu mengesankan. Tidak seperti ekspektasi kami yang mengharapkan durian dengan rasa yang benar-benar nikmat dengan tekstur buah yang tebal dan biji yang tipis.
Masih Kenyang Tapi Pengen
Keesokan harinya kami memulai menjelajahi ranah Minang tepatnya menuju ke obyek wisata Kelok Sembilan di daerah Payakumbuh. Kami berangkat pagi hari menggunakan mobil rental dalam suasana pagi yang cerah dan pemandangan segar musim hujan yang indah. Suasana jalan pagi itu tidak terlalu ramai, sehingga kami dapat menikmati pemandangan di sepanjang jalan tanpa terlalu sering dihalangi punggung truk-truk besar pengangkut barang.
Disuguhi Pemandangan Indah Sepanjang Perjalanan

Kawasan Kelok sembilan berlokasi sangat jauh dari kota Padang. Untuk menuju ke kota ini ada beberapa tempat wisata yang kami lewati seperti air terjun Lembah Anai, taman nasional Kerinci Seblat serta beberapa kota yakni Kota Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Perjalanan ini sangat mengesankan, karena kami disuguhi pemandangan hijaunya perbukitan dan rimbunnya pepohonan. Selain itu udara yang kami hirup juga segar terutama saat mobil kami melaju di kawasan pegunungan. Saya salut dan mengagumi bagaimana masyarakat minang menjaga dan melestarikan alamnya. Seandainya semua warga Indonesia memperlakukan bumi sebagaimana orang minang, saya yakin tingkat kerusakan alam karena keserakahan di bumi Indonesia akan berada pada tingkat yang rendah.

Banyak Scene Iconic Tersaji
Sebelum kami sampai di kelok sembilan saya sempat berdiskusi sebentar dengan partner yang menyarankan agar sebaiknya mampir dulu di Lembah Harau, sebuah obyek wisata alam yang indah. Saya setuju karena lokasinya tidak jauh dari Kelok Sembilan.
Lembah Harau tidak Hanya Ini
Dari kejauhan Lembah Harau tampak bagaikan sebuah lahan yang luas yang dibatasi oleh benteng terjal yang memanjang dan berselimut kabut tebal, sebuah pemandangan yang sungguh menakjubkan. Di beberapa titik, terlihat air terjun yang tinggi yang menyalurkan air dari atas bukit ke lembah dibawahnya. Menyusuri jalan di bawah bukti di kawasan ini memunculkan experience tersendiri karena nuansa bumi basah selepas hujan ditambah dengan pemandangan menakjubkan merupakan pengalaman yang tidak saya sangka sebelumnya. Kami sempatkan untuk berhenti di sebuah air terjun berukuran besar dengan debit air yang deras. Saya tidak tahu nama air terjun ini tapi saya sangat menikmati hempasan air terjun ini yang jangkauan percikannya cukup jauh. Selain menikmati pemandangan air terjun dan dinginnya air yang menyegarkan, kami juga menikmati pisang goreng kipas dari penjual setempat. Nikmat walaupun sudah tidak lagi hangat.
Satu Dari Banyak Air Terjun di Lembah Harau
Been There

Dari Lembah Harau kami melanjutkan ke lokasi tujuan utama kami hari itu yakni Kelok Sembilan. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Lembah Harau, dengan melewati kawasan hutan lebat dan jalanan yang kualitasnya bagus dan mulus. Sekitar 20 menit dari Lembah Harau, kami sampai di Kelok Sembilan, sebuah mahakarya arsitektur yang tidak hentinya membuat saya kagum. Sejak awal titik pendakian kendaraan, saya merasa bangga bahwa anak bangsa mampu membuat karya konstruksi semegah dan semasif ini. Salut untuk para perancang, pembangun dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan megaproyek ini.  Kelok 9 ini merupakan jalur pengganti dari jalur asli yang tingkat kecuraman dan kesulitannya sangat tinggi. Dengan adanya jalur baru ini, angkutan penumpang dan barang dapat melintas dengan lebih mudah dan aman.
Mahakarya Infrastruktur di Jalur Utama Padang-Pekanbaru


Kemegahan Karya Anak Bangsa di Kelok Sembilan

Jalur Asli Kelok Sembilan, Curam dan Terjal

Cuaca di Kelok Sembilan saat itu mendung dengan hembusan angin yang tidak terlalu kencang. Cuaca dan sejuknya udara saat itu menjadikan suasana Kelok Sembilan terasa istimewa. Selain kami, ada banyak pengunjung yang berhenti di beberapa sisi Kelok Sembilan terutama di warung-warung yang banyak tersedia di beberapa sisi jalan.
Perpaduan Sempurna Cuaca Dingin, Perut Lapar dan Makanan Nikmat
Sesudah beberapa lama berada di lokasi ini kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota Padang. Sebelumnya kami sempatkan untuk makan siang di sebuah kedai dengan sajian khasnya ikan goreng dan rambak kuah bumbu. Dalam perjalanan pulang, kami juga sempat melewati kota Bukittinggi dan numpang sholat di sebuah masjid di kota ini.
Menunaikan Ibadah Selagi Sempat
Syukurlah perjalanan kami lancar hingga sampai di kota Padang. Sebelum istirahat, kami sempatkan untuk makan malam di kedai Soerabi Enhai. Makan malam yang nikmat dengan porsi yang terlalu banyak.
Keesokan harinya kami melanjutkan explore Ranah Minang. Awalnya saya kira jalur menuju kawasan Mandeh adalah jalur landai seperti kawasan pantai utara Jawa. Namun perkiraan saya salah, kami disuguhi pemandangan kawasan perbukitan yang rimbun, hijau dan indah serta kawasan persawahan yang menyegarkan dipandang. Saya semakin salut dengan masyarakat Minang, karena hampir semua warga dan wilayah mengelola alam dan lingkungan dengan baik.
Jajaran Perahu Nelayan di Mandeh
Kami memasuki kawasan Mandeh dari sisi selatan. Karena tidak paham lokasi kawasan ini, kami berhenti ketika ada calo parkir yang melambai kepada mobil kami untuk berhenti. Kami pun berhenti karena ada spot foto bagus di daerah situ. Kami tidak tahu dan lupa bertanya nama spot ini, yang kami tahu pemandangan di lokasi ini sangat strategis. Ada hamparan laut luas yang biru serta sekumpulan  kapal nelayan yang rehat dari kegiatan melaut. Dari spot ini kami juga dapat menikmati pemandangan kontur perbukitan Mandeh dan jalur jalan yang meliuk-liuk melintasi sisi bukit. Di spot ini terdapat beberapa penjual makanan dan minuman serta kursi-kursi yang ditata dengan menghadap ke laut. Kami memesan minuman dan duduk menghadap ke laut untuk menikmati pemandangan dan suasana Mandeh.
Menyaksikan Mandeh Dari Ketinggian

Posisi Strategis Untuk Menyaksikan Keindahan Mandeh
Cukup lama kami berada di spot ini karena memang pemandangan yang ditawarkan benar-benar indah. Dari spot ini kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kota Padang. Infrastruktur jalan di kawasan ini sangat mulus dan bagus namun sangat curam. Perlu skill mumpuni untuk bisa melahap jalur ini dengan mengendarai mobil.
Spot Keren Mandeh, Jalan di Sisi Tebing Dengan View Laut 
Di luar dugaan saya, ternyata kawasan Mandeh ini sangat luas. Ada banyak sekali spot wisata dengan berbagai  jenis view yang ditawarkan, baik berupa bukit, pantai maupun tepian jalan. Kami sempat spontan berhenti di sebuah pantai yang tidak terlalu luas namun lautnya tenang dan pemandangannya tak kalah indah. Suasananya menyenangkan dan menenangkan karena tidak banyak pengunjung yang datang.
Sebuah Pantai di Kawasan Mandeh
Dari kawasan Mandeh kami berhenti untuk makan siang di RM Keluarga yang terkenal dengan menu gulai kepala ikannya, Gulai kepala ikan ini sangat istimewa dan nikmat. Pas dinikmati pada saat perut sedang dalam kondisi mengenaskan seperti pada saat itu.
RM Keluarga dengan Menu Utama Gulai Kepala Ikan

Kembali ke Kota Padang, kami lanjut menuju ke Masjid Raya Sumatera Barat. Masjid dengan bangunan yang unik dan indah ini membuat saya terkesima. Interior masjid ini seperti didesain agar para jamaah betah dan khusyuk beribadah didalamnya. Selain itu terlihat pembangunan masjid ini sudah menerapkan teknologi tinggi sehingga dapat menghemat daya listrik yang dikonsumsi. Masjid yang sangat megah ini dilengkapi dengan taman yang indah serta lahan parkir yang luas. Ada juga beberapa bangunan pelengkap yang menjadikan kawasan masjid ini menjadi multifungsi untuk pemberdayaan umat.
Masjid Raya Sumatera Barat

Interior dan Mihrab Masjid Raya Sumbar

Selepas mengagumi masjid kebanggaan masyarakat Sumatera Barat di Kota Padang ini, kami menuju ke lokasi terakhir hari itu yakni pantai Muaro Lasak kota Padang. Saat itu hari sudah sore menjelang senja. Banyak warga yang memadati kawasan itu sambil menikmati berbagai macam makanan yang dijajakan oleh para penjual makanan. Cuaca saat senja kala itu tidak terlalu bagus, mendung tebal menutupi pemandangan di arah barat, arah dimana matahari akan tenggelam berganti malam. Tidak terlalu lama kami berada di sini, karena tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya membuat para pengunjung pantai kocar-kacir berlindung dari kebasahan.
Senja Berselimut Awan Sebelum Hujan Deras Menerpa
Dari pantai ini kami selanjutnya mengembalikan mobil rental dan lalu menuju ke Bandara untuk kembali ke ibukota. Satu kisah lagi yang ingin saya tambahkan adalah kengerian saya saat terbang dalam kondisi cuaca yang tidak baik. Di luar pesawat, petir saling menyusul menciptakan kilatan cahaya yang membuat bergidik ngeri. Syukurlah sampai pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta, tidak ada insiden berbahaya yang menimpa pesawat dan penerbangan kami.
Pelesir Minangkabau Akhir Tahun 2019

Kami beruntung dapat melakukan adventure di ranah Minang dengan mengunjungi banyak lokasi tanpa ada halangan berarti. Hal ini merupakan suatu anugerah yang sepatutnya selalu saya syukuri. Semoga nantinya saya masih banyak berkesempatan mengunjungi dan mengeksplor lokasi baru dan menambah pengalaman serta cerita yang bisa saya bagikan. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi dan semoga tidak membuat orang lain menjadi iri.

Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...