lukmanmohdluck
aktualisasi diri di dunia maya
Selasa, 17 Desember 2024
Museum Tsunami: Bukti Kedahsyatan Bencana Tsunami 2004
Rabu, 04 Desember 2024
Museum Aceh: Museum Yang Sangat Rekomended untuk Diexplore
Berbicara mengenai museum di Aceh, perhatian kita mungkin hanya akan tertuju pada museum Tsunami, Padahal ada lagi museum yang menurut saya menampilkan koleksi dan pengetahuan yang tidak kalah jika dibandingkan dengan Museum Tsunami. Museum yang saya maksud adalah museum Aceh.
Museum ini terletak di Jalan Sultan
Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Kec. Baiturrahman Banda Aceh. Akses museum ini
cukup mudah dijangkau karena masih masuk dalam wilayah Kota Banda Aceh. Untuk
masuk ke museum ini, pengunjung hanya perlu membayar Rp3.000 saja. Sangat murah
jika dibandingkan dengan kesempatan pengunjung untuk dapat melihat koleksi dan
pengetahuan yang dipunyai museum ini. Dikutip dari situs Museum Aceh, museum ini didirikan pada tanggal 31 Juli 1915 dengan nama
Atjeh Museum. Proses pendirian museum ini dipimpin oleh F.W.Stammeshous. Adapun peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Sipil dan Militer Jenderal Belanda H.N.A. Swart. Setelah Indonesia
merdeka, operasional Museum ini secara bergantian dikelola oleh Pemerintah Daerah
Tk. II Banda Aceh (1945-1969), Badan
Pembina Rumpun Iskandar Muda (Baperis) (1970-1975), Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan (1976-2002) dan saat ini dikelola dan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh. Sampai
dengan tahun
2019, Museum Aceh memiliki jumlah koleksi mencapai 5.328 benda budaya dari berbagai jenis dan 12.445
buku dari berbagai judul yang berisi aneka macam ilmu pengetahuan. Kesan pertama saya saat memasuki area museum ini adalah penataan yang rapi dan terawat serta megah. Ada beberapa gedung dalam area museum ini dan nampaknya kesemua gedung tersebut dioptimalkan penggunaannya.
Salah satu bangunan yang menyita perhatian
saya adalah Rumoh Aceh. Bangunan ini merupakan bentuk rumah atau bangunan khas
aceh yang berukuran besar dan ditopang oleh kayu-kayu pada bagian bawahnya.
Rumoh Aceh memiliki karakteristik warna-warni yang mencolok perpaduan antara
warna dominan hitam serta motif warna merah dan kuning serta putih. Sayangnnya
waktu itu bangunan ini sedang dalam tahap renovasi sehingga pengunjung belum
dapat mengakses bagian dalam Rumoh Aceh ini. Beralih ke bangunan utama museum, ada ruang
pameran tetap yang terdiri atas beberapa bagian yakni Bustan Dunia, Bustan
Assalatin, Bustan Syuhada dan Bustan Budaya. Pada bagian Bustan Dunia
menginformasikan kekayaan alam dan fauna yang ada di Aceh. Ada banyak hewan dan
tumbuhan dari wilayah Aceh yang telah diawetkan yang dipamerkan di sini.
Bagian ke dua adalah Bustan Assalatin. Di bagian ini diinformasikan mengenai keadaan Aceh pada masa kerajaan Aceh Darussalam. Terdapat beberapa koleksi yang dipamerkan diantaranya maket kerajaan dan wilayah sekitarnya, gambaran peta kerajaan, baju kebesaran Sultan, replika cungkup makam sultan maupun pembesar kerajaan dan koleksi-koleksi lainnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah koleksi beberapa kitab yang merupakan karya asli ulama Aceh maupun kitab terjemahan dari bahasa asing. Koleksi kitab ini masih tersimpan dan terawat dengan baik di museum ini.
Di bagian lain pada Bustan Assalatin ini
ada koleksi gambar maupun foto Sultan dan Sultanah yang memerintah Kesultanan
Aceh Darussalam. Salah satu gambar Sultanah yang dipamerkan adalah Ratu
Safiatuddin yang menjadi Sultanah karena menggantikan suaminya yang wafat. Hal
ini sempat membuat kontroversi karena dianggap bertentangan dengan hukum Islam.
Namun demikian Sultanah ini dapat memimpin kerajaannya dengan baik.
Beralih ke lantai 3 atau Bustanul Assyuhada, saya mendapatkan kesan bahwa museum ini sudah dikelola secara modern dan sangat baik. Tampilan koleksinya sangat informatif dan membuat pengunjung menjadi tertarik untuk mengeksplore baik koleksi maupun informasi yang dikandungnya. Di bagian ke tiga dari gedung museum ini, dipamerkan koleksi tentang foto-foto para tokoh dan pahlawan Aceh dalam perjuangan melawan penjajah. Tidak hanya itu, dipamerkan pula senjata-senjata yang digunakan dalam perang tersebut, baik senjata para pahlawan maupun para penjajah yang berniat menguasai Aceh. Ada senjata berupa pedang, senapan maupun Meriam. Koleksi lain pada Bagian ini adalah deretan para pahlawan wanita Aceh. Ada beberapa pahlawan yang sudah sangat familiar bagi kita seperti Cut Meutia, Cut Nyak Dien dan Laksamana Malahayati dan ada juga yang mungkin kita belum pernah mendengar namanya seperti Tengku Fakinah (Ahli Benteng), Pocut Meurah Beheue (Panglima Perang Lasykar Rakyat), Pocut Baren. Di sisi lain, ada juga foto-foto panglima kolonial Belanda yang pernah menginvasi dan menjajah Aceh beserta dengan deskripsi singkatnya. Beralih ke lantai paling atas dalam museum ini adalah Bustan Budaya. Dalam bagian terakhir ini, dipamerkan kekayaan budaya Aceh diantaranya benda-benda kerajinan, peralatan sehari-hari, perhiasan dan pakaian khas Aceh. Di tempat pameran pakaian khas pernikahan ini saya baru mengetahui bahwa di Aceh ada 7 etnis atau suku yang mendiami wilayah Aceh di antaranya: Aceh, Tamiang, Singkil, Kluet, Gayo, Aneuk Jame, dan Aceh Tenggara. Ragam pakaian khas Aceh ini sangat unik, berwarna-warni dengan corak yang penuh makna.
Dari lantai empat gedung pameran ini saya
melanjutkan explore museum ke gedung sebelah. Di depan gedung tengah ini
terdapat 4 maket Masjid Raya Baiturrahman dari masa ke masa. Mulai dari maket
pada saat Masjid baru berdiri hingga beberapa kali pemugaran dan terakhir
setelah masjid ini dilanda gempa dan tsunami dahsyat pada Tahun 2004. Sebenarnya masih ada satu lagi gedung pameran yang ada di area museum ini, namun saat itu sedang tidak melayani pengunjung karena sedang dilakukan penataan ulang. Semoga di lain kesempatan ada waktu untuk explore lebih jauh museum ini.
Saya merasa beruntung karena bisa
berkunjung ke museum ini. Saya juga merasa gembira karena sejarah dan
peninggalan dari zaman yang telah lalu dapat diabadikan sehingga generasi
penerus dapat belajar dan menghargai sejarahnya. Semoga daerah-daerah lain juga
dapat membuat dan melestarikan museum semacam ini karena banyak generasi muda
yang tidak mengetahui sejarah dan peninggalan serta kekayaan budaya yang
berasal dari daerahnya. |
Minggu, 10 November 2024
Kerkhof Peucut Aceh: Makam Putera Raja dan Kuburan Masal Warga Belanda pada Masa Kolonial
Aceh mempunyai banyak sekali lokasi wisata sejarah. Dari sekian lokasi wisata sejarah tersebut ada Kerkhof Peucut Aceh sebagai lokasi yang menjadi saksi sejarah dari masa kolonial. Lokasi Kerkhof Peucut Aceh ini bersebelahan dengan Museum Tsunami Aceh dan tidak jauh dari pusat kota Banda Aceh. Tentunya lokasi ini sangat strategis dan mudah untuk dicapai.
Sekali lagi saya merasa beruntung bisa mengexplore lokasi-lokasi wisata di Aceh, terutama lokasi wisata sejarah. Awalnya saya tidak mempunyai rencana untuk mengexplore lokasi ini, namun ketika saya berada di museum Tsunami dan melihat ada jajaran nisan bergaya Belanda di sisi museum, saya mencoba mencari akses yang bisa dilalui untuk menuju ke pemakaman masal ini. Dan ternyata ada akses jalan yang bisa digunakan untuk mempersingkat perjalanan dari museum ke Kerkhof ini.
Di bagian depan pemakaman ini terdapat gapura
bergaya arsitektur Eropa yang megah dengan dinding-dindingnya bertuliskan
nama-nama orang yang dikuburkan ditempat ini. Di sisi paling kiri gapura
tertulis nama-nama warga Belanda yang meninggal pada tahun 1873. Berturut-turut
di sisi kanannya terdapat nama-nama dari warga Belanda yang dikuburkan di tahun-tahun
berikutnya. Yang luar biasa dari area pemakaman ini adalah begitu rapinya catatan dan nama-nama warga atau prajurit Belanda yang dikuburkan di sini. Nama-nama tersebut dituliskan berdasarkan tahun pemakamannya. Tidak hanya nama-nama khas Belanda saja yang dimakamkan di tempat ini. Saya melihat ada banyak nama-nama khas nusantara tertulis dalam prasasti di tembok gerbang pemakaman ini. Dari literature yang saya baca, nama-nama londo ireng tersebut merupakan tentara bayaran yang menjadi kaki tangan tentara kolonial dalam memerangi perlawanan rakyat Aceh. Di gerbang ini juga terdapat tahun-tahun kejadian peristiwa penting diantaranya perang-perang yang terjadi selama masa kolonial seperti Missigit Rawa, Lemboek, Longbattam hingga peristiwa Tsunami tahun 2004. Selepas dari gerbang utama Kerkhof Peucut, saya melihat hamparan nisan berbagai ukuran dan ornament berjajar rapi. Ada nisan yang berbentuk salib sederhana, dan ada juga nisan yang berukuran besar dilengkapi dengan patung-patung malaikat kecil bersayap. Pada nisan-nisan tersebut terdapat nama-nama yang dimakamkan beserta tahun meninggalnya.
Salah satu tokoh penting dari kolonialis Belanda yang dimakamkan di area ini adalah Generaal Majoor J.H.R Kohler. Pemimpin pasukan Belanda ini tewas ditombak oleh pejuang Aceh di dekat Masjid Raya Baiturrahman. Makam J.H.R kohler terletak di dekat gapura/gerbang dengan berbentuk tugu segi empat yang masing-masing sisinya tertulis beberapa keterangan.
Pengunjung yang mau ke sisi-sisi ujung dari
area pemakaman ini dapat menyusuri area pedestrian dari paving blok yang
berukuran lebar. Berdasarkan pengamatan saya ada 2 lajur besar yang bertemu
ditengah-tengah area pemakaman dan beberapa lajur kecil dalam area ini. Di
tengah-tengah area pemakaman atau pertemuan diantara dua lajur besar terdapat
sebuah tugu yang berukuran besar dengan beberapa tulisan berbahasa Belanda yang
saya tidak tahu artinya. Tugu berukuran besar tidak hanya berjumlah satu, ada
lagi sebuah tugu yang ukurannya kurang lebih sama besar yang terletak di ujung
lokasi pemakaman. Semakin jauh ke arah bagian belakang pemakaman, semakin
rimbun pepohonan yang merindangi.
Saat saya meng-eksplore lokasi ini, cuaca sedang panas menyengat dan kebetulan tidak ada pelindung dari cahaya matahari. Untungnya di beberapa titik terdapat pohon berukuran besar yang dapat dipakai oleh pengunjung untuk berteduh sambil menikmati semilir angin.
Di antara nisan-nisan tersebut ada hiasan
taman dengan bunga-bunga yang terawat cantik. Ketika itu ada pengelola
pemakaman ini yang sedang merapikan bunga-bunga. Tampaknya memang taman ini
dirawat secara rutin. Sebenarnya ada satu situs cagar budaya di dalam komplek pemakaman Kherkhof ini yang bernilai sejarah tinggi. Sayangnya waktu itu karena saya tidak mempunyai rencana dan gambaran tentang pemakaman ini, sehingga saya melewatkannya. Situs ini adalah Makam Meurah Pupok. Di situs ini dimakamkan Putera Raja bernama Meurah Pupok atau dipanggil Peutjut yang merupakan putra kesayangan Sultan Iskandar Muda. Karena puteri kesayangan ini melakukan dosa besar, sang Raja menjatuhkan hukuman sesuai syariat Islam dengan melakukan rajam dan kemudian memakamkannya di tempat ini.
Berkunjung ke Kerkhof Peucut merupakan salah satu wisata sejarah yang dapat memperkaya wawasan kita tentang bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kemerdekaannya dari para kolonial yang ingin menguasainya. Selain itu, berdasarkan nama-nama yang tertera pada catatan di dinding gerbang, kita juga dapat menyaksikan bahwa ada sesama anak bangsa di Nusantara yang bergabung dengan tentara kolonial untuk menaklukan saudaranya sendiri.
|
Menara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh: Sensasi Vertigo di Serambi Makkah
Dalam blog Masjid Raya Baiturrahman, saya telah menuliskan bagaimana kesan dan kekaguman saya terhadap masjid yang menjadi kebanggaan warga Aceh dan Indonesia ini. Di blog kali ini, saya ingin menceritakan kesan dan pengalaman saya pada saat mengexplore Menara Masjid Raya Baiturrahman.
Di blog sebelumnya, lebih banyak dibahas tentang tentang bangunan-bangunan utama Masjid seperti kubah, tiang dan ornamen serta kaligrafi di dalam masjid. Satu bangunan lagi yang belum saya bahas lebih panjang di area Masjid Raya Baiturrahman ini adalah menaranya yang menjulang tinggi. Menara ini sangat megah dan gagah serta menjadi lansekap yang dapat dilihat dari berbagai sudut kota karena ukuran ketinggiannya.
Menara ini terdiri
dari bangunan dasar dan tiga jenjang serta satu buah kubah di bagian paling
atasnya. Pada masing-masing jenjang terdapat akses ke luar yang dibatasi dengan
pagar. Ornamen luar dari menara ini adalah tatanan marmer berwarna krem dengan tiang-tiang
penyangga berwarna putih. Di dalam menara ini terdapat fasilitas lift untuk akses menuju ke lantai atas. Karena fasilitas lift hanya dibuka pada pagi dan siang hari, keesokan harinya saya kembali ke masjid ini khususnya untuk dapat melihat pemandangan masjid dari atas menara. Sebagai informasi, menara masjid raya Baiturrahman dapat diakses oleh masyarakat umum atau jamaah dengan membayar biaya sebesar Rp15.000. Setelah melakukan pembayaran kita dapat menggunakan lift yang akan mengangkut kita ke lantai 7 dimana terdapat tempat khusus bagi pengunjung untuk dapat menyaksikan pemandangan luar biasa kota Banda Aceh dan sekitarnya dari ketinggian. Tempat khusus ini berupa anjungan empat sisi yang bisa diakses oleh pengunjung. Anjungan pantau ini dilengkapi dengan pagar besi dan pelindung serupa kurungan yang menjaga agar tidak ada pengunjung yang terjatuh atau menjatuhkan diri dari atas menara. Selain itu ada juga beberapa kursi yang disediakan bagi pengunjung yang ingin beristirahat sejenak di atas menara.
Yang saya rasakan ketika pertama kali keluar
dari lift di lantai 7 menara ini adalah hembusan angin yang sangat kuat menerpa menara ini.
Saking kuatnya hembusan angin, saya seperti merasa bahwa menara ini seperti
bergoyang. Parahnya lagi, saya juga merasakan vertigo saya kambuh
sehingga membuat saya seperti oleng ketika melihat ke bawah. Walaupun dalam
kondisi yang kurang sehat, saya memaksakan diri untuk tetap mengabadikan
pemandangan masjid Raya Baiturrahman dari ketinggian. Karena dari lokasi ini
lansekap masji dapat diabadikan dengan sempurna. Hampir semua sisi dapat
terekspose di dalam gambar. Gedung atau bangunan ikonik di Banda Aceh juga dapat dinotice dengan mudah. Contohnya, museum Tsunami, Gedung Kodam, dan Gedung DPRK Banda Aceh. Tidak hanya itu, pemandangan alam berupa pegunungan
dan hamparan laut serta sisi pantai juga dapat dilihat dari titik ini. Karena lokasi menara yang cukup tinggi. Setelah sekitar 15 menit berada di lokasi pandang menara dan merasa cukup mengambil gambar lansekap Banda Aceh dan sekitarnya saya memutuskan untuk turun kembali ke lantai dasar. Alhamdulillah walau dalam kedaan vertigo saya bisa mewujudkan keinginan saya melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian.
Demikian blog singkat ini menuliskan tentang menara Masjid Baiturrahman. Semoga lain kali
kalau ada kesempatan ke Aceh lagi, saya berkesempatan untuk dapat menyaksikan
pemandangan Masjid Raya Baiturrahman dan Kota Banda Aceh dengan kondisi lebih
baik. Karena jarang-jarang ada puncak menara yang dapat diakses oleh pengunjung
untuk menikmati suasana kota seperti di tempat ini. |
Jumat, 08 November 2024
Naik Juragan 99, Bus Dengan Pelayanan Excellent
Jika anda warga Malang atau Surabaya yang bekerja di Jakarta dan sebaliknya, setidaknya anda harus menyempatkan mencoba naik Bus Juragan 99. PO ini menawarkan pelayanan kelas atas bagi penumpangnya. Secara tarif memang perjalanan menggunakan bus ini lebih mahal, namun itu sangat sebanding dengan pelayanan dan kenyamanan yang diberikan. Berikut adalah pengalaman saya saat menggunakan jasa bis dari PO ini yang menjadikan saya berani merekomendasikan bus ini sebagai moda transportasi dari Malang atau Surabaya menuju Jakarta dan sebaliknya.
Saya menggunakan jasa PO ini saat pulang ke Malang
pada 6 November 2022. Harga tiket saat itu adalah Rp555.000 yang saya beli
menggunakan aplikasi Redbus.id. Dibandingkan dengan harga tiket bus di PO
lainnya, selisih harganya lumayan banyak. Sebagai perbandingan, harga tiket
PO Haryanto tidak sampai Rp400.000. Namun demikian nampaknya ada layanan
lebih yang menjadikan tiket PO bus ini seringkali ludes terutama pada saat
weekend atau hari libur nasional. Perjalanan saya dimulai dari terminal bayangan
Pondok Pinang di Jakarta Selatan. Saya datang lebih awal dari jadwal
keberangkatan untuk menghindari keterlambatan kedatangan. Tepat pukul 7.20
WIB, bus telah datang dan stand by di terminal dan siap untuk diberangkatkan
sesuai jadwal yakni pukul 7.45 WIB. Tampilan dari bus ini sangat mewah dan
terlihat menonjol dibandingkan dengan bus-bus lainnya di terminal pada pagi
itu. Livery perpaduan antara hitam dan merahnya sangat elegan. Terlihat bahwa
pemilik PO ini tidak main-main dengan tampilan dan kesan yang ingin
dibawakan. Pukul 7.44 WIB bus diberangkatkan. Dari Terminal Pondok Pinang, hanya sedikit penumpang yang diangkut. Saya pun bisa melihat-lihat dan memfoto interior bis ini dengan leluasa. Tidak hanya tampilan luarnya yang diperhatikan, interior dan penataan di dalam bus ini juga sangat tertata apik, bersih, rapi, fungsional dan mewah. Kursi penumpang kelas Dream Class berkonfigurasi 1 1 1. Artinya ada 3 kursi dalam satu baris namun masing-masing kursi dipisahkan oleh space untuk mobilitas penumpang.
Kursi penumpang dalam bus ini berwarna coklat gelap dengan berbagai macam aksesoris tambahan yang fungsional seperti, meja makan lipat, tombol leg rest dan sandaran kursi yang serba otomatis. Canggih sekali. Di tiap-tiap kursi disediakan selimut dan bantal serta satu paket handy bag berisi berbagai macam makanan ringan, air mineral, serta satu buah head set.
Selain itu ada pula hiburan AVOD
(audio video on demand) yang bisa dipakai untuk menonton video, mendengarkan
music, dan bermain game. Fasilitas lain adalah dispenser dengan berbagai
macam minuman sachetan siap bikin. Selain itu sebagaimana layanan wajib bagi
bis layanan premium jarak jauh, dalam bis ini tersedia toilet yang terletak
di dek bawah. Berikutnya, untuk penumpang yang hobi merokok, disediakan
tempat khusus di deck bawah tepatnya di dekat toilet. Pukul 07.58 perjalanan sampai di terminal Pulogebang. Di terminal ini ada banyak sekali penumpang yang naik namun masih belum semua penumpang memenuhi kursi. Setelah berhenti sekitar 5 menit, perjalanan dilanjutkan kembali untuk menuju titik pengambilan penumpang berikutnya di Kota Bekasi. Setelah mengambil penumpang di Bekasi perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalan tol Jakarta Cikampek. Sampai dengan saat ini, perjalanan terasa sangat nyaman. Dari sisi maneuver, walau jenis busnya setara double decker, saya tidak merasakan limbung saat bus melakukan akselerasi kecepatan ganti haluan mendadak. Dari sisi kenyamanan di dalam bus, walau suhu di dalam sangat dingin, penumpang sudah mendapatkan selimut yang tebal dan lebar. Selain itu, karena saya mendapatkan kursi di samping jendela, saya mendapatkan view yang leluasa untuk mendapatkan pemandangan di sepanjang perjalanan. Saya benar-benar merasa beruntung dalam perjalanan ini.
Pukul 07.10 adalah waktunya para penumpang mendapatkan servis makan yang berlokasi di Resto Rosin Subang. Resto ini merupakan milik PO Rosalia Indah. Di resto ini penumpang bus Juragan 99 mendapatkan layanan VIP berupa tempat duduk yang eksklusif dan dengan menu yang sudah siap saji. Sebagai informasi, sebelum perjalanan di mulai, para penumpang sudah dikonfirmasi mengenai pilihan menu makanan yang dapat dipilih. Adapun menu pilihan saya pada perjalanan ini adalah nasi rawon. Pilihan saya tidak salah, rawon dari resto ini rasanya sangat nikmat dan penuh dengan isian daging. Kira-kira 45 menit durasi yang dihabiskan untuk servis makan ini sebelum perjalanan dilanjutkan kembali.
Perjalanan siang hari menawarkan sajian pemandangan sepanjang jalur Tol Trans Jawa yang tidak akan bisa didapatkan pada perjalanan malam hari. Hamparan sawah menghijau dan pepohonan serta sesekali melewati kawasan perbukitan bisa kita lihat dengan leluasa. Kebetulan saat itu cuaca mendung di sepanjang durasi perjalanan bahkan sempat menerobos hujan deras sebanyak dua kali yakni di daerah sekitar Pekalongan dan Salatiga. Perjalanan menjadi terasa sangat syahdu, walau sesekali saya merasa ngeri dengan gelegar petir yang saling menyahut.
Dalam perjalanan ini, selain servis makan di Rosin
Resto Subang, ada juga servis snack dan istirahat sejenak di Resto Duta 3
yang terletak dekat dengan exit tol Ngawi. Dalam servis ini, penumpang
diberikan snack berupa lumpia dan lontong serta minuman yang bisa dipilih,
baik kopi atau teh. Setelah servis ini, perjalanan langsung menuju ke
lokasi penurunan penumpang yakni terminal Purabaya di Bungurasih Sidoarjo. Di
lokasi penurunan pertama ini sangat banyak penumpang yang turun. Seingat saya
lebih dari separuh penumpang turun di terminal ini. Selepas terminal
Purabaya, penurunan penumpang berikutnya adalah Indomart di dekat exit tol
Singosari pada pukul 19.45. Saya
termasuk penumpang yang turun di lokasi pemberhentian ini. Jika dihitung total durasi perjalanan maka
perjalanan ini ditempuh selama 12 jam. Wow.. cepat sekali bukan? Dengan
durasi yang lebih cepat, pastinya penumpang bisa sampai tujuan lebih cepat.
Namun demikian kecepatan tinggi tersebut membuat bus yang sangat tinggi
tersebut terasa sekali goyangannya ketika ada akselerasi mendadak. Selain di
jalan tol dengan kondisi sepi, pada saat kondisi padat pun bus tetap dipacu
kencang bahkan seringkali seset kiri. Tentunya ini cukup berisiko karena
kualitas bahu jalan tidak sebaik jalur utama jalan tol. Perjalanan dalam
kecepatan tinggi membuat kepala sedikit pusing dan badan saya terasa tidak
nyaman saat turun kendaaraan. Overall dari pelayanan super yang diberikan
oleh PO Juragan 99, hanya itulah yang menjadi catatan minus menurut saya.
Untuk perjalanan selanjutnya sebaiknya kenyamanan dan keselamatan lebih
diutamakan dari pada kecepatan. |
Mendadak Bandung
Blog kali ini merupakan catatan mendadak pelesir ke Bandung tahun 2016 lalu. Mendadak Bandung diinisiasi oleh teman yang sedang liburan dari kuliahnya di Australia. Mumpung sedang di tanah air dia mengajak temannya dan saya untuk jalan-jalan ke Bandung. Ada banyak sekali tempat wisata dan lokasi wisata kuliner yang sempat saya kunjungi saat itu. Berikut ini timeline dan rinciannya.
Kami berangkat naik travel dari Jakarta pada pukul
05.10. Dengan durasi tempuh kira-kira 2jam 20 menit kami sampai di Shutter
Cipaganti. Di sini kami menunggu kedatangan mobil rental yang kami sewa selama 3
hari ke depan. Setelah mobil rental sampai, kami langsung menuju ke lokasi
pertama dalam itinerary kami yakni Armour Café. Armour Café Kafe ini menawarkan sensasi baru dalam memanjakan pengunjungnya. Penataan kursi-kursi di antara pepohonan tinggi dan suasana sejuk serta ornament warna-warni di berbagai titik membuat kafe ini menjadi tempat yang bikin betah untuk ngobrol, ngupi-ngupi cantik atau sekedar menikmati suasana. Selain itu kafe ini sangat fotogenik. Berbagai sudutnya bisa dipakai untuk mengambil gambar-gambar yang stands out. Namun karena sudah lumayan kondang, kafe ini sangat banyak pengunjungnya dan ini membuat pencarian angle yang sempurna dalam pengambilan foto menjadi lebih susah.
Setelah dari Armour café kami menuju ke lokasi
berikutnya yakni Tebing Karaton. Perjalanan menuju Tebing Karaton cukup
menantang karena jalan aksesnya relatif sempit. Selain itu banyak sekali pesepeda
yang gowes dan uji ketahanan fisik membuat pengendara mobil harus lebih waspada ketika akan mendahuluinya. Tebing Keraton Tebing keraton menurut saya menawarkan pemandangan yang cukup seru, terutama bagi penyuka kontur pegunungan yang memadukan tebing-tebing curam pegunungan dengan rimbunnya pepohonan. Dengan lansekap seperti itu, saya dapat mengambil banyak foto dari banyak angle di lokasi wisata ini.
Akses menuju ke lokasi ini cukup mudah. pengunjung dapat berjalan kaki dari parkiran hingga ke lokasi Tebing Keraton dalam waktu relatif singkat karena jaraknya dekat dan konturnya rata. Kondisi saat itu cukup banyak pengunjung sehingga membuat agak kurang nyaman untuk berlama-lama di tempat ini. Setelah selesai berfoto-foto dan sejenak menikmati suasana, kami pun beralih menuju ke lokasi wisata berikutnya. Setelah dari Tebing Keraton, tujuan kami berikutnya
adalah Tahura Ir. Djuanda. Berdasarkan hasil eksplore kami, ada air terjun
yang berlokasi jauh di dalam Tahura ini. Namanya adalah Curug Ciomas. Karena
lokasinya sangat jauh dari pintu masuk Tahura, kami menyewa motor untuk
menyingkat waktu. Perjalanan dengan motor menuju ke arah curug Ciomas ini
sangat menantang dan berisiko karena jalanan licin dan berbatu. Jika tidak
konsentrasi penuh, pengendara motor bisa saja terjatuh atau terpeleset. Curug Ciomas Curug yang aksesnya lumayan jauh ini menawarkan suasana yang tenang di antara pepohonan tinggi dan rindang. Suara gemericik air cukup nyaring terdengar menjadikan suasana di sekitar curug ini terasa sangat alami. Bagi penyuka fotografi ada beberapa spot yang bisa dipakai diantaranya di depan air terjun. Namun sayangnya ada pagar kotak besi yang menjadikan proses pengambilan gambar menjadi kurang leluasa. Spot kedua adalah di atas jembatan yang terletak di atas air terjun. Di area Curug Ciomas terdapat banyak warung. Pengunjung dapat menikmati sajian yang dijual sambil menikmati suasana tenang dan sejuk khas pegunungan.
Dari Curug Ciomas, kami lanjut mengeksplore Taman Hutan Raya Ir. Djuanda. Dari banyak spot yang bisa dikunjungi atau dijadikan latar belakang foto, saya menyempatkan untuk eksplore museum yang ada di tengah-tengah Tahura. Ada banyak koleksi yang disimpan di antaranya hewan-hewan yang diawetkan, penghargaan/medali dari berbagai negara, infografis sejarah Tahura Ir. Djuanda, dan peninggalan-peninggalan lainnya. Menurut pandangan saya Tahura ini dan museum di dalamnya dirawat dengan baik. Semoga saja kedepannya pengelolaannya semakin baik.
Setelah mengeksplore Tahura, kami mencari lokasi yang pas buat menikmati malam sambil memandang kota Bandung dari ketinggian. Setelah beberapa kali melihat reviu dan jarak, akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke The Valley. Lokasinya cukup strategis karena berada di ketinggian yang cukup untuk bisa memandang gemerlap lampu-lampu malam. Selain menawarkan view night lights, resto ini sendiri tertata rapi dengan tenda-tenda bernuansa yurop. Lampu-lampu di kafe ini temaram dan sangat cocok untuk perbincangan akrab dan mendalam. Sayangnya harga makanan di sini cukup mahal sehingga kami tidak memesan terlalu banyak makanan atau minuman. Maklum, akhir perjalanan ini masih lama. Setelah cukup puas menyaksikan pemandangan dari tempat ini, kami pun balik ke kawasan kota untuk menuju penginapan.
Keesokan harinya pada sekira pukul 09.00, kami
berangkat menuju ke Farm House Lembang. Lokasi wisata ini menjadi salah satu
yang kami tuju karena saat itu Farm House Lembang termasuk lokasi wisata
paling popular. Farm House
Lembang Farm house Lembang merupakan lokasi wisata yang menurut saya menawarkan konsep terpadu dan lengkap. Di tempat ini hampir semua aktifitas rekreasi bisa di lakukan, mulai menyusuri bangunan-bangunan unik, berfoto-foto di miniatur rumah Hobbit, menjelajahi lintasan pedestrian yang menawarkan pemandangan cantik, atau cukup duduk santai sambil menikmati suasana. Selain itu pengunjung juga dapat bercengkerama dengan hewan-hewan lucu dan jinak seperti rusa, domba atau kelinci. Bagi pengunjung yang ingin berfoto dengan nuansa eropa jaman dulu, di tempat ini juga terdapat jasa sewa pakaian khas eropa. Jika dipadukan dengan latar belakang beberapa gedung yang bernuansa klasik, hasil foto dengan menggunakan pakaian eropa tadi akan menjadi sangat menarik.
Konsep tempat wisata seperti ini tentunya sangat
fresh dan bisa menarik banyak pengunjung. Selain masih baru, di tempat ini
wisatawan bisa melakukan banyak sekali aktifitas termasuk di antaranya wisata
kuliner. Ada banyak sekali stand yang menjual berbagai macam jajanan yang
bisa dinikmati baik secara langsung atau dibungkus untuk dinikmati kemudian.
Karena masih baru dan booming plus hari terakhir libur lebaran Farm House
Lembang pada saat itu menjadi sangat padet, crowded, sesak, dan membuat kita
kurang leluasa bermobilisasi. Sebagai lokasi wisata terpadu, tentunya Farm house
juga merupakan arena belanja yang menawarkan berbagai jenis makanan, minuman
dan oleh-oleh untuk buah tangan. Bagi saya farm house Lembang identik dengan
produk olahan susu. Ada banyak gerai yang menawarkan produk-produk dimaksud.
Bahkan tiket masuk pengunjung sudah include penukaran gratis dengan sebotol
susu dengan berbagai pilihan rasa. Puas menjelajahi dan berfoto-foto di Farm house
Lembang, kami melanjutkan explore ke lokasi wisata berikutnya yakni Floating Market. Secara jarak lokasinya tidak terlalu jauh, namun hari itu jalanan
Lembang macetnya luar biasa. Jadinya kami harus bersabar di jalan sebelum
sampai di lokasi wisata ini. Floating
Market Floating market mempunyai konsep wisata yang tak
kalah unik dimana sajian utamanya adalah sebuah danau yang berukuran luas. Di
sebagian besar sisi danau terdapat perahu kecil yang menawarkan jajanan
berbagai macam, berbagai rasa dan berbagai selera. Ada makanan seperti bakso,
lumpia, sate, tahu gejrot, bajigur, es cendol, dan lain-lain. Sepertinya
semua jenis makanan khas nusantara ada dijual di tempat ini. Pengunjung dapat
menikmatinya sambil menikmati pemandangan danau berlatar pegunungan dan
menghirup udara sejuk segar kawasan Lembang.
Selain sajian makanan dan pemandangan danau, masih
ada banyak sekali spot yang bisa diexplore pengunjung. Ada persawahan mini
yang menjadi miniatur persawahan di pedesaan lengkap dengan
bangunan-bangunan penopangnya. Ada juga miniatur tanaman batu, dimana
bebatuan berbagai macam ukuran dan jenis ditata sedemikian rupa hingga
menjadi perpaduan yang apik lengkap dengan tumbuhan-tumbuhan mengelilinginya.
Spot lain yang bisa diexplore adalah jembatan-jembatan cantik dan anggun yang
bisa digunakan menjadi latar foto. Masih ada lagi atraksi-atraksi sebagai berikut: naik
perahu mengelilingi danau, mengendarai sepeda air, memberi makan ikan, atau
sekedar menyusuri jalur pedestrian yang ditata sedemikian rupa. Dan yang
tidak boleh dilupakan, sebagaimana lumrahnya tempat wisata, di Floating
Market juga terdapat toko oleh-oleh berbagai jenis buah tangan baik berupa makanan
maupun kerajinan tangan.
Sebelum sampai di penginapan, kami sempatkan untuk
menikmati makan malam murah meriah di Warung Upnormal. Asik juga suasana
malam hari di Warung Upnormal di Bandung. Melihat pengunjung yang mayoritas
masih muda, berenergi dan bersemangat besar, serta berpenampilan segar
membuat saya bersyukur bisa merasakan suasana seperti ini. Bandung memang
luar biasa. Setelah cukup beristirahat, keesokan paginya kami
menuju ke Alun-Alun Bandung, tepatnya di pelataran Masjid Raya Bandung Jawa
Barat. Karena kami datang pagi-pagi sekali, suasana alun-alun masih relative
sepi dan tidak banyak pengunjung. Alun-Alun
Bandung dan Sekitarnya Pelataran masjid Raya Bandung ini mungkin merupakan pelataran masjid paling popular di Indonesia. Ada karpet rumput sintetis yang sangat luas yang bisa dipakai multi fungsi, mulai menampung jamaah sholat, tempat rekreasi keluarga, atau bisa jadi tempat mencari inspirasi dalam berbagai hal. Mulai menulis puisi, mengarang lagu, atau merancang perubahan haluan negara. Hahaha.
Selain area luas di depan masjid, ada juga tatanan
bunga-bunga berwarna-warni yang diatur dengan rapi di sisi kiri dan kanan
karpet sintetis. Bunga-bunga ini menambah kesan cantik dari alun-alun ini.
Jika dilihat dari titik terjauh alun-alun, pemandangan Masjid Raya dengan dua
menara ikoniknya, karpet luas dan taman-taman cantik di sekelilingnya
menjadikan view yang ditawarkan terasa lengkap.
Tidak jauh dari area Masjid Raya ada gedung-gedung bersejarah seperti Museum Konferensi Asia Afrika dan Gedung Merdeka. Dari luar, gedung-gedung ini terlihat bersih dan terawat. Dengan tambahan aksen kursi-kursi dan bola-bola beton, pengunjung seperti diajak untuk menikmati nuansa dan suasana ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan sedang digalakkan. Setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan terakhir, yakni Lodge Maribaya. Lodge
Maribaya Sebelum menuju ke Lodge Maribaya, kami sempatkan
untuk menjemput teman kami yang asli Bandung. Mayan bisa nambah rame
perjalanan kami. Jadinya kami total berempat sekarang. Syukurlah suasana jalan lumayan lengang, tidak
seperti kemarin yang padet sekali. Dengan situasi jalan yang tidak terlalu
ramai, kami bisa menikmati pemandangan dan perjalanan dengan nyaman. Asyik sekali.
Karena lokasinya cukup jauh kami beberapa kali harus bertanya kepada warga
yang kami temui untuk memastikan bahwa kami tidak salah tujuan. Hal ini
karena kami tidak yakin bahwa maps menunjukkan dan mengarahkan kami ke lokasi
yang tepat, mengingat 2 malam sebelumnya kami disasarkan oleh gmaps ke sebuah
gang buntu yang membuat kami harus berkendara mundur dalam jarak yang cukup
jauh di larut malam. Sampai di parkiran Lodge Maribaya, kami kembali
tersenyum senang karena hanya sedikit kendaraan yang terparkir. Pastinya
jumlah pengunjungnya juga sedikit. Dan benar saja, kami bisa mengeksplore
tempat wisata ini dengan nyaman sekali karena memang sedikti jumlah
pengunjung yang ada.
Lodge Maribaya merupakan lokasi wisata yang
menggabungkan lokasi camping di sisi bukit atau gunung dengan menawarkan area
pandang yang luas, cuaca yang sejuk, pepohonan rimbun dan suasana yang tenang
dan asri. Penataan lokasi wisata ini menurut saya sangat bagus sekali. Ada
banyak sekali spot yang bisa dipakai untuk menikmati keindahan alam sambil
menikmati makanan yang bisa dipesan di resto tempat wisata ini. Bagi penyuka fotografi alias suka di foto, ada satu
spot favorit yakni berfoto di sebuah pohon dengan view hamparan pepohonan
menghijau di kawasan perbukitan. Untuk bisa berfoto di tempat ini pengunjung
harus membayar dan mengantri karena peminatnya banyak sekali. Untungnya kami
datang lebih awal sehingga antriannya masih belum panjang.
Selain spot favorit tersebut, masih banyak sekali
lokasi yang bisa dipakai untuk mengabadikan keindahan Lodge Maribaya. Di
antaranya jajaran pepohonan pinus dan bagian atas lodge maribaya dimana kita
bisa memandang area wisata ini dengan lebih leluasa. Pengunjung juga bisa
menikmati sajian kuliner di sini. Saya sempat mencoba es krimnya. Rasanya
enak dan harganya masih masuk akal. Cukup lama saya dan friends mengeksplore Lodge
Maribaya. Saya benar-benar menikmati suasana sejuk dengan pemandangan indah
yang tersaji di area wisata ini. Saya sampai kepikiran kapan-kapan ingin
nge-camp wisata di tempat ini, karena sepertinya dijamin seru dan menyenangkan.
Dari Lodge Maribaya, kami balik lagi ke kawasan kota untuk makan siang di area Stasiun Bandung, berbelanja di Kartika Sari dan kemudian mengembalikan mobil rental kepada pemiliknya. Setelahnya kami kembali ke Jakarta dengan menumpang Kereta Api. Alhamdulillah akhirnya kami kembali ke Jakarta dengan selamat penuh suka dan cerita. Liburan mendadak Bandung ini sangat mengesankan sekali. Dengan perencanaan singkat dan itinerary yang fluid, kami mendapatkan banyak sekali lokasi dan pengalaman yang didapat. Tanpa satupun mall yang masuk dalam list perjalanan kami. Beginilah serunya perjalanan yang diarrange dalam waktu singkat, unsur surprisenya lumayan terasa. Mulai dari dadakan ngemotor di Tahura hingga sedikit jantungan di kawasan Punclut. Begitu serunya.. Semoga suatu saat nanti bisa napak tilas Mendadak Bandung ini. |
Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh
Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...
-
Saya cukup gembira melihat bahwa kini masyarakat pedesaan bisa memanfaatkan peluang bisnis di daerahnya sendiri. Salah satu model peluan...
-
Makam Raja-Raja Imogiri merupakan salah satu tempat bersejarah yang sudah lama sekali ingin saya kunjungi. Di tempat ini bersemay...
-
Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...