Selasa, 17 Desember 2024

Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaikan ibadah sholat serta mendapatkan bonus menikmati keindahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. Kesempatan ini bertepatan ketika saya mendapatkan penugasan ke kantor perwakilan di kota ini. 

Perpaduan Keindahan, Kemegahan, Kesyahduan, dan Kekayaan Sejarah

Dikutip dari Kompas.com, menurut beberapa sumber disebutkan bahwa Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh didirikan pada 1612, pada masa Kerajaan Aceh dibawah perintah Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Lebih lanjut, masjid ini pernah dibakar oleh penjajah Belanda. Selain itu masjid ini juga menjadi saksi sejarah saat bencana Tsunami melanda kawasan serambi Mekah pada akhir tahun 2004 silam. 

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid ini menempati area yang luas yang terdiri atas bangunan utama masjid, menara yang sangat megah, 12 payung raksasa, gerbang cantik dan pelataran luas di depan masjid. Di pelataran ini ada sebuah kolam yang semakin menambah indah pemandangan di area masjid. Ada juga fasilitas yang terletak di bawah permukaan tanah yakni tempat wudhu yang sangat luas.

Saat memasuki area masjid ini, jamaah atau pengunjung akan menjumpai pelataran yang luas. Untuk memasuki area ini, pengunjung atau jamaah harus melepas alas kakinya dan bisa menitipkannya di petugas penitipan. Di area pelataran yang luas ini, saya merasakan hadirnya nuansa damai dan menenangkan. Masjid yang didominasi warna putih ini benar-benar terasa megah dan sempurna. Penataannya sedemikian presisi ditambah dengan bangunan-bangunan pelengkapnya yang diatur sedemikian rupa untuk menunjang fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.  

Syahdu

Di area pelataran masjid ini terdapat sebuah kolam yang berukuran lebar. Letaknya tepat di tengah-tengah pelataran. Kolam ini di kelilingi area rerumputan dengan tumbuhan berbunga serta pagar besi di sekelilingnya. Berada dan menyaksikan langsung cantiknya taman dan megahnya masjid ini merupakan anugerah yang tidak semua orang bisa merasakannya.

Selain kolam, terdapat beberapa gapura yang ada di masjid ini, yakni gapura utama di sebelah menara, dua gapura samping kiri dan kanan yang berfungsi sebagai pintu masuk pengunjung, serta sebuah gerbang di tengah-tengah pelataran masjid. Gerbang terakhir menurut saya adalah gerbang yang luar biasa ikonik. Walaupun secara ukuran tidak terlalu besar namun tata bangunannya luar biasa indah. Ornament-ornamen gerbang ini dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menyatu dengan keindahan masjid secara keseluruhan.

Bersyukur

Saya berkunjung ke masjid ini ketika senja, beberapa saat sebelum waktu azan maghrib dikumandangkan. Dalam masa golden hour ini, suasana masjid selayaknya menimbulkan magis tersendiri. Guratan cahaya matahari yang menguning menyinari masjid ini dan memberikan atraksi pergantian masa dari terang ke gelap dengan mempesona. Secara perlahan cahaya matahari semakin meredup dan digantikan dengan cahaya-cahaya dari lampu yang terpancar untuk menerangi sang malam. 

Golden Hour di Masjid Raya

Di saat tenggelamnya matahari di ufuk barat, terdengarlah kumandang adzan merdu yang menandakan waktu untuk menunaikan sholat maghrib. Saya bergegas mencari tempat wudhu yang ternyata terletak dibagian bawah tanah masjid ini. Saya memperhatikan bahwa tempat wudhu di masjid ini berukuran sangat luas dan dapat menampung banyak sekali jamaah sehingga tidak perlu khawatir berdesakan apabila terdapat banyak jamaah yang akan menggunakannya dalam waktu bersamaan.

Selesai melaksanakan wudhu, saya menuju ke area dalam masjid. Di dalam masjid ini, kekaguman saya semakin bertambah. Interior masjid ini sangat cantic dan indah. Ada banyak sekali tiang penyangga yang didominasi oleh warna putih. Perpaduan warna putih dengan hiasan-hiasannya menjadikan bagian dalam masjid ini terasa syahdu. 

Pengajian

Saya cukup beruntung waktu itu karena setelah melaksanakan sholat maghrib saya dapat mengikuti pengajian. Pengajian waktu itu mengambil tema tentang menjaga hati agar tidak dengki. Pengajian tersebut dibawakan dalam bahasa Indonesia namun sesekali menyelipkan kata-kata bahasa Aceh yang saya tidak tahu artinya. Pengajian ini berakhir bertepatan dengan masuknya waktu sholat isya. 

Perfect Frame

Selepas menunaikan sholat isya, sebelum kembali ke penginapan, saya menyempatkan untuk menikmati suasanya pelataran masjid dan mengabadikannya dalam memori kamera. Pemandangan malam hari tentunya berbeda dengan siang hari. Di malam hari, masjid raya Baiturrahman terasa megah dengan penataan lampu-lampunya. Kubah-kubah masjid terlihat gagah dengan pancaran sinar dari lampu di bagian bawahnya. Pemandangan masjid akan terlihat lebih ikonik jika disaksikan dari ujung kolam, karena dari tempat ini, bangunan masjid dapat disaksikan dari arah depan dengan sudut yang lebih luas. 

Sempurna

Satu bangunan yang ikonik di area masjid ini adalah menaranya yang menjulang tinggi. Saya menuliskannya di blog terpisah ya pemirsaah.

Sebagai penutup, saya bersyukur pernah berkesempatan untuk dapat menunaikan sholat di masjid ini serta mengabadikan keindahan dan kemegahannya di dalam memori. Tentunya saya masih berharap untuk dapat mengunjungi masjid ini lagi suatu saat nanti.

 

Museum Tsunami: Bukti Kedahsyatan Bencana Tsunami 2004

Bencana Tsunami tahun 2004 merupakan bencana yang dahsyat yang menerjang sebagian besar wilayah pesisir di provinsi yang dikenal juga dengan sebutan Serambi Mekah ini. Jejak bencana tersebut hingga kini masih dapat kita saksikan salah satunya dengan adanya museum Tsunami.

Pengingat Kebesaran Sang Maha Kuasa

Museum ini terletak di jalan di Jl. Sultan Iskandar Muda No.3, Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Museum ini cukup mudah diakses dan dikenali karena bentuk bangunannya yang unik dan megah. 

Museum Terbaik di Indonesia

Tiket masuk ke museum ini dibagi dalam tiga kategori, yang pertama untuk pelajar harganya Rp3.000. Untuk pengunjung umum, tarifnya sebesar Rp5.000. Adapun untuk wisatawan mancanegara, besaran tarifnya adalah Rp15.000. Pengunjung museum ini perlu memperhatikan waktu berkunjung yakni buka pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang dan buka kembali antara pukul 2 siang sampai pukul 4 sore. Sebagai tambahan, pada hari Jumat, museum ini tidak menerima pengunjung. 

Modern dan Informatif

Pada tahun 2023 ketika sedang bertugas di Aceh, saya menyempatkan untuk berkunjung ke museum ini. Saya sengaja datang pada saat museum baru buka ketika museum sedang tidak terlalu ramai. Setelah membayar tiket masuk, sebelum masuk ke dalam gedung museum, saya sempat tertegun sebentar menyaksikan bangkai sebuah helikopter yang sudah rusak parah. Begitu dahsyatnya bencana ini sehingga mengakibatkan harta benda, barang dan bahkan jiwa menjadi musnah dalam sekejap.

Ketika masuk ke bagian dalam museum, suasana langsung berubah mencekam dan merinding dengan suara gemericik air, lantunan kalimat tahlil secara samar dan gemuruh dari kejauhan. Sebuah lorong gelap dengan percikan-percikan air menyambut pengunjung untuk dapat merasakan betapa mencekamnya suasana pada sat Tsunami melanda.

Dari pameran pra bencana, saya menuju ke ruang pameran berikutnya yakni sumur doa. Menurut pendapat saya, ruang ini adalah yang paling membuat perasaan saya campur aduk. Dalam corong gelap ini ada nama-nama ribuan korban Tsunami yang dipahat di dinding ruangan mulai dari bagian bawah hingga bagian ujung. Ruangan ini sangat gelap dengan hanya satu sumber cahaya yang berasal dari puncak sumur. Di bagian puncak sumur ini terdapat lafadz Allah. Berada dalam sumur ini bagaikan menyadarkan kita untuk selalu mengingat Allah dalam kondisi apapun.

Dari Sumur doa, saya beranjak ke lorong Tsunami atau space of fear. Di lorong ini saya merasakan pusing karena lorong ini dibuat dengan memadukan sebuah lorong yang berbentuk melingkar dan menanjak dengan ornamen garis-garis lurus di sisi kiri dan lafadz-lafadz asmaul husna di sisi kanan.

Space of Fear

Di ujung lorong tsunami atau space of fear ada sebuah jembatan perdamaian. Jembatan ini tertata dengan sangat baik dan strategis sekali. Di bagian atasnya adalah atap museum yang dihiasi bendera-bendera negara-negara sahabat yang telah memberikan bantuan pada saat bencana terjadi. Di bawah jembatan terdapat kolam yang tertata apik yang dihiasi bulatan-bulatan beton besar bertuliskan nama-nama negara yang berpartisipasi dalam pemulihan pasca bencana. 

Jembatan Perdamaian

Prasasti Persahabatan

Ujung dari jembatan ini adalah lantai 2 museum yang terdiri dari beberapa ruang diantaranya diorama, miniature, kantin, ruang pameran tetap, ruang audio visual, ruang pameran temporer, dan lain-lain. Di ruang pameran audio visual, pengunjung dapat melihat video kondisi Aceh dan sekitarnya sebelum adanya tsunami. Dokumentasi aktifitas sehari-hari masyarakat dapat kita saksikan di sini. Tidak ada aktifitas luar biasa yang tersirat dari foto-foto ini. Tidak juga ada tanda-tanda bahwa sebuah bencana besar sedang menunggu waktu untuk melandanya. Video kemudian memberikan gambaran mengenai dahsyatnya tsunami dari berbagai dokumentasi yang diperoleh. Pada bagian akhir video, di tampilkan proses pertolongan dan rehabilitasi pada para korban gempa.

Dari beberapa foto yang saya amati di museum ini, ada sumbangsih dan kerja keras yang tidak diganjar dengan penghargaan, medali atau bahkan terima kasih. Sumbangsih ini adalah dari gajah-gajah yang dilibatkan dalam proses penanggulangan bencana di tahap-tahap awal setelah bencana terjadi. Karena aksesnya yang mustahil untuk ditembus, gajah-gajah ini dimanfaatkan untuk dapat membuka akses atau bahkan membantu pencarian korban yang masih terjebak reruntuhan bangunan. 

Beberapa Foto Ikonik Saat Musibah Melanda

Beralih ke ruangan lain, bagian dari museum ini yang menurut saya sudah modern adalah ruang pameran tetap. Di tempat ini ada miniature rumah ada Aceh, tampilan visual keindahan alam serta keanekaragaman Aceh baik dari sisi kuliner maupun pakaian. Di sisi lain dari ruang pameran ini ada videotron berukuran besar yang menggambarkan bagaimana sebuah pantai yang tenang tiba-tiba berubah menjadi bencana mengerikan. Di ujung ruang pameran ini ada diorama bangunan-bangunan yang hancur setelah dilanda tsunami. Ada juga miniatur PLTD apung yang terbawa jauh ke daratan oleh derasnya gelombang tsunami.

Menggambarkan Terjadinya Bencana Secara Realistik

Miniatur Sisa Dahsyatnya Bencana

Dari ruangan modern ini saya eksplore beberapa ruangan lagi yang banyak diantaranya berisi foto-foto proses evakuasi, pembersihan bekas terdampak tsunami dan bantuan-bantuan asing yang banyak sekali. Satu hal lagi yang juga banyak ditampilkan dalam museum ini adalah upaya upaya perwujudan perdamaian dan rekonsiliasi antara pemerintah RI dengan warga Aceh yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Mengabadikan Kenangan Sekaligus Merajut dan Mempererat Kesatuan

Sebagai penutup, dari sisi arsitektur, museum ini sangat mengagumkan. Ini adalah museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Penataannya penuh dengan makna. Setiap bagian atau ruang didalamnya didesain sedemikian rupa agar pengunjung dapat merasakan kedahsyatan bencana yang pernah terjadi. Di sisi lain, perancang museum juga mengingatkan pengunjung bahwa seberat dan sedahsyat apapun bencana yang menimpa, kita harus selalu berserah diri kepada-Nya. Terakhir, uluran bantuan dari saudara sebangsa dan negara-negara sahabat tentunya sedikit banyak dapat meringankan beban yang sedang dialami.

Rabu, 04 Desember 2024

Museum Aceh: Museum Yang Sangat Rekomended untuk Diexplore

Berbicara mengenai museum di Aceh, perhatian kita mungkin hanya akan tertuju pada museum Tsunami, Padahal ada lagi museum yang menurut saya menampilkan koleksi dan pengetahuan yang tidak kalah jika dibandingkan dengan Museum Tsunami. Museum yang saya maksud adalah museum Aceh. 

Rumoh Aceh di Kompleks Museum Aceh

Museum ini terletak di Jalan Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Kec. Baiturrahman Banda Aceh. Akses museum ini cukup mudah dijangkau karena masih masuk dalam wilayah Kota Banda Aceh. Untuk masuk ke museum ini, pengunjung hanya perlu membayar Rp3.000 saja. Sangat murah jika dibandingkan dengan kesempatan pengunjung untuk dapat melihat koleksi dan pengetahuan yang dipunyai museum ini.

Dikutip dari situs Museum Aceh, museum ini didirikan pada tanggal 31 Juli 1915 dengan nama Atjeh Museum. Proses pendirian museum ini dipimpin oleh F.W.Stammeshous. Adapun peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Sipil dan Militer Jenderal Belanda H.N.A. Swart. Setelah Indonesia merdeka, operasional Museum ini secara bergantian dikelola oleh Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh (1945-1969), Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (Baperis) (1970-1975), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976-2002) dan saat ini dikelola dan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh. Sampai dengan tahun 2019, Museum Aceh memiliki jumlah koleksi mencapai 5.328 benda budaya dari berbagai jenis dan 12.445 buku dari berbagai judul yang berisi aneka macam ilmu pengetahuan.

Kesan pertama saya saat memasuki area museum ini adalah penataan yang rapi dan terawat serta megah. Ada beberapa gedung dalam area museum ini dan nampaknya kesemua gedung tersebut dioptimalkan penggunaannya. 

Rapi, Terawat dan Banyak Koleksi

Salah satu bangunan yang menyita perhatian saya adalah Rumoh Aceh. Bangunan ini merupakan bentuk rumah atau bangunan khas aceh yang berukuran besar dan ditopang oleh kayu-kayu pada bagian bawahnya. Rumoh Aceh memiliki karakteristik warna-warni yang mencolok perpaduan antara warna dominan hitam serta motif warna merah dan kuning serta putih. Sayangnnya waktu itu bangunan ini sedang dalam tahap renovasi sehingga pengunjung belum dapat mengakses bagian dalam Rumoh Aceh ini.

Beralih ke bangunan utama museum, ada ruang pameran tetap yang terdiri atas beberapa bagian yakni Bustan Dunia, Bustan Assalatin, Bustan Syuhada dan Bustan Budaya. Pada bagian Bustan Dunia menginformasikan kekayaan alam dan fauna yang ada di Aceh. Ada banyak hewan dan tumbuhan dari wilayah Aceh yang telah diawetkan yang dipamerkan di sini.

Dimulai Dari Alam

Bagian ke dua adalah Bustan Assalatin. Di bagian ini diinformasikan mengenai keadaan Aceh pada masa kerajaan Aceh Darussalam. Terdapat beberapa koleksi yang dipamerkan diantaranya maket kerajaan dan wilayah sekitarnya, gambaran peta kerajaan, baju kebesaran Sultan, replika cungkup makam sultan maupun pembesar kerajaan dan koleksi-koleksi lainnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah koleksi beberapa kitab yang merupakan karya asli ulama Aceh maupun kitab terjemahan dari bahasa asing. Koleksi kitab ini masih tersimpan dan terawat dengan baik di museum ini. 

Replika Makam

Koleksi Kitab 

Di bagian lain pada Bustan Assalatin ini ada koleksi gambar maupun foto Sultan dan Sultanah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam. Salah satu gambar Sultanah yang dipamerkan adalah Ratu Safiatuddin yang menjadi Sultanah karena menggantikan suaminya yang wafat. Hal ini sempat membuat kontroversi karena dianggap bertentangan dengan hukum Islam. Namun demikian Sultanah ini dapat memimpin kerajaannya dengan baik.

Timeline Sejarah Aceh

Beralih ke lantai 3 atau Bustanul Assyuhada, saya mendapatkan kesan bahwa museum ini sudah dikelola secara modern dan sangat baik. Tampilan koleksinya sangat informatif dan membuat pengunjung menjadi tertarik untuk mengeksplore baik koleksi maupun informasi yang dikandungnya. Di bagian ke tiga dari gedung museum ini, dipamerkan koleksi tentang foto-foto para tokoh dan pahlawan Aceh dalam perjuangan melawan penjajah. Tidak hanya itu, dipamerkan pula senjata-senjata yang digunakan dalam perang tersebut, baik senjata para pahlawan maupun para penjajah yang berniat menguasai Aceh. Ada senjata berupa pedang, senapan maupun Meriam. Koleksi lain pada Bagian ini adalah deretan para pahlawan wanita Aceh. Ada beberapa pahlawan yang sudah sangat familiar bagi kita seperti Cut Meutia, Cut Nyak Dien dan Laksamana Malahayati dan ada juga yang mungkin kita belum pernah mendengar namanya seperti Tengku Fakinah (Ahli Benteng), Pocut Meurah Beheue (Panglima Perang Lasykar Rakyat), Pocut Baren. Di sisi lain, ada juga foto-foto panglima kolonial Belanda yang pernah menginvasi dan menjajah Aceh beserta dengan deskripsi singkatnya.

Beralih ke lantai paling atas dalam museum ini adalah Bustan Budaya. Dalam bagian terakhir ini, dipamerkan kekayaan budaya Aceh diantaranya benda-benda kerajinan, peralatan sehari-hari, perhiasan dan pakaian khas Aceh. Di tempat pameran pakaian khas pernikahan ini saya baru mengetahui bahwa di Aceh ada 7 etnis atau suku yang mendiami wilayah Aceh di antaranya: Aceh, Tamiang, Singkil, Kluet, Gayo, Aneuk Jame, dan Aceh Tenggara. Ragam pakaian khas Aceh ini sangat unik, berwarna-warni dengan corak yang penuh makna.

Koleksi Kerajinan dan Budaya Aceh

Pakaian Adat dari Subetnis Aceh

Dari lantai empat gedung pameran ini saya melanjutkan explore museum ke gedung sebelah. Di depan gedung tengah ini terdapat 4 maket Masjid Raya Baiturrahman dari masa ke masa. Mulai dari maket pada saat Masjid baru berdiri hingga beberapa kali pemugaran dan terakhir setelah masjid ini dilanda gempa dan tsunami dahsyat pada Tahun 2004.

Sebenarnya masih ada satu lagi gedung pameran yang ada di area museum ini, namun saat itu sedang tidak melayani pengunjung karena sedang dilakukan penataan ulang. Semoga di lain kesempatan ada waktu untuk explore lebih jauh museum ini. 

Sekilas Informasi Tentang Marsose dan Snouck Hurgronje

Saya merasa beruntung karena bisa berkunjung ke museum ini. Saya juga merasa gembira karena sejarah dan peninggalan dari zaman yang telah lalu dapat diabadikan sehingga generasi penerus dapat belajar dan menghargai sejarahnya. Semoga daerah-daerah lain juga dapat membuat dan melestarikan museum semacam ini karena banyak generasi muda yang tidak mengetahui sejarah dan peninggalan serta kekayaan budaya yang berasal dari daerahnya.

Minggu, 10 November 2024

Kerkhof Peucut Aceh: Makam Putera Raja dan Kuburan Masal Warga Belanda pada Masa Kolonial

Aceh mempunyai banyak sekali lokasi wisata sejarah. Dari sekian lokasi wisata sejarah tersebut ada Kerkhof Peucut Aceh sebagai lokasi yang menjadi saksi sejarah dari masa kolonial. Lokasi Kerkhof Peucut Aceh ini bersebelahan dengan Museum Tsunami Aceh dan tidak jauh dari pusat kota Banda Aceh. Tentunya lokasi ini sangat strategis dan mudah untuk dicapai.

Gerbang Kerkhoff Peucut Aceh

Sekali lagi saya merasa beruntung bisa mengexplore lokasi-lokasi wisata di Aceh, terutama lokasi wisata sejarah. Awalnya saya tidak mempunyai rencana untuk mengexplore lokasi ini, namun ketika saya berada di museum Tsunami dan melihat ada jajaran nisan bergaya Belanda di sisi museum, saya mencoba mencari akses yang bisa dilalui untuk menuju ke pemakaman masal ini. Dan ternyata ada akses jalan yang bisa digunakan untuk mempersingkat perjalanan dari museum ke Kerkhof ini. 

Berdekatan dengan Museum Tsunami

Di bagian depan pemakaman ini terdapat gapura bergaya arsitektur Eropa yang megah dengan dinding-dindingnya bertuliskan nama-nama orang yang dikuburkan ditempat ini. Di sisi paling kiri gapura tertulis nama-nama warga Belanda yang meninggal pada tahun 1873. Berturut-turut di sisi kanannya terdapat nama-nama dari warga Belanda yang dikuburkan di tahun-tahun berikutnya.

Yang luar biasa dari area pemakaman ini adalah begitu rapinya catatan dan nama-nama warga atau prajurit Belanda yang dikuburkan di sini. Nama-nama tersebut dituliskan berdasarkan tahun pemakamannya. Tidak hanya nama-nama khas Belanda saja yang dimakamkan di tempat ini. Saya melihat ada banyak nama-nama khas nusantara tertulis dalam prasasti di tembok gerbang pemakaman ini. Dari literature yang saya baca, nama-nama londo ireng tersebut merupakan tentara bayaran yang menjadi kaki tangan tentara kolonial dalam memerangi perlawanan rakyat Aceh. Di gerbang ini juga terdapat tahun-tahun kejadian peristiwa penting diantaranya perang-perang yang terjadi selama masa kolonial seperti Missigit Rawa, Lemboek, Longbattam hingga peristiwa Tsunami tahun 2004.

Selepas dari gerbang utama Kerkhof Peucut, saya melihat hamparan nisan berbagai ukuran dan ornament berjajar rapi. Ada nisan yang berbentuk salib sederhana, dan ada juga nisan yang berukuran besar dilengkapi dengan patung-patung malaikat kecil bersayap. Pada nisan-nisan tersebut terdapat nama-nama yang dimakamkan beserta tahun meninggalnya.

Makam J.H.R Kohler

Salah satu tokoh penting dari kolonialis Belanda yang dimakamkan di area ini adalah Generaal Majoor J.H.R Kohler. Pemimpin pasukan Belanda ini tewas ditombak oleh pejuang Aceh di dekat Masjid Raya Baiturrahman. Makam J.H.R kohler terletak di dekat gapura/gerbang dengan berbentuk tugu segi empat yang masing-masing sisinya tertulis beberapa keterangan.

Tugu di Tengah-Tengah Area Kerkhoff

Pengunjung yang mau ke sisi-sisi ujung dari area pemakaman ini dapat menyusuri area pedestrian dari paving blok yang berukuran lebar. Berdasarkan pengamatan saya ada 2 lajur besar yang bertemu ditengah-tengah area pemakaman dan beberapa lajur kecil dalam area ini. Di tengah-tengah area pemakaman atau pertemuan diantara dua lajur besar terdapat sebuah tugu yang berukuran besar dengan beberapa tulisan berbahasa Belanda yang saya tidak tahu artinya. Tugu berukuran besar tidak hanya berjumlah satu, ada lagi sebuah tugu yang ukurannya kurang lebih sama besar yang terletak di ujung lokasi pemakaman. Semakin jauh ke arah bagian belakang pemakaman, semakin rimbun pepohonan yang merindangi.

Tugu di Bagian Belakang Kerkhoff


Saat saya meng-eksplore lokasi ini, cuaca sedang panas menyengat dan kebetulan tidak ada pelindung dari cahaya matahari. Untungnya di beberapa titik terdapat pohon berukuran besar yang dapat dipakai oleh pengunjung untuk berteduh sambil menikmati semilir angin.
Kerkhoff Peucut Bagian Rindang

Di antara nisan-nisan tersebut ada hiasan taman dengan bunga-bunga yang terawat cantik. Ketika itu ada pengelola pemakaman ini yang sedang merapikan bunga-bunga. Tampaknya memang taman ini dirawat secara rutin.

Sebenarnya ada satu situs cagar budaya di dalam komplek pemakaman Kherkhof ini yang bernilai sejarah tinggi. Sayangnya waktu itu karena saya tidak mempunyai rencana dan gambaran tentang pemakaman ini, sehingga saya melewatkannya. Situs ini adalah Makam Meurah Pupok. Di situs ini dimakamkan Putera Raja bernama Meurah Pupok atau dipanggil Peutjut yang merupakan putra kesayangan Sultan Iskandar Muda. Karena puteri kesayangan ini melakukan dosa besar, sang Raja menjatuhkan hukuman sesuai syariat Islam dengan melakukan rajam dan kemudian memakamkannya di tempat ini. 

Makam Meurah Pupok (dikutip dari https://media.suara.com/)

Berkunjung ke Kerkhof Peucut merupakan salah satu wisata sejarah yang dapat memperkaya wawasan kita tentang bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kemerdekaannya dari para kolonial yang ingin menguasainya. Selain itu, berdasarkan nama-nama yang tertera pada catatan di dinding gerbang, kita juga dapat menyaksikan bahwa ada sesama anak bangsa di Nusantara yang bergabung dengan tentara kolonial untuk menaklukan saudaranya sendiri. 

Pemakaman Belanda Terbesar di Luar Belanda

Di sisi lain, berkunjung di tempat ini juga akan memberikan kesan yang mendalam kepada kita bagaimana seorang sultan dengan tegas menghukum putera kesayangannya untuk menegakkan marwah hukum dan syariat, tidak seperti yang bisa kita saksikan pada jaman ini, dimana konstitusi dengan mudah diubah untuk kepentingan (*sebagian teks hilang)

Menara Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh: Sensasi Vertigo di Serambi Makkah

Dalam blog Masjid Raya Baiturrahman, saya telah menuliskan bagaimana kesan dan kekaguman saya terhadap masjid yang menjadi kebanggaan warga Aceh dan Indonesia ini. Di blog kali ini, saya ingin menceritakan kesan dan pengalaman saya pada saat mengexplore Menara Masjid Raya Baiturrahman. 

Menara Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh

Di blog sebelumnya, lebih banyak dibahas tentang tentang bangunan-bangunan utama Masjid seperti kubah, tiang dan ornamen serta kaligrafi di dalam masjid. Satu bangunan lagi yang belum saya bahas lebih panjang di area Masjid Raya Baiturrahman ini adalah menaranya yang menjulang tinggi. Menara ini sangat megah dan gagah serta menjadi lansekap yang dapat dilihat dari berbagai sudut kota karena ukuran ketinggiannya.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Menara ini terdiri dari bangunan dasar dan tiga jenjang serta satu buah kubah di bagian paling atasnya. Pada masing-masing jenjang terdapat akses ke luar yang dibatasi dengan pagar. Ornamen luar dari menara ini adalah tatanan marmer berwarna krem dengan tiang-tiang penyangga berwarna putih.

Di dalam menara ini terdapat fasilitas lift untuk akses menuju ke lantai atas. Karena fasilitas lift hanya dibuka pada pagi dan siang hari, keesokan harinya saya kembali ke masjid ini khususnya untuk dapat melihat pemandangan masjid dari atas menara. Sebagai informasi, menara masjid raya Baiturrahman dapat diakses oleh masyarakat umum atau jamaah dengan membayar biaya sebesar Rp15.000. Setelah melakukan pembayaran kita dapat menggunakan lift yang akan mengangkut kita ke lantai 7 dimana terdapat tempat khusus bagi pengunjung untuk dapat menyaksikan pemandangan luar biasa kota Banda Aceh dan sekitarnya dari ketinggian. Tempat khusus ini berupa anjungan empat sisi yang bisa diakses oleh pengunjung. Anjungan pantau ini dilengkapi dengan pagar besi dan pelindung serupa kurungan yang menjaga agar tidak ada pengunjung yang terjatuh atau menjatuhkan diri dari atas menara. Selain itu ada juga beberapa kursi yang disediakan bagi pengunjung yang ingin beristirahat sejenak di atas menara.  

Pemandangan Kota Banda Aceh dari Ketinggian 

Yang saya rasakan ketika pertama kali keluar dari lift di lantai 7 menara ini adalah hembusan angin yang sangat kuat menerpa menara ini. Saking kuatnya hembusan angin, saya seperti merasa bahwa menara ini seperti bergoyang. Parahnya lagi, saya juga merasakan vertigo saya kambuh sehingga membuat saya seperti oleng ketika melihat ke bawah. Walaupun dalam kondisi yang kurang sehat, saya memaksakan diri untuk tetap mengabadikan pemandangan masjid Raya Baiturrahman dari ketinggian. Karena dari lokasi ini lansekap masji dapat diabadikan dengan sempurna. Hampir semua sisi dapat terekspose di dalam gambar. Gedung atau bangunan ikonik di Banda Aceh juga dapat dinotice dengan mudah. Contohnya, museum Tsunami, Gedung Kodam, dan Gedung DPRK Banda Aceh. Tidak hanya itu, pemandangan alam berupa pegunungan dan hamparan laut serta sisi pantai juga dapat dilihat dari titik ini. Karena lokasi menara yang cukup tinggi. Setelah sekitar 15 menit berada di lokasi pandang menara dan merasa cukup mengambil gambar lansekap Banda Aceh dan sekitarnya saya memutuskan untuk turun kembali ke lantai dasar. Alhamdulillah walau dalam kedaan vertigo saya bisa mewujudkan keinginan saya melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian. 
Museum Tsunami Aceh
Pemandangan Perpaduan Kota dan Pegunungan di Aceh 

Demikian blog singkat ini menuliskan tentang menara Masjid Baiturrahman. Semoga lain kali kalau ada kesempatan ke Aceh lagi, saya berkesempatan untuk dapat menyaksikan pemandangan Masjid Raya Baiturrahman dan Kota Banda Aceh dengan kondisi lebih baik. Karena jarang-jarang ada puncak menara yang dapat diakses oleh pengunjung untuk menikmati suasana kota seperti di tempat ini.

Jumat, 08 November 2024

Naik Juragan 99, Bus Dengan Pelayanan Excellent

Jika anda warga Malang atau Surabaya yang bekerja di Jakarta dan sebaliknya, setidaknya anda harus menyempatkan mencoba naik Bus Juragan 99. PO ini menawarkan pelayanan kelas atas bagi penumpangnya.  Secara tarif memang perjalanan menggunakan bus ini lebih mahal, namun itu sangat sebanding dengan pelayanan dan kenyamanan yang diberikan. Berikut adalah pengalaman saya saat menggunakan jasa bis dari PO ini yang menjadikan saya berani merekomendasikan bus ini sebagai moda transportasi dari Malang atau Surabaya menuju Jakarta dan sebaliknya.

Elegant

Saya menggunakan jasa PO ini saat pulang ke Malang pada 6 November 2022. Harga tiket saat itu adalah Rp555.000 yang saya beli menggunakan aplikasi Redbus.id. Dibandingkan dengan harga tiket bus di PO lainnya, selisih harganya lumayan banyak. Sebagai perbandingan, harga tiket PO Haryanto tidak sampai Rp400.000. Namun demikian nampaknya ada layanan lebih yang menjadikan tiket PO bus ini seringkali ludes terutama pada saat weekend atau hari libur nasional.

Perjalanan saya dimulai dari terminal bayangan Pondok Pinang di Jakarta Selatan. Saya datang lebih awal dari jadwal keberangkatan untuk menghindari keterlambatan kedatangan. Tepat pukul 7.20 WIB, bus telah datang dan stand by di terminal dan siap untuk diberangkatkan sesuai jadwal yakni pukul 7.45 WIB. Tampilan dari bus ini sangat mewah dan terlihat menonjol dibandingkan dengan bus-bus lainnya di terminal pada pagi itu. Livery perpaduan antara hitam dan merahnya sangat elegan. Terlihat bahwa pemilik PO ini tidak main-main dengan tampilan dan kesan yang ingin dibawakan.

Pukul 7.44 WIB bus diberangkatkan. Dari Terminal Pondok Pinang, hanya sedikit penumpang yang diangkut. Saya pun bisa melihat-lihat dan memfoto interior bis ini dengan leluasa. Tidak hanya tampilan luarnya yang diperhatikan, interior dan penataan di dalam bus ini juga sangat tertata apik, bersih, rapi, fungsional dan mewah. Kursi penumpang kelas Dream Class berkonfigurasi 1 1 1. Artinya ada 3 kursi dalam satu baris namun masing-masing kursi dipisahkan oleh space untuk mobilitas penumpang. 

Mewaaah

Kursi penumpang dalam bus ini berwarna coklat gelap dengan berbagai macam aksesoris tambahan yang fungsional seperti, meja makan lipat, tombol leg rest dan sandaran kursi yang serba otomatis. Canggih sekali. Di tiap-tiap kursi disediakan selimut dan bantal serta satu paket handy bag berisi berbagai macam makanan ringan, air mineral, serta satu buah head set. 

Bisa Menjadi Hiburan Sepanjang Perjalanan

Selain itu ada pula hiburan AVOD (audio video on demand) yang bisa dipakai untuk menonton video, mendengarkan music, dan bermain game. Fasilitas lain adalah dispenser dengan berbagai macam minuman sachetan siap bikin. Selain itu sebagaimana layanan wajib bagi bis layanan premium jarak jauh, dalam bis ini tersedia toilet yang terletak di dek bawah. Berikutnya, untuk penumpang yang hobi merokok, disediakan tempat khusus di deck bawah tepatnya di dekat toilet.

Pukul 07.58 perjalanan sampai di terminal Pulogebang. Di terminal ini ada banyak sekali penumpang yang naik namun masih belum semua penumpang memenuhi kursi. Setelah berhenti sekitar 5 menit, perjalanan dilanjutkan kembali untuk menuju titik pengambilan penumpang berikutnya di Kota Bekasi. Setelah mengambil penumpang di Bekasi perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalan tol Jakarta Cikampek. Sampai dengan saat ini, perjalanan terasa sangat nyaman. Dari sisi maneuver, walau jenis busnya setara double decker, saya tidak merasakan limbung saat bus melakukan akselerasi kecepatan ganti haluan mendadak. Dari sisi kenyamanan di dalam bus, walau suhu di dalam sangat dingin, penumpang sudah mendapatkan selimut yang tebal dan lebar. Selain itu, karena saya mendapatkan kursi di samping jendela, saya mendapatkan view yang leluasa untuk mendapatkan pemandangan di sepanjang perjalanan. Saya benar-benar merasa beruntung dalam perjalanan ini. 

Sajian Nikmat di Sela Perjalanan

Pukul 07.10 adalah waktunya para penumpang mendapatkan servis makan yang berlokasi di Resto Rosin Subang. Resto ini merupakan milik PO Rosalia Indah. Di resto ini penumpang bus Juragan 99 mendapatkan layanan VIP berupa tempat duduk yang eksklusif dan dengan menu yang sudah siap saji. Sebagai informasi, sebelum perjalanan di mulai, para penumpang sudah dikonfirmasi mengenai pilihan menu makanan yang dapat dipilih. Adapun menu pilihan saya pada perjalanan ini adalah nasi rawon. Pilihan saya tidak salah, rawon dari resto ini rasanya sangat nikmat dan penuh dengan isian daging. Kira-kira 45 menit durasi yang dihabiskan untuk servis makan ini sebelum perjalanan dilanjutkan kembali.

Pemandangan Mahal

Perjalanan siang hari menawarkan sajian pemandangan sepanjang jalur Tol Trans Jawa yang tidak akan bisa didapatkan pada perjalanan malam hari. Hamparan sawah menghijau dan pepohonan serta sesekali melewati kawasan perbukitan bisa kita lihat dengan leluasa. Kebetulan saat itu cuaca mendung di sepanjang durasi perjalanan bahkan sempat menerobos hujan deras sebanyak dua kali yakni di daerah sekitar Pekalongan dan Salatiga. Perjalanan menjadi terasa sangat syahdu, walau sesekali saya merasa ngeri dengan gelegar petir yang saling menyahut.

Syahdu Cenderung Serem

Dalam perjalanan ini, selain servis makan di Rosin Resto Subang, ada juga servis snack dan istirahat sejenak di Resto Duta 3 yang terletak dekat dengan exit tol Ngawi. Dalam servis ini, penumpang diberikan snack berupa lumpia dan lontong serta minuman yang bisa dipilih, baik kopi atau teh.

Setelah servis ini, perjalanan langsung menuju ke lokasi penurunan penumpang yakni terminal Purabaya di Bungurasih Sidoarjo. Di lokasi penurunan pertama ini sangat banyak penumpang yang turun. Seingat saya lebih dari separuh penumpang turun di terminal ini. Selepas terminal Purabaya, penurunan penumpang berikutnya adalah Indomart di dekat exit tol Singosari pada pukul 19.45.  Saya termasuk penumpang yang turun di lokasi pemberhentian ini.

Jika dihitung total durasi perjalanan maka perjalanan ini ditempuh selama 12 jam. Wow.. cepat sekali bukan? Dengan durasi yang lebih cepat, pastinya penumpang bisa sampai tujuan lebih cepat. Namun demikian kecepatan tinggi tersebut membuat bus yang sangat tinggi tersebut terasa sekali goyangannya ketika ada akselerasi mendadak. Selain di jalan tol dengan kondisi sepi, pada saat kondisi padat pun bus tetap dipacu kencang bahkan seringkali seset kiri. Tentunya ini cukup berisiko karena kualitas bahu jalan tidak sebaik jalur utama jalan tol. Perjalanan dalam kecepatan tinggi membuat kepala sedikit pusing dan badan saya terasa tidak nyaman saat turun kendaaraan. Overall dari pelayanan super yang diberikan oleh PO Juragan 99, hanya itulah yang menjadi catatan minus menurut saya. Untuk perjalanan selanjutnya sebaiknya kenyamanan dan keselamatan lebih diutamakan dari pada kecepatan. 

Mendadak Bandung

 

Blog kali ini merupakan catatan mendadak pelesir ke Bandung tahun 2016 lalu. Mendadak Bandung diinisiasi oleh teman yang sedang liburan dari kuliahnya di Australia. Mumpung sedang di tanah air dia mengajak temannya dan saya untuk jalan-jalan ke Bandung. Ada banyak sekali tempat wisata dan lokasi wisata kuliner yang sempat saya kunjungi saat itu. Berikut ini timeline dan rinciannya. 

Terkadang Yang Mendadak Itu Yang Seru

Kami berangkat naik travel dari Jakarta pada pukul 05.10. Dengan durasi tempuh kira-kira 2jam 20 menit kami sampai di Shutter Cipaganti. Di sini kami menunggu kedatangan mobil rental yang kami sewa selama 3 hari ke depan. Setelah mobil rental sampai, kami langsung menuju ke lokasi pertama dalam itinerary kami yakni Armour Café.

Armour Café

Kafe ini menawarkan sensasi baru dalam memanjakan pengunjungnya. Penataan kursi-kursi di antara pepohonan tinggi dan suasana sejuk serta ornament warna-warni di berbagai titik membuat kafe ini menjadi tempat yang bikin betah untuk ngobrol, ngupi-ngupi cantik atau sekedar menikmati suasana. Selain itu kafe ini sangat fotogenik. Berbagai sudutnya bisa dipakai untuk mengambil gambar-gambar yang stands out. Namun karena sudah lumayan kondang, kafe ini sangat banyak pengunjungnya dan ini membuat pencarian angle yang sempurna dalam pengambilan foto menjadi lebih susah. 

Pepohonan Berkabut di Armour Cafe

Setelah dari Armour café kami menuju ke lokasi berikutnya yakni Tebing Karaton. Perjalanan menuju Tebing Karaton cukup menantang karena jalan aksesnya relatif sempit. Selain itu banyak sekali pesepeda yang gowes dan uji ketahanan fisik membuat pengendara mobil harus lebih waspada ketika akan mendahuluinya.

Tebing Keraton

Tebing keraton menurut saya menawarkan pemandangan yang cukup seru, terutama bagi penyuka kontur pegunungan yang memadukan tebing-tebing curam pegunungan dengan rimbunnya pepohonan. Dengan lansekap seperti itu, saya dapat mengambil banyak foto dari banyak angle di lokasi wisata ini

Tebing Keraton

Akses menuju ke lokasi ini cukup mudah. pengunjung dapat berjalan kaki dari parkiran hingga ke lokasi Tebing Keraton dalam waktu relatif singkat karena jaraknya dekat dan konturnya rata. Kondisi saat itu cukup banyak pengunjung sehingga membuat agak kurang nyaman untuk berlama-lama di tempat ini. Setelah selesai berfoto-foto dan sejenak menikmati suasana, kami pun beralih menuju ke lokasi wisata berikutnya.

Setelah dari Tebing Keraton, tujuan kami berikutnya adalah Tahura Ir. Djuanda. Berdasarkan hasil eksplore kami, ada air terjun yang berlokasi jauh di dalam Tahura ini. Namanya adalah Curug Ciomas. Karena lokasinya sangat jauh dari pintu masuk Tahura, kami menyewa motor untuk menyingkat waktu. Perjalanan dengan motor menuju ke arah curug Ciomas ini sangat menantang dan berisiko karena jalanan licin dan berbatu. Jika tidak konsentrasi penuh, pengendara motor bisa saja terjatuh atau terpeleset.

Curug Ciomas

Curug yang aksesnya lumayan jauh ini menawarkan suasana yang tenang di antara pepohonan tinggi dan rindang. Suara gemericik air cukup nyaring terdengar menjadikan suasana di sekitar curug ini terasa sangat alami. Bagi penyuka fotografi ada beberapa spot yang bisa dipakai diantaranya di depan air terjun. Namun sayangnya ada pagar kotak besi yang menjadikan proses pengambilan gambar menjadi kurang leluasa. Spot kedua adalah di atas jembatan yang terletak di atas air terjun. Di area Curug Ciomas terdapat banyak warung. Pengunjung dapat menikmati sajian yang dijual sambil menikmati suasana tenang dan sejuk khas pegunungan. 

Curug Ciomas Dengan Pagar Jeruji

Dari Curug Ciomas, kami lanjut mengeksplore Taman Hutan Raya Ir. Djuanda. Dari banyak spot yang bisa dikunjungi atau dijadikan latar belakang foto, saya menyempatkan untuk eksplore museum yang ada di tengah-tengah Tahura. Ada banyak koleksi yang disimpan di antaranya hewan-hewan yang diawetkan, penghargaan/medali dari berbagai negara, infografis sejarah Tahura Ir. Djuanda, dan peninggalan-peninggalan lainnya. Menurut pandangan saya Tahura ini dan museum di dalamnya dirawat dengan baik. Semoga saja kedepannya pengelolaannya semakin baik. 

Taman Ir. Djuanda

Setelah mengeksplore Tahura, kami mencari lokasi yang pas buat menikmati malam sambil memandang kota Bandung dari ketinggian. Setelah beberapa kali melihat reviu dan jarak, akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke The Valley. Lokasinya cukup strategis karena berada di ketinggian yang cukup untuk bisa memandang gemerlap lampu-lampu malam. Selain menawarkan view night lights, resto ini sendiri tertata rapi dengan tenda-tenda bernuansa yurop. Lampu-lampu di kafe ini temaram dan sangat cocok untuk perbincangan akrab dan mendalam. Sayangnya harga makanan di sini cukup mahal sehingga kami tidak memesan terlalu banyak makanan atau minuman. Maklum, akhir perjalanan ini masih lama. Setelah cukup puas menyaksikan pemandangan dari tempat ini, kami pun balik ke kawasan kota untuk menuju penginapan. 

The Valley

Keesokan harinya pada sekira pukul 09.00, kami berangkat menuju ke Farm House Lembang. Lokasi wisata ini menjadi salah satu yang kami tuju karena saat itu Farm House Lembang termasuk lokasi wisata paling popular.

Farm House Lembang

Farm house Lembang merupakan lokasi wisata yang menurut saya menawarkan konsep terpadu dan lengkap. Di tempat ini hampir semua aktifitas rekreasi bisa di lakukan, mulai menyusuri bangunan-bangunan unik, berfoto-foto di miniatur rumah Hobbit, menjelajahi lintasan pedestrian yang menawarkan pemandangan cantik, atau cukup duduk santai sambil menikmati suasana. Selain itu pengunjung juga dapat bercengkerama dengan hewan-hewan lucu dan jinak seperti rusa, domba atau kelinci. Bagi pengunjung yang ingin berfoto dengan nuansa eropa jaman dulu, di tempat ini juga terdapat jasa sewa pakaian khas eropa. Jika dipadukan dengan latar belakang beberapa gedung yang bernuansa klasik, hasil foto dengan menggunakan pakaian eropa tadi akan menjadi sangat menarik. 

Sejenak Menjadi Noni dan Bocil Belanda

Farm House Lembang Bandung

Padet Combo di Akhir Libur Lebaran dan Libur Sekolah

Konsep tempat wisata seperti ini tentunya sangat fresh dan bisa menarik banyak pengunjung. Selain masih baru, di tempat ini wisatawan bisa melakukan banyak sekali aktifitas termasuk di antaranya wisata kuliner. Ada banyak sekali stand yang menjual berbagai macam jajanan yang bisa dinikmati baik secara langsung atau dibungkus untuk dinikmati kemudian. Karena masih baru dan booming plus hari terakhir libur lebaran Farm House Lembang pada saat itu menjadi sangat padet, crowded, sesak, dan membuat kita kurang leluasa bermobilisasi.

Sebagai lokasi wisata terpadu, tentunya Farm house juga merupakan arena belanja yang menawarkan berbagai jenis makanan, minuman dan oleh-oleh untuk buah tangan. Bagi saya farm house Lembang identik dengan produk olahan susu. Ada banyak gerai yang menawarkan produk-produk dimaksud. Bahkan tiket masuk pengunjung sudah include penukaran gratis dengan sebotol susu dengan berbagai pilihan rasa.

Puas menjelajahi dan berfoto-foto di Farm house Lembang, kami melanjutkan explore ke lokasi wisata berikutnya yakni Floating Market. Secara jarak lokasinya tidak terlalu jauh, namun hari itu jalanan Lembang macetnya luar biasa. Jadinya kami harus bersabar di jalan sebelum sampai di lokasi wisata ini.

Floating Market

Floating market mempunyai konsep wisata yang tak kalah unik dimana sajian utamanya adalah sebuah danau yang berukuran luas. Di sebagian besar sisi danau terdapat perahu kecil yang menawarkan jajanan berbagai macam, berbagai rasa dan berbagai selera. Ada makanan seperti bakso, lumpia, sate, tahu gejrot, bajigur, es cendol, dan lain-lain. Sepertinya semua jenis makanan khas nusantara ada dijual di tempat ini. Pengunjung dapat menikmatinya sambil menikmati pemandangan danau berlatar pegunungan dan menghirup udara sejuk segar kawasan Lembang.

Sejenak Menikmati Sore di Tempat Yang Menenangkan

Selain sajian makanan dan pemandangan danau, masih ada banyak sekali spot yang bisa diexplore pengunjung. Ada persawahan mini yang menjadi miniatur persawahan di pedesaan lengkap dengan bangunan-bangunan penopangnya. Ada juga miniatur tanaman batu, dimana bebatuan berbagai macam ukuran dan jenis ditata sedemikian rupa hingga menjadi perpaduan yang apik lengkap dengan tumbuhan-tumbuhan mengelilinginya. Spot lain yang bisa diexplore adalah jembatan-jembatan cantik dan anggun yang bisa digunakan menjadi latar foto.

Masih ada lagi atraksi-atraksi sebagai berikut: naik perahu mengelilingi danau, mengendarai sepeda air, memberi makan ikan, atau sekedar menyusuri jalur pedestrian yang ditata sedemikian rupa. Dan yang tidak boleh dilupakan, sebagaimana lumrahnya tempat wisata, di Floating Market juga terdapat toko oleh-oleh berbagai jenis buah tangan baik berupa makanan maupun kerajinan tangan.

Floating Market
Kami meninggalkan Floating Market ketika waktu sudah senja. Dengan pertimbangan hari itu merupakan hari terakhir liburan lebaran 2016, kami berinisiatif mengambil jalan alternatif untuk dapat mencapai kota Bandung. Perjalanan yang awalanya untuk menghindari kemacetan pada akhirnya menjadi perjalanan yang sangat lama dan stressing karena kami dua kali tersesat dan melewati jalur Punclut yang sangat berbahaya. Dalam satu moment, mobil kami sempat berhenti di tengah tanjakan tajam karena kurangnya akselerasi pada saat mulai menanjak. Untungnya ada pertolongan dari warga sekitar sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan menuju Bandung dengan selamat.

Sebelum sampai di penginapan, kami sempatkan untuk menikmati makan malam murah meriah di Warung Upnormal. Asik juga suasana malam hari di Warung Upnormal di Bandung. Melihat pengunjung yang mayoritas masih muda, berenergi dan bersemangat besar, serta berpenampilan segar membuat saya bersyukur bisa merasakan suasana seperti ini. Bandung memang luar biasa.

Setelah cukup beristirahat, keesokan paginya kami menuju ke Alun-Alun Bandung, tepatnya di pelataran Masjid Raya Bandung Jawa Barat. Karena kami datang pagi-pagi sekali, suasana alun-alun masih relative sepi dan tidak banyak pengunjung.

Alun-Alun Bandung dan Sekitarnya

Pelataran masjid Raya Bandung ini mungkin merupakan pelataran masjid paling popular di Indonesia. Ada karpet rumput sintetis yang sangat luas yang bisa dipakai multi fungsi, mulai menampung jamaah sholat, tempat rekreasi keluarga, atau bisa jadi tempat mencari inspirasi dalam berbagai hal. Mulai menulis puisi, mengarang lagu, atau merancang perubahan haluan negara. Hahaha. 

Masjid Raya Bandung

Selain area luas di depan masjid, ada juga tatanan bunga-bunga berwarna-warni yang diatur dengan rapi di sisi kiri dan kanan karpet sintetis. Bunga-bunga ini menambah kesan cantik dari alun-alun ini. Jika dilihat dari titik terjauh alun-alun, pemandangan Masjid Raya dengan dua menara ikoniknya, karpet luas dan taman-taman cantik di sekelilingnya menjadikan view yang ditawarkan terasa lengkap.

Monumen Asia Afrika

Nuansa Jaman Kolonial

Tidak jauh dari area Masjid Raya ada gedung-gedung bersejarah seperti Museum Konferensi Asia Afrika dan Gedung Merdeka. Dari luar, gedung-gedung ini terlihat bersih dan terawat. Dengan tambahan aksen kursi-kursi dan bola-bola beton, pengunjung seperti diajak untuk menikmati nuansa dan suasana ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan sedang digalakkan. Setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan terakhir, yakni Lodge Maribaya.

Lodge Maribaya

Sebelum menuju ke Lodge Maribaya, kami sempatkan untuk menjemput teman kami yang asli Bandung. Mayan bisa nambah rame perjalanan kami. Jadinya kami total berempat sekarang.

Syukurlah suasana jalan lumayan lengang, tidak seperti kemarin yang padet sekali. Dengan situasi jalan yang tidak terlalu ramai, kami bisa menikmati pemandangan dan perjalanan dengan nyaman. Asyik sekali. Karena lokasinya cukup jauh kami beberapa kali harus bertanya kepada warga yang kami temui untuk memastikan bahwa kami tidak salah tujuan. Hal ini karena kami tidak yakin bahwa maps menunjukkan dan mengarahkan kami ke lokasi yang tepat, mengingat 2 malam sebelumnya kami disasarkan oleh gmaps ke sebuah gang buntu yang membuat kami harus berkendara mundur dalam jarak yang cukup jauh di larut malam.

Sampai di parkiran Lodge Maribaya, kami kembali tersenyum senang karena hanya sedikit kendaraan yang terparkir. Pastinya jumlah pengunjungnya juga sedikit. Dan benar saja, kami bisa mengeksplore tempat wisata ini dengan nyaman sekali karena memang sedikti jumlah pengunjung yang ada. 

Lodge Maribaya

Lodge Maribaya merupakan lokasi wisata yang menggabungkan lokasi camping di sisi bukit atau gunung dengan menawarkan area pandang yang luas, cuaca yang sejuk, pepohonan rimbun dan suasana yang tenang dan asri. Penataan lokasi wisata ini menurut saya sangat bagus sekali. Ada banyak sekali spot yang bisa dipakai untuk menikmati keindahan alam sambil menikmati makanan yang bisa dipesan di resto tempat wisata ini.

Bagi penyuka fotografi alias suka di foto, ada satu spot favorit yakni berfoto di sebuah pohon dengan view hamparan pepohonan menghijau di kawasan perbukitan. Untuk bisa berfoto di tempat ini pengunjung harus membayar dan mengantri karena peminatnya banyak sekali. Untungnya kami datang lebih awal sehingga antriannya masih belum panjang.

Sejenak Memacu Adrenalin

Selain spot favorit tersebut, masih banyak sekali lokasi yang bisa dipakai untuk mengabadikan keindahan Lodge Maribaya. Di antaranya jajaran pepohonan pinus dan bagian atas lodge maribaya dimana kita bisa memandang area wisata ini dengan lebih leluasa. Pengunjung juga bisa menikmati sajian kuliner di sini. Saya sempat mencoba es krimnya. Rasanya enak dan harganya masih masuk akal.

Cukup lama saya dan friends mengeksplore Lodge Maribaya. Saya benar-benar menikmati suasana sejuk dengan pemandangan indah yang tersaji di area wisata ini. Saya sampai kepikiran kapan-kapan ingin nge-camp wisata di tempat ini, karena sepertinya dijamin seru dan menyenangkan.

Dari Lodge Maribaya, kami balik lagi ke kawasan kota untuk makan siang di area Stasiun Bandung, berbelanja di Kartika Sari dan kemudian mengembalikan mobil rental kepada pemiliknya. Setelahnya kami kembali ke Jakarta dengan menumpang Kereta Api. Alhamdulillah akhirnya kami kembali ke Jakarta dengan selamat penuh suka dan cerita. 

Liburan mendadak Bandung ini sangat mengesankan sekali. Dengan perencanaan singkat dan itinerary yang fluid, kami mendapatkan banyak sekali lokasi dan pengalaman yang didapat. Tanpa satupun mall yang masuk dalam list perjalanan kami. Beginilah serunya perjalanan yang diarrange dalam waktu singkat, unsur surprisenya lumayan terasa. Mulai dari dadakan ngemotor di Tahura hingga sedikit jantungan di kawasan Punclut. Begitu serunya.. Semoga suatu saat nanti bisa napak tilas Mendadak Bandung ini.

Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...