Kamis, 12 Juli 2018

Rihlah PeDLN ke Blackpool: Sekilas tentang PeDLN, Rihlah PeDLN dan Keindahan Blackpool

Komunitas warga muslim Indonesia di Nottingham dan sekitarnya mempunyai suatu wadah bernama Pengajian Derbyshire, Leicestershire, dan Nottinghamshire atau disingkat PeDLN. Pengajian ini rutin mengadakan pertemuan sebulan sekali dengan mengambil tempat di kediaman warga Indonesia di Nottingham atau menyewa sebuah lokasi pertemuan publik. 
@Blackpool UK

Sepanjang keikutsertaanku di komunitas ini, PeDLN bersifat terbuka, siapapun bisa datang tanpa melihat background agama dan rasnya, walaupun acara utamanya pengajian. Pengajian yang dilaksanakan seringkali berupa tausiyah atau penyampaian pesan dan nasihat kepada para jamaah yang hadir. Khusus untuk anak-anak yang hadir, penggiat pengajian ini memfasilitasi pengajaran Al-Quran dan tata cara beribadah seperti wudhu dan sholat. 
Jamaah PeDLN dalam Suatu Kesempatan
Selain pengajian rutin, jamaah PeDLN juga mengagendakan perjalanan ke luar kota bersama-sama atau kami sebut rihlah PeDLN. Kebetulan saat aku di Nottingham PeDLN mengadakan rihlah ke kota Blackpool. Dan inilah sekelumit catatan dari rihlah tersebut.
Perjalanan dimulai dari kampus UoN, lokasi berkumpulnya para peserta rihlah. Meskipun jadwal sudah ditentukan oleh panitia, tetap saja banyak peserta yang tidak datang tepat waktu sehingga menyebabkan keberangkatan menjadi terlambat. Namun demikian keterlambatan ini tidak terlalu membuat risau karena rombongan akhirnya berangkat, dengan menggunakan bus berukuran besar.
Perjalanan menuju blackpool ini terasa nyaman dan menyenangkan karena cuaca saat itu lumayan cerah. Selain itu jalanan yang lancar juga membuat perjalanan jauh ini tidak terasa membosankan. Cukup lama juga perjalanan ini karena lokasi Blackpool sangat jauh dan membutuhkan waktu lebih dari 3 jam perjalanan.
Markas Tim Sepak Bola Blackpool FC

Stanley Mortensen Legenda Sepakbola Blackpool
Sekira pukul 11 waktu setempat, kami sampai di sebuah taman di Blackpool. Taman ini cukup luas dan dilengkapi dengan arena permainan anak yang terbuka dan gratis untuk umum. Di taman ini seluruh makanan digelar oleh peserta rihlah. Berbagai jenis makanan yang menggiurkan ditawarkan. Semua peserta rihlah bebas memilih makanan apapun yang disukainya dan berapapun jumlahnya. Sesi yang menyenangkan semua orang.
Makan Siang Penuh Keakraban
Seusai makan siang, acara dilanjutkan dengan beberapa perlombaan yang difasilitasi oleh panitia rihlah. Ada lomba tebak kata bagi bapak-bapak dan lomba kelereng bagi anak-anak. Sesi lomba ini membuat suasana menjadi semakin ceria, karena mengingatkan peserta rihlah akan kebiasaan di tanah air. Setelah pelaksanaan lomba-lomba ini, aku memisahkan diri dari rombongan untuk hunting foto-foto di areal taman yang luas ini.
Gak Mau Kalah Sama Peserta Lomba Cilik
Di areal taman ini terdapat sebuah danau yang tenang dengan berbagai jenis burung yang menghuninya. Aku menyusuri tepian danau sambil mengabadikan suasana danau ini. Danau ini lumayan luas dengan pemandangan menyejukkan di sekelilingnya. Ada juga angsa-angsa yang mengambang bebas di berbagai sisi danau. Pengunjung tidak hanya bisa memandangi danau ini, bagi yang ingin menikmati sensasi mengarungi danau, ada beberapa perahu kayuh yang disewakan di sini.
Danau yang Tenang di Areal Taman

Sensasi pemandangan yang Mengesankan

Berenang atau Mengambang?
Dari danau ini aku menuju ke taman yang sangat cantik dengan air mancur berada ditengah-tengahnya. Di taman ini bunga-bunga tumbuh dengan indah dengan titik sentral berupa air mancur. Ada juga beberapa patung yang dibangun disini. Adanya patung-patung ini membuat pemandangan menjadi semakin berkesan.
Menuju Sisi Lain Taman

Taman, Walking Area, Kolam dan Air Mancur Blackpool Punya

Patung yang Menambah Cantik Taman
Cukup lama aku berada di taman ini, selain untuk menikmati momen dan keindahan taman, aku juga mencari spot terbaik untuk diabadikan melalui kamera. Pemandangan indah hari itu didukung dengan cahaya matahari yang kuat menyinari. Walaupun matahari cerah bersinar namun udara terasa sejuk karena hembusan angin cukup kuat.
Mekar Sempurna Cerah Merona

Warna-Warni Indah 

Sementara Itu, Di Sisi Lain Taman
Aku kemudian kembali ke rombongan untuk menuju lokasi berikutnya yakni Blackpool Central Mosque. Walaupun menyandang gelar central mosque, ukuran masjid ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan ukuran standar masjid di Indonesia. Namun alhamdulillah masjid ini dapat menampung peserta rihlah dalam menunaikan sholat berjamaah.

Dari central mosque, peserta rihlah diarahkan untuk menuju ke Blackpool Piers, kawasan pantai dengan berbagai macam obyek wisata, mulai dari pantai dengan hamparan pasir yang luas, arena bermain ketangkasan, museum lilin, toko souvenir, pusat perbelanjaan dan restoran. Disepanjang jalur jalan raya didekat pantai terdapat jalur tram yang dalam interval waktu tidak terlalu lama dilintasi tram dengan model kuno yang unik. Tram-tram ini membuat pemandangan di Blackpool semakin menarik.
Central Pier 

Tram Dengan Tampilan Kuno

Tram Unik Melintasi Jalurnya
Atraksi utama yang ada di pantai Blackpool ini menurutku adalah Pier atau anjungan buatan yang menjorok ke arah pantai. Di anjungan-anjungan ini terdapat berbagai arena permainan diantaranya bianglala raksasa dan ayunan warna warni. Anjungan-anjungan ini juga menyediakan stand penjual makanan maupun minuman yang memudahkan pengunjung membeli snack atau menghilangkan dahaga. 
Central Pier Dilihat Dari Pantai

Dibawah Terik Matahari
Selain anjungan-anjungan ini, pantai Blackpool juga mempunyai sebuah menara yang ikonik, yakni Blackpool Tower. Sekilas, bentuk bangunan ini serupa dengan Menara Eiffel namun dalam skala yang lebih kecil dan berwarna merah. Meskipun berukuran lebih kecil dari eiffel, menara ini dapat dilihat dari berbagai sudut pantai Blackpool. Pengunjung sebenarnya bisa naik ke puncak menara ini untuk melihat pemandangan Blackpool dan pantainya dari ketinggian. Namun karena waktu yang tidak terlalu lama dan harga tiket yang relatif mahal aku urung naik ke puncak menara ini.
Mengarah Kedepan

Pantai, Laut, Pier dan Blackpool Tower

Red Eiffel Maybe?
Cuaca sore itu sangat cerah dengan sedikit awan di langit. Pemandangan yang lumayan jarang diperoleh di UK. Di jalanan, suasana sangat ramai oleh pengunjung. Ada yang berlalu lalang di jalanan, ada yang mengunjungi stand-stand souvenir dan berbagai aktifitas lainnya. Dari berbagai macam aktifitas ini, aku dan beberapa peserta rihlah memilih untuk duduk santai di tepian pantai. Dari lokasi ini aku dapat menikmati view yang luas dan hangatnya sinar mentari senja. Cukup lama aku menikmati senja yang cerah di Blackpool ini sampai tiba waktunya kami kembali ke bus yang akan membawa kembali kembali ke Nottingham.
Pantai Dengan Hamparan Pasir yang Sangat Luas

Spektakuler di Malam Hari, Katanya..

Menuju Senja
Alhamdulillah, rihlah PeDLN dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan. Dengan rihlah ini, rekreasi rohaniah dan jasmaniah dapat diperoleh sekaligus. Rihlah yang sangat bermanfaat untuk memupuk kebersamaan diantara warga Indonesia yang ada di Nottingham dan sekitarnya. Semoga PeDLN tetap lestari dan semakin khidmat dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.



Minggu, 08 Juli 2018

Nonton Coldplay, The Best Band of the World


Sebelum berangkat ke UK aku mempunyai cita-cita nonton konser musik klasik di theatre atau hall. Namun sampai dengan selesainya masa studiku di UK, aku tidak sempat menyaksikan pagelaran musik klasik apapun. Namun demikian aku masih bersyukur mendapat kesempatan menonton konser salah satu band terbaik di dunia yakni Coldplay.
Tiket Lungsuran Coldplay 
Pada awalnya aku tidak berniat menonton konser Coldplay ini. Saat rekan-rekanku di Nottingham sibuk membeli tiket presale, aku sama sekali masih belum tertarik. Selain karena harganya mahal, aku juga tidak terlalu tune-in dengan jenis musik yang dibawakan oleh Coldplay. Tapi emang kalo rejeki ngga bakal kemana. Tanpa kuduga ada salah satu teman yang batal nonton dan menawarkan tiketnya kepadaku dengan harga sesuai yang tertera di tiket. Padahal bisa saja dia menaikan harga tiketnya dan mengambil keuntungan dari sana atau menjual ke orang lain yang berani menawar lebih tinggi. Rejeki anak sholeh.. ehh,, anak band.
Hari itu tanggal 11 Juli 2017. Aku bersama rekan-rekanku berangkat ke Principality Stadium di kota Cardif Wales untuk menonton konser Coldplay. Total kami menyewa 3 mobil yang masing-masing diisi 4 sampai 5 penumpang. Perjalanan panjang dari Nottingham menuju Cardif memakan waktu sekitar 4 jam dan selama perjalanan hujan turun tiada henti. Syukurlah walau cuaca sedang tidak bagus, kami dapat sampai dengan selamat di kota Cardif.
Setelah memarkirkan kendaraan di salah satu mall, kami bergegas menuju ke lokasi acara yang jaraknya masih lumayan jauh. Kami semua berjalan dalam cuaca hujan dengan memakai atribut anti hujan masing-masing. Sebelum mengantri untuk masuk stadion, aku sempatkan untuk memakan bekal yang aku bawa dari rumah. Karena kelaparan dan ga nemu lokasi makan yang memadai, akhirnya aku makan di salah satu lorong di luar stadion. Kalo inget saat itu, ngerasa gada bedanya sama gelandangan.
Setelah perut kenyang, aku menuju ke lokasi antrian sesuai dengan nomor tiket. Setelah beberapa lama mengantri dalam cuaca dingin dan dibawah guyuran hujan aku akhirnya dapat melewati pos pemeriksaan tiket dan pengawasan keamanan tanpa halangan.
Band Pembuka Beraksi
Di dalam stadion, para spectators sudah disuguhi oleh konser pembuka dari band yang tidak aku ketahui namanya. Band ini lumayan atraktif dalam memacu tensi penonton setelah kedinginan dan kehujanan saat mengantri masuk arena konser. Pada saat konser pembuka ini aku mengamati betapa stadion yang sebegitu besar dapat dimanfaatkan menjadi sebuah theatre raksasa. Hari itu di stadion Principality dipasang panggung megah dengan tata cahaya luar biasa dan dua layar relay di sisi kanan dan kiri. Sebagai faktor utama keberhasilan suatu konser, sound system yang digunakan saat itu juga tertata dengan sempurna dengan kekuatan yang luar biasa. Dengan penataan yang tepat, semua spectators dapat mendengarkan konser dengan kualitas yang sama walaupun berbeda-beda lokasinya. Satu info tambahan, walaupun saat itu kota Cardif sedang diguyur hujan, namun penonton konser tetap aman dari dinginnya cuaca karena atap stadion ditutup untuk melindungi para penonton. Luar biasa.

Coldplay.. Akhirnya sang penampil utama menunjukkan aksinya. Suasana stadion seketika bergemuruh ketika sang vokalis menyapa dan mengajak penonton yang hadir untuk ikut bernyanyi. Terus terang saja aku bukan termasuk penggemar Coldplay. Karenanya, aku tidak hafal lagu-lagunya, kecuali reff-reff lagu-lagunya yang familiar di telinga. Namun demikian aku tetap dapat menikmati hantaran musik yang disampaikan dengan apik oleh Coldplay malam itu. Aku hanya penikmat musik yang suka dengan tata sound system dan konser yang bagus, dan kebetulan Coldplay, dengan didukung dengan kualitas tata sound system yang luar biasa, menampilkan konser yang sempurna.
Tata Cahaya yang Luar Biasa
Riuh Spectators Menyanyi Bersama

Stadion Bola Yang Penuh dengan ColdplayHolic
Mohon maklum anak ndeso nonton konser band dunia, aku masih belum habis pikir gimana caranya gelang plastik yang diberikan panitia bisa menyala warna-warni secara otomatis. Gelang ini menjadikan konser menjadi semakin semarak karena dipakai oleh hampir semua penonton yang hadir. Pada saat-saat tertentu gelang ini tidak menyala, namun pada saat yang lain gelang ini bergonta-ganti warna mengikuti dentuman musik yang dibawakan oleh Coldplay. Sekali lagi, luar biasa.
Konser Coldplay ini berlangsung selama 2 jam. Selama itu Coldplay dengan enerjik membawakan lagu-lagu andalannya. Sebagaimana Coldplay selaku penampil utama, penonton konser ini juga tidak pernah kehabisan energi untuk bergerak bersama mengikuti irama lagu. Benar-benar konser dan malam yang luar biasa bagi semua yang terlibat dalam pagelaran ini. Di tengah-tengah konser, Coldplay sempat menutup konser dan pamitan dari panggung. Namun tidak lama kemudian, seluruh personel Coldplay tiba-tiba muncul di tengah-tengah lapangan dan memainkan beberapa lagu dengan  konsep akustik. Setelah itu, Coldplay kembali lagi ke panggung utama untuk meneruskan beberapa lagu.
Pindah Stage, Main Akustik, Memuaskan Penonton
Tidak terasa konser megah dan terbaik ini harus berakhir. Aku sangat puas karena konser Coldplay merupakan konser yang ditunggu-tunggu oleh banyak penggemarnya di seluruh dunia. Selepas ucapan perpisahan oleh Chris Martin, saatnya kembali ke Nottingham, saatnya kembali ke kehidupan “normal”. Di perjalanan kembali ke Notts, kami berombongan sempat  istirahat sebentar di rest area untuk makan malam. Setelahnya kami langsung kembali ke Notts non-stop. Perjalanan pulang tersebut menjadi perjalanan yang seru karena di perjalanan kami melihat pergantian dari gelap ke terangnya pagi.
Setelah mengembalikan mobil ke perusahaan rental, kami kembali ke tempat tinggal kami masing-masing dengan perasaan lega karena sudah terpuaskan dengan konser level dunia dan kembali tanpa kekurangan suatu apapun.


The Beatles Story, Menyaksikan Peninggalan Band Terkemuka di Masanya


The Beatles Story Albert Dock Liverpool

Sebelumnya aku tidak mempunyai rencana untuk mengunjungi museum ini pada saat datang ke kawasan Albert Dock Liverpool. Namun saat melihat kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi nantinya, aku dan rekanku, Rendy, akhirnya memutuskan untuk tidak menyia-nyiakannya. Dengan tiket sebesar 14 Pound per-orang, aku melihat koleksi peninggalan salah satu band yang terbesar dan terpopuler sepanjang masa, The Beatles.
Lorong Pertama, Tempat Pembelian Tiket
Seusai melakukan pembayaran tiket, semua pengunjung mendapatkan satu alat guide portable yang digunakan sepanjang tour di museum ini. Alat portable ini akan menunjukan gambar serta audio yang menjelaskan mengenai tempat yang sedang dipamerkan. Alat ini sangat membantu setiap pengunjung untuk lebih memahami sejarah serta kisah tentang apa saja, baik barang, replika maupun set yang sedang dipamerkan.
Kisah Masa Kecil Personel The Beatles
Dari lokasi pengambilan alat bantu guide, pengunjung disuguhi foto dan penjelasan mengenai kisah masa kecil masing-masing personel hingga akhirnya mereka berkenalan dan berkumpul dengan personel yang lain. Berikutnya dipamerkan alat-alat musik yang pertama kali digunakan oleh personel-personel the beatles, mulai dari gitar akustik, drum set hingga alat pemutar musik yang sudah jadul.
Diantara Alat-Alat Pertama yang Dipakai Personel the Beatles 

Museum ini berusaha menampilkan sejarah the Beatles secara total. Banyak setting lokasi yang berkaitan dengan sejarah the Beatles, diantaranya lokasi bar atau pub pertama mereka berkumpul atau nongkrong. Museum ini juga menampilkan setting lokasi jalanan pub tempat mereka manggung hingga setting panggung dan peralatan band mereka saat perform. Totalitas yang luar biasa yang mampu membuat pengunjung museum ini ikut merasakan suasana saat the Beatles berjuang menggapai ketenarannya.
Suasananya Dibangun Semirip Mungkin dengan Lokasi Aslinya

Salah Satu Setting Lokasi the Beatles Perform

Salah satu bagian dalam museum ini menampilkan salah satu tour yang paling diingat dari band legendaris ini, yakni magical mystery tour. Tidak hanya itu, museum ini juga menampilkan replika poster konser pertama the Beatles di luar negeri, tepatnya di Hamburg Jerman pada tahun 1960. Selain itu, ada juga cover album the Beatles yang sangat fenomenal. Album ini berjudul Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band. Salah satu hal yang paling diingat dari cover album ini adalah kostum the Beatles yang berwarna-warni bagaikan para bangsawan dari dunia dongeng. Dan, museum ini menampilkan diorama khusus album ini dengan total. 
Konser Pertama the Beatles di Luar UK
Cover Album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band  
Selain setting lokasi, ada juga diorama yang menggambarkan saat-saat bersejarah the Beatles. Salah satunya adalah diorama interior pesawat terbang yang mengisahkan  perjalanan konser pertama the Beatles ke USA. Melalui alat bantu guide pertable, pengunnjung dapat mendengarkan suasana riuh fans the beatles berteriak histeris di luar bandara yang menyerupai suara sekumpulan lebah. Di bagian lain museum ini ada juga diorama kapal selam kuning yang terinspirasi dari lagu/album the yellow submarine. Diorama ini berukuran besar sehingga dapat dimasuki beberapa orang.
Diorama Pesawat Saat Membawa the Beatles Konser Pertama di USA

Diorama Yellow Submarine

Aku merasakan suasana berbeda saat melihat foto konser terakhir the beatles dengan personel lengkap yang dilangsungkan di atap sebuah gedung. Aku menyayangkan bahwa masa kebersamaan mereka berlangsung dengan singkat walaupun legacy mereka masih terasa hingga sekarang. Lama aku mengamati foto-foto konser terakhir ini karena ingin merasakan bagaimana salah satu band terkemuka di dunia ini mengakhiri masa kejayaannya. Museum ini mengisahkan cerita dibalik konser terakhir ini lengkap dengan foto-foto serta rekaman video konser yang fenomenal tersebut.
Unanounced Live Concert @the Aplle Building Rooftop
Menjelang akhir bagian museum, ditampilkan kisah para punggawa the Beatles setelah band kebanggaan Liverpool ini bubar. Walaupun sudah membubarkan diri, para personel the Beatles  masih berkecimpung di dunia music. Koleksi terakhir sebelum keluar dari bagian utama museum menampilkan koleksi khusus tetang John Lennon. Mulai dari kaca mata yang sering dipakainya, jaket kesayangannya, beberapa foto serta setting lokasi tempat John Lennon mengarang lagu fenomenal “imagine” lengkap dengan piano dan gitar yang dipakai untuk mengarang lagu tersebut. Terakhir, sebelum keluar dari gedung museum, pengunjung dapat beristirahat sebentar sambil menikmati sajian dari cafĂ© yang menyatu dengan tempat penjualan souvenir the Beatles.
Setting dan Alat Asli Untuk Menciptakan Lagu Imagine
Bagi penggemar the Beatles, museum ini akan mengingatkan mereka akan sejarah band pujaan mereka secara lengkap. Namun demikian, mungkin mereka akan ikut terbawa suasana yang dibangun oleh museum ini ketika memasuki ruang atau bagian yang menceritakan akhir dari band legendaris ini. Saya membayangkan mereka pastinya akan menyayangkan mengapa band ini begitu singkat menghibur penggemar musik di seluruh dunia. Namun demikian, masa yang relatif singkat itu dipenuhi dengan karya-karya fenomenal yang masih lestari diperdengarkan hingga saat ini.

Bath Kota Kuno Yang Menawan


Bath Royal Crescent 

Perjalanan ke Bath merupakan satu rangkaian dengan trip ke Stonehenge. Jarak Stonehenge ke Bath relatif jauh, namun perjalanan ini terasa menyenangkan karena pemandangan di sepanjang jalan menuju bath sangat mengesankan, khas countryside UK. Sejuk dengan hamparan padang rumput luas. 
Rombongan sampai di Bath pukul 14.30. Panitia tidak memberikan agenda khusus kepada peserta tour, kecuali waktu berkumpul kembali di Bus pukul 17.00 waktu setempat. Kota Bath menurutku sangat elegan dan menawan. Paduan gedung-gedung dengan taman-taman indah menjadikan kota ini terlihat sangat cantik. Bath mempunyai sangat banyak lokasi yang bisa dikunjungi. Dari sekian banyak lokasi tersebut, aku penasaran dengan the Circus dan Royal Crescent. Namun sebelum ke dua lokasi tersebut kami menengok sebentar beberapa tempat yang populer, diantaranya: Bath College, kampus dengan arsitektur kontemporer, Bath Abbey, sungai indah berpadu dengan gedung-gedung artistik, pusat perbelanjaan dan jalanan yang dipenuhi dengan wisatawan. Sebagai informasi, Bath terkenal dengan pemandian air panas alaminya yang tersebar di beberapa tempat. Di lokasi-lokasi tersebut terdapat antrian pengunjung yang ingin melihat bagian dalam dari pemandian air panas ini. Karena berbayar dan antriannya panjang, kami putuskan untuk skip tour of the hot spring ini.
Kampus Bath College
Bath Abbey yang Megah
Perpaduan Taman, Avon River dan Seni Arsitektur yang Menawan

Kota Bath saat itu sangat ramai pengunjung. Hal ini dapat dimaklumi karena berbagai sudut kota Bath memunculkan romantisme dan kejayaan masa lalu. Gedung dan bangunan di kota ini seperti di desain dengan seni artistik tingkat tinggi. Bahkan dari paving jalananpun terlihat suasana kota yang unik dan khas. Selain itu ada banyak kereta kuda yang melintas membawa wisatawan menyusuri sudut-sudut kota Bath. Kereta kuda berukuran besar dan ditarik menggunakan dua kuda ini juga didesain dengan sangat menarik dan elegan, menjadikan siapapun yang menaikinya akan merasakan sensasi menjadi bangsawan jaman dulu.
Bath Sore Itu, Ramai Penunjung
Kereta Kuda di Bath
Melanjutkan explore Bath, kami berjalan kaki menuju ke the Circus. Dilokasi ini terdapat konfigurasi gedung yang berbentuk bundar yang menghadap ke sebuah taman dan dikitari oleh jalan raya. Konfigurasi ini mungkin banyak ditemui di beberapa kota lain namun formasi di Bath menjadi istimewa karena gedung yang menghadap ke bundaran ini mempunyai ukuran, warna, dan bentuk yang sama. 
The Circus
Salah Satu Nama Jalan di the Circus

Aku agak menyesal karena datang ke kota ini saat musim dingin baru saja berakhir, dimana pepohonan masih belum berselimutkan dedaunan. Meskipun begitu, hal ini tidak mengurangi kekagumanku pada kota dan orang-orang yang mendesain dan membangun kota ini. Dari the Circus, kami melanjutkan explore ke Royal Crescent, gedung berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran yang luar biasa. Gedung megah yang mempunyai banyak fungsi, baik museum, tempat tinggal, maupun lokasi peristirahatan tamu penting.  
Salah Satu Sisi Royal Crescent

Megah dan Mengagumkan

Di depan gedung ini terdapat lapangan rumput yang sangat luas. Pengunjung bebas mau ngapain aja disini, mau loncat, lari, guling-guling atau bikin perusahaan travel juga bisa. Di tempat ini kami menikmati suasana senja yang sangat cerah. Sinar matahari tanpa hadangan awan tersebut menjadikan senja saat itu menjadi salah satu senja terbaek. Kami bercanda ria bersenda gurau dan menghabiskan banyak waktu di lokasi ini. Sebenarnya ada satu taman yang berukuran besar dan cantik di dekat Royal Crescent ini, namun karena sudah mendekati deadline waktu berkumpul, kami putuskan untuk segera kembali ke bus.
Menikmati Senja yang Menenangan di Bath
Menghabiskan Waktu Senja di Sini


Malam Menjelang, Pelancong Berangsur Pulang @BathUK
Menyusuri jalan setapak di tempat ini terasa sungguh mengesankan. Penataan tempat dan jalan yang walker friendly serta suasana kota yang artistik membuatku terpesona dengan kota ini. Benar-benar kota yang cantik sekaligus megah. Vibe yang diberikan kota ini sangat terasa sekali, benar benar terasa bedanya dengan tempat wisata yang lain. Nuansa ningrat, aristokrat, serta kemewahan dalam rupa gedung dan bangunan akan membuatku selalu teringat dengan kota ini dalam waktu yang lama.

Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...