Sabtu, 26 Desember 2020
Kembali Lagi ke Balekambang: Pantai Paling Populer di Malang Selatan
Minggu, 15 November 2020
Roland Juno Di: My First Synthesizer
Salah satu hobi saya adalah bermain musik. Adapun alat musik yang lumayan saya kuasai adalah Keyboard atau piano. Karena hobi, saya rela menabung lumayan banyak untuk membeli alat musik ini, karena dari sisi harga, alat musik ini memang relatif mahal jika dibandingkan dengan gitar misalnya.
Keyboard pertama yang saya beli adalah Roland Juno
Di. Saya membelinya pada tahun 2011 ketika saya masih
bertugas di Kendari Sulawesi Tenggara. Dengan bantuan teman yang punya relasi
toko musik, saya membeli keyboard ini lengkap dengan pedal, stand dan kabel
jack-to jack dengan harga 6 juta rupiah plus ongkir dari Solo, lokasi toko
penjual berada.
Saya membeli keyboard ini setelah
melakukan survey dan perbandingan lumayan lama. Ada banyak sumber yang saya
gunakan untuk melakukan survey tersebut utamanya youtube. Satu hal yang saya
kurang teliti sebelum membeli keyboard ini adalah keyboard ini adalah
synthesizer yang lebih cocok dipakai di atas panggung. Segmen dari
synthesizer adalah musisi profesional atau musisi dengan mobilitas tinggi dari
panggung ke panggung. Karena segmen yang demikian, saya sempat menyesal
ketika barang ini pertama kali tiba dan saya coba. Suara pianonya di luar ekspektasi saya,
kurang mellow kalo saya bilang. Selain itu dalam pendapat saya, suara pianonya sangat jauh dari
suara asli piano, kesan elektroniknya sangat terasa. Berikutnya yang menjadikan saya lumayan kecewa adalah suara string. Dari sekian
banyak suara string yang tersedia, tidak ada yang benar-benar menjadi favorit
saya. Selain itu, tipikal tutsnya
juga tidak selembut model Yamaha PSR yang sudah saya kenal, lebih keras dan
saya tidak nyaman dengan tuts model seperti ini.
Selama beberapa tahun saya sempat
menyesal membeli keyboard ini sampai akhirnya saya berkesempatan menggunakan ampli keyboard Roland KC
550. Perpaduan sesama produk Roland ini membuat karakter dan keunggulan
Roland Juno Di muncul. Sebagai informasi, Roland Juno Di tidak dilengkapi dengan speaker bawaan. Saya baru menyadari bahwa keyboard ini tangguh dan
istimewa. Jenis suara yang ada didalamnya mempunyai karakteristik tersendiri
yang sangat Roland. Saya semakin kagum dengan Roland Juno Di ini saat
mendengarkan suaranya dengan menggunakan Audio Technica ATH M-40X. Saya selama
ini memang salah memadukan keyboard ini dengan perangkat suara yang tidak
layak sanding.
Sampai saat ini keyboard ini masih
menjadi andalan saya ketika manggung atau melatih skill, karena tutsnya tahan
pukul. Saya juga menggunakan keyboard ini untuk explore suara-suara unik,
karena ciri khas dan kekuatan synthesizer memang ada pada segi tersebut. |
Ketika Laptop Incaran Saya Raib dari Pasaran
|
Bulan ini saya sedang hunting laptop
untuk menggantikan laptop saya yang sudah mulai bermasalah baterai dan
keyboardnya. Selain dua masalah tersebut, laptop saya memang sudah waktunya
di-regenerasi karena saya membutuhkan prosesor yang lebih kuat dan tahan
lama. Setelah melalui survey dan browsing,
saya telah menemukan merk dan spek yang saya inginkan. Secara kemampuan dan
penampilan serta dari sisi harga, laptop ini sudah sesuai dengan keinginan dan
kebutuhan saya. Namun yang menjadi kendala, ketika saya memesan barang
dimaksud, ternyata barang tersebut sedang kosong alias out of market. Saya
beralih ke toko-toko online lain dan menanyakan stock laptop dimaksud.
Sebagaimana respon pada penjual online pertama, barang yang saya cari ini
sedang out of stock juga. Karena penasaran, saya pun menanyakan perihal stock
barang yang kosong ini ke situs resmi produk ini melalui email. Tidak lama
setelah saya kirim email, saya pun mendapatkan respon yang menegaskan bahwa
produk yang saya cari masih ada di pasar dan tidak sedang dis-continued alias
stop produksi. Selanjutnya dalam respon tersebut ditambahkan pula link pembelian
produk yang terhubung ke situs penjualan online terkemuka. Dari respon
tersebut, sayapun searching ke link pembelian produk. Hasilnya, podo wae,
karena penjual online pada gak punya stock. Karena laptop saya masih sanggup
bertugas, saya pun mengurungkan niat untuk buru-buru beli produk ini. Yang bikin saya sebel adalah, sudah tau
barangnya kosong kenapa etalase barang toko-toko onlinenya gak diilangin aja.
Bikin calon pembeli jadi kecewa. Mungkin biar karena kelihatan kalo tokonya
laris dan menambah pamor tokonya? Entahlah. Yang jelas hal ini bikin saya
jadi nyinyir ke beberapa toko online dengan menulis komen semacam ini, “kalo
harganya sudah naik jadi sekian juta, tolong hubungi saya ya gan”. Dalam pengamatan dan analisa saya yang hanya
berdasarkan kira-kira, saya mereka-reka kenapa barang/produk incaran saya
lenyap di pasaran.
Kembali ke beberapa tahun lalu, yakni
ketika ada perang produk handphone antara Asus Max Pro M1 vs Xiaomi Redmi
Note 5, saya yang saat itu sedang hunting HP baru tentu saja senang. Saya
berasumsi bahwa perang produk ini akan berlanjut pada perang harga. Namun
harapan saya tidak terwujud. Yang terjadi kemudian adalah raibnya barang ini
dari pasaran atau justru adanya lonjakan harga yang cukup signifikan dari
harga jual resmi yang direkomendasikan oleh vendor. Karena saya butuh segera
ganti handphone dan saya tidak mau mengeluarkan dana untuk barang yang harganya
dilambungkan, maka saya membeli seri lain yang secara spek tidak kalah dengan
barang yang saya incar namun dengan harga yang wajar. Selain beberapa poin di atas, saya melihat
ada beberapa sebab kenapa barang-barang elektronik yang sedang booming ini
tiba-tiba raib. Pertama: karena jasa Reviewer produk. Para reviewer ini,
entah bekerja sama atau tidak dengan vendor atau tidak, dapat menjadi alasan pendorong
seseorang untuk membeli barang yang direview. Apalagi jika dalam reviewnya
dibumbui kalimat promosi “produk ini luar biasa”, “lebih murah dari
seharusnya”, dan “cepat beli sebelum ghoib”. Kalo banyak peminatnya, dikeep
aja dulu barangnya, siapa tahu bias dinaikkan harganya dan semakin tinggi
keuntungannya. Kedua: Diborong instansi yang kebingungan merealisasikan
anggaran. Dalam masa pandemik seperti ini, realisasi anggaran terutama untuk
perjalanan tugas luar daerah dan agenda-agenda lain akan tersendat. Agar anggaran
dapat direalisasikan, salah satu jalan keluarnya adalah dengan pengalihan
anggaran untuk membeli barang pendukung produksi atau kegiatan. Kalau instansi
memborong barang/produk, ya dijamin segera ilang produknya di pasaran. Demikian catatan uneg-uneg saya yang batal
beli laptop baru karena barangnya ghoib. Semoga tahun depan sudah ready lagi. |
Selasa, 13 Oktober 2020
Es Krim Ragusa, Penawar Dahaga di Tengah Panasnya Jakarta
|
Siang hari pada akhir bulan Agustus kali ini, suhu udara di Jakarta terasa sangat panas sekali. Matahari bersinar terik menyengat. Tidak banyak rangkaian awan yang menghalangi sinarnya. Dalam kondisi yang panas dan gerah seperti ini, sajian es krim akan menghapus dahaga sekaligus mewarnai hari agar tidak hanya diisi gerutu dari panasnya udara.
Ada beberapa lokasi di Jakarta yang menyajikan sajian es krim homemade. Salah satunya adalah es krim Ragusa. Lokasi toko es krim ini terletak di jalan Veteran I Nomor 10 Jakarta, tidak jauh dari Istana Presiden dan dekat dengan masjid kebanggaan Indonesia, Masjid Istiqlal.
Toko es krim Ragusa merupakan toko yang tampilannya unik karena mempertahankan nuansa jaman dulu. Mulai dari tampilan pintu toko, ornamen dan gambar hiasan dinding, serta interior didalamnya yang mempertahankan tampilan lawasnya. Selain itu ada beberapa barang yang menambah kesan dan suasana jadul di toko ini antara lain kursi rotan yang masih terawat baik, mesin kasir kuno yang antik, serta mesin-mesin pembuat es krim berukuran besar.
Sebagai toko es krim yang legendaris di Jakarta, es krim yang disajikan di toko ini mempunyai keistimewaan pada banyaknya pilihan yang ditawarkan masing-masing dengan rasanya yang sangat nikmat. Infonya, resep olahan es krim pada toko ini merupakakan resep asli dari Italia yang dibawa oleh pendiri toko es krim ini yakni keluarga Ragusa. Selain itu keistimewaan es krim di tempat ini adalah sajian es krim di toko ini dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet. Tentunya hal ini bisa mengurangi kekhawatiran para pelanggan setianya dari ancaman gangguan kesehatan karena bahan pengawet pada makanan.
Dari sekian banyak pilihan es krim pada daftar menu, saya memilih banana split untuk saya nikmati. Saya memilih es krim ini karena memang menu ini yang familier di benak saya dibanding nama-nama menu lainnya. Untuk urusan harga, menu es krim di tempat ini relatif terjangkau dibanding dengan reputasi dan popularitasnya yang melegenda.
Setelah antri memesan dan membayar, saya menunggu beberapa saat untuk dapat menikmati es krim yang saya pilih. Banana split yang saya nikmati pada saat itu memang luar biasa nikmat, terdiri dari tiga rasa es krim ditambah dengan guyuran coklat dan taburan remahan kacang. Manisnya pas dan pisangnya matang sempurna. Bagi saya banana split atau menu yang lain dari toko ini adalah sajian kenikmatan es krim yang sangat tepat dinikmati ditengah panasnya cuaca siang di Ibukota. Pantas jika toko es krim dengan tampilan jadul ini begitu populer.
Siang itu antrian pengunjung relatif banyak, namun durasi antrian tidak terlalu lama karena kasir dan penyaji es krim begitu cekatan. Karena masih dalam masa pencegahan penyebaran Covid-19, toko ini juga menerapkan physical distancing dimana antrian pelanggan diatur sedemikian rupa dan tidak ada meja yang bisa dipakai oleh pelanggan. Untungnya saat itu saya masih bisa menikmati sajian es krim di dalam toko. Walaupun tidak kebagian tempat duduk, pelanggan masih bisa menikmati es krim di luar, tepatnya di sisi sungai di depan toko. Sayangnya pemandangan sungai ini tidak menarik karena kotor dan lumayan berbau. Saya tidak menyarankan untuk menikmati es krim ini di dalam mobil atau dibungkus untuk dinikmati di rumah. Takutnya es krimnya mencair dan mengotori mobil atau sudah tidak karuan bentuknya ketika sudah sampai di rumah.
Demikian sedikit catatan saya tentang toko es
krim Ragusa dan sajiannya yang istimewa. Saya merekomendasikan tempat ini
bagi anda pencinta es krim yang tidak hanya ingin menikmati sajian es krim namun
sekaligus suasana unik di tengah-tengah Ibukota. Pun demikian dengan saya,
jika ada kesempatan, saya akan mencoba rasa baru sambil menikmati suasana di
toko es krim nikmat dengan resep asli Italia ini. |
Senin, 12 Oktober 2020
Belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare: Throwback
|
Kampung Inggris Pare Kediri merupakan salah satu lokasi yang sangat berkesan untuk saya. Di kota ini saya berkesempatan meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya yang di kemudian hari sangat berguna baik bagi karir maupun masa depan saya. Berikut ini merupkan sedikit catatan dan kenangan saya saat kursus Bahasa Inggris di Pare pada pertengahan April sampai Agustus 2008.
Saya membulatkan tekad untuk “bertapa” di Pare
setelah saya gagal dalam beberapa kali ujian masuk perusahaan atau instansi. Saya
berfikir bahwa kemampuan Bahasa Inggris saya masih sangat kurang sedangkan
tes masuk ke dunia kerja banyak diukur dari kemampuan Bahasa Inggris calon
pegawai yang akan direkrut. Dari tekad tersebut saya berangkat ke Pare hanya
berbekal sedikit informasi tentang tempat kursus, durasi serta biaya yang
dibutuhkan. Masa-masa kursus di Kampung Inggris Pare adalah salah satu periode yang paling
menyenangkan. Saya tidak merasa dikejar
tuntutan untuk segera dapat kerja. Saya merasa bebas di sini, benar-benar bebas tanpa beban pikiran. Bahkan saya tidak merasa perlu berkompetisi dengan sesama peserta kursus
untuk membuktikan siapa yang terbaik. Dengan tiadanya beban tersebut saya
merasa damai. Saya bisa menikmati setiap waktu dengan santai, tidak
diburu-buru oleh suatu apapun. Di kota ini pula saya merasakan waktu berjalan
dengan begitu lambat. Saya juga merasa bebas. Tidak ada target yang saya
tetapkan. Tidak ada pula keharusan untuk mencapai level tertentu dalam kursus
ini. Saya juga terikat dengan siapapun untuk menentukan lamanya waktu kursus
ini. Pada awalnya saya tidak menargetkan berapa lama akan menempuh pendidikan di kota ini. Pun saya juga tidak terlalu ambil pusing tentang lokasi kursusnya, karena saya berfikir bahwa keberhasilan pendidikan dan usaha kita, diri kita sendiri yang menentukan. Syukurlah ada teman dari kampung yang kebetulan berada di Pare. Dari informasinya saya kemudian mendaftar ke Mahesa, lembaga kursus yang termasuk “senior” dengan fasilitas dan kualitas yang bagus.
Berikut ini adalah lembaga kursus yang pernah menjadi lokasi saya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya. Mahesa: Lembaga kursus ini merupakan lembaga yang paling dominan untuk saya. Sebagian besar waktu kursus saya habiskan di lembaga ini. Saya belajar di lembaga ini pada dua bulan pertama dan bulan terakhir selama empat bulan di Pare. Pada dua bulan pertama, saya belajar tentang dasar-dasar grammar Bahasa Inggris. Pada masa itu, saya merefresh dan memperdalam kemampuan tata Bahasa Inggris secara mendasar dan menyeluruh dengan berbagai macam contoh. Tutor dan materi yang diberikan sangat membantu bagi para pelajar. Namun tetap hal itu bergantung pada niat dari peserta kursus, jika belajar dengan sungguh-sungguh, maka hasilnya akan bagus. Adapun bulan ke-empat atau terakhir di Mahesa, saya fokus pada pelaksanaan ujicoba tes TOEFL dan pembahasan soal-soalnya. Dengan banyak berlatih dan ujicoba sedikit banyak kemampuan untuk mengerjakan soal TOEFL akan semakin meningkat.
Selain kursus di Mahesa, saya juga tinggal di asrama
Mahesa. Asrama ini cukup nyaman, satu kamar ada yang untuk dua penghuni
maupun untuk 4 penghuni, tergantung ukurannya. Kamar mandinya terbatas namun
masih bisa menampung kebutuhan semua penghuninya. Keuntungan tinggal di
asrama adalah, selain biaya bulanan sangat murah, setiap malam para penghuni mendapat
fasilitas tambahan berupa program malam selama satu jam. Dalam program
tambahan ini, para penghuni belajar untuk pidato, diskusi, maupun refresh
pelajaran kursus. Program tambahan ini sangat bermanfaat untuk semakin
mempererat keakraban para penghuni yang berasal dari berbagai daerah dan
latar belakang.
The Daffodils: di lembaga kursus ini saya meningkatkan kemampuan dalam bidang pronunciation atau pengucapan Bahasa Inggris baik American Style maupun British Style. Selain itu, di lembaga kursus ini saya juga meningkatkan kemampuan listening dengan mempelajari sebuah lagu untuk kemudian menuliskan syair-syairnya. Praktek ini sangat membantu pelajar untuk memahami berbagai macam pengucapan kata atau kalimat pada Bahasa Asing. Pengajar di the Daffodils ini menurut saya sangat interaktif dan mampu menyampaikan materi dengan sangat baik. Selain itu para peserta juga antusias dengan caranya mengajar.
Elfast: Saya mengambil kursus di lembaga ini pada bulan ketiga di Pare. Fokus pendidikan di lembaga ini adalah meningkatkan nilai TOEFL. Saya merasa di bulan ketiga dan di lembaga inilah kemampuan Bahasa Inggris saya meningkat dengan sangat pesat. Saya dapat memahami trik-trik jebakan soal TOEFL sekaligus memilah jenis-jenis kedudukan kata dalam kalimat, baik sebagai subyek, obyek, dan verb. Selain itu, fokus pembelajaran di tempat ini berpusat pada pemmahaman tentang kalimat majemuk, dimana jenis kalimat ini seringkali menjebak peserta tes TOEFL.
SMART: Karena saking banyaknya pelajar yang
mendaftar di tempat ini, penyelenggara pendidikan di lembaga ini sampai harus
menambah jam kursus pagi sekali. Pukul 5.30 pagi. Saya mengambil kursus di
tempat ini untuk meningkatkan kemampuan membedah kalimat dalam Bahasa Inggris.
Pengajar di tempat ini saya akui kemampuannya. Walaupun masih muda namun luar
biasa kemampuan Bahasa Inggrisnya. Yang saya salut juga adalah semangat dari
para peserta kursus yang ikut kelas super pagi ini karena tidak banyak
peserta yang telat dalam mengikuti penyampaian materi. Di sisi lain saya juga
merasa bahwa pendidikan di waktu sepagi itu sangat bermanfaat karena otak
masih fresh, asalkan malam sebelumnya tidak telat tidur. Ada banyak kenangan istimewa dari masa belajar di Kampung Inggris Pare. Pertama biaya makan dan biaya hidup yang sangat murah. Harga makanan di kawasan Pare sangat murah. Dengan biaya yang relatif mepet, kita masih bisa survive dalam beberapa hari. Memang ada berbagai macam pilihan dan harga makanan, namun semahal-mahalnya harga makanan di Pare, masih jauh lebih murah dibanding dengan kota-kota lain. Adapun makanan favorit saya adalah nasi pecel telur yang harganya hanya Rp1.500 per porsi.
Kedua, bersepeda kemana saja. Dalam kawasan yang relatif
tidak terlalu luas, sarana transportasi sepeda yang bisa diandalkan adalah
sepeda. Lokasi belanja, wisata kolam renang, pasar rakyat, dan lokasi kursus
dapat ddengan mudah diakses dengan sepeda. Di Pare saya mendapat lungsuran
sepeda dari teman kampong yang menyelesaikan pendidikan lebih awal. Dengan
sepeda model mini itu saya menjelajahi sudut-sudut kampung Inggris. Sebagai
tambahan informasi, peserta kursus tidak harus beli sepeda, ada juga
persewaan sepeda yang harganya lumayan murah.
Ketiga, Teman dan cerita dari berbagai daerah. Ada banyak teman yang datang dan pergi silih berganti. Ada teman dari Kalimantan Selatan, Fahrur, yang punya penyakit asma namun masih bandel merokok. Ada Aam dari Bojonegoro yang solider dan ceria. Ada juga Fajar, alumnus UMM Malang yang berasal dari Tulungagung yang pembawaannya santai dan cool. Berikutnya ada Mujahid, pelajar dari Sumatera yang sangat religious, cerdas dan sopan. Paling seru tentu saja si Omi dari Timor Leste. Bocah keling ini merupakan penghuni Asrama Mahesa yang sangat unik dan banyak membuat cerita konyol dan lucu.
Tentunya masih banyak teman dan kisah-kisah lainnya,
namun tidak mungkin bisa saya rinci satu persatu dalam blog singkat ini. Satu
yang pasti, sebagaimana saya sebutkan di bagian awal catatan ini, Pare
memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya, yakni kesan tentang kebebasan,
kedamaian dan masa-masa yang menyenangkan dalam penggalan kisah hidup saya.
|
Minggu, 11 Oktober 2020
Kenangan Tentangmu by LM
Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh
Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...
-
Saya cukup gembira melihat bahwa kini masyarakat pedesaan bisa memanfaatkan peluang bisnis di daerahnya sendiri. Salah satu model peluan...
-
Sulawesi Tenggara menyimpan banyak lokasi wisata yang masih belum dieksplorasi oleh para pencinta alam. Salah satunya adalah Pulau Laben...
-
Sejak duduk di bangku sekolah tingkat dasar, aku telah tertarik dengan dunia sejarah. Dengan mempelajari sejarah aku dapat membayangkan kej...



































