Kamis, 30 Desember 2021

Ternate Yang Mengesankan

Menjadi ASN dan dapat mengunjungi kota-kota di Nusantara merupakan sebuah anugerah yang sangat saya syukuri. Ada kebahagiaan dan pengalaman yang bisa saya dapatkan ketika mengunjungi kota-kota atau tempat baru. Dalam kesempatan ini, saya ingin menuliskan perjalanan dan kesan saya saat mengunjungi kota Ternate.

Ternate di Kala Pagi

Saya berkesempatan mengunjungi kota ini pada saat ditugaskan menjadi panitia SKD CPNS di UPT BKN Ternate. Perjalanan ke Ternate di mulai dengan penerbangan dini hari pada pukul 01.30 dini hari. Penerbangan kala itu berlangsung lancar dalam cuaca yang cukup baik. Sesaat sebelum landing, saya mendapatkan pemandangan indah jajaran pulau-pulau indah di wilayah Maluku Utara. Jajaran pulau ini sungguh membuat saya terpesona dan takjub. Inilah kekayaan dan keindahan alam yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia terutama untuk warga Maluku Utara.

Ternate dan Pulau-Pulau di Sekitarnya

Sesuai dengan jadwal, pesawat yang saya tumpangi landing di Bandara Sultan Baabullah pada Pukul 7.30 waktu setempat. Keluar dari bandara, saya langsung dibuat kagum oleh kemegahan puncak Gunung Gamalama yang menjulang tinggi. Saya cukup beruntung karena puncak Gamalama saat itu tidak tertutup kabut sehingga saya dapat memandangi puncaknya. Sebagai informasi, Gunung Gamalama berada di tengah-tengah Pulau Ternate dan merupakan gunung berapi aktif yang seringkali menunjukkan eksistensinya dengan letusan-letusannya.

Puncak Gunung Gamalama

Di keesokan paginya, saya hunting moment terbitnya matahari di sebuah landmark di tepi laut Ternate. Di tempat ini terdapat tulisan Ternate dalam ukuran besar yang membelakangi pantai. Pagi itu kawasan ini cukup sepi, tidak banyak warga atau pengunjung yang terlihat. Selain itu kebersihan di kawasan ini sangat terjaga. Tidak terlihat sampah berserakan sepanjang yang saya  lihat.

Cantik dan Ikonik

Saya datang lumayan telat ke tempat ini karena matahari sudah lumayan tinggi saat itu. Meski demikian, pemandangan pagi itu masih sangat eksotik. Saya bisa menikmati hangatnya pagi dengan pemandangan indah jajaran pulau-pulau di kejauhan. Saya juga dapat menyaksikan jernihnya air laut di pulau ini. Saking jernihnya, ada warga yang berendam dan berenang di beberapa spot.

Bersih dan Rapi di Pantai Falajawa

Dari landmark Ternate, saya geser sedikit ke Pantai Falajawa. Di tempat ini ada pedestrian di sisi pantai yang ditata dengan rapi yang menambah cantik pemandangan di kota ini. Selain cantik, tempat ini juga sangat cocok digunakan untuk merasakan hangatnya sinar mentari pagi. Pedestrian ini juga lumayan panjang, jadi tidak perlu takut kehabisan tempat.

Setelah melaksanakan tugas menjadi panitia SKD di UPT BKN Ternate, saya berkesempatan untuk mengelilingi Pulau Ternate dan mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di pulau ini. Berikut ini adalah lokasi-lokasi yang sempat saya kunjungi:

Batu Angus

Lokasi ini merupakan tempat wisata alam berupa perpaduan antara sisi pulau dengan bekas lahar Gunung Gamalama yang mengeras. Yang menjadikan lokasi ini terlihat dramatis adalah gugusan hitam bekas lahar di berbagai sudut. Dengan mendatangi lokasi ini bisa dibayangkan betapa dahsyatnya letusan serta material letusan yang dikeluarkan dari dalam perut gunung pada saat letusan terjadi.

Prasasti Batu Angus

Areal tempat wisata ini cukup luas. Ada banyak spot yang bisa dipakai untuk mendapatkan karya fotografi atau sekedar mengabadikan moment untuk diupload di instagram. Yang perlu menjadi perhatian adalah cuaca dan suhu di Ternate yang bisa terasa sangat panas. Pada saat mengunjungi lokasi ini kita lebih baik menyiapkan pakaian yang sesuai. Baik dari topi, pakaian lengan panjang, kacamata hitam dan seterusnya.

Batu Angus dan Gunung Gamalama

Pantai Sulamadaha

Lokasi berikutnya yang saya kunjungi adalah Pantai Sulamadaha. Pantai ini merupakan pantai yang tenang yang dilengkapi dengan fasilitas tempat lesehan untuk menikmati keindahan pantai. Sajian utama di pantai ini adalah view pantai berupa hamparan laut dengan latar belakang pulau-pulau tetangga yang puncaknya menjulang tinggi.

Pantai yang Ditata Dengan Apik di Ternate

Salah Satu Spot View di Pantai Sulamadaha
Menurut saya pantai ini merupakan pantai berpasir dengan penataan yang paling baik di Pulau Ternate. Di pantai ini terdapat fasilitas bermain anak serta gasebo-gasebo untuk berteduh dari panasnya sinar matahari. Di sekitar gasebo-gasebo terlihat banyak lampu-lampu yang terpasang. Sayangnya saya tidak sempat menikmati malam hari di sini sehingga saya tidak bisa melihat dan menyaksikan suasana malam di tempat ini. 

Fasilitas Sudah Terhitung Lengkap

Pantai Jikomalamo

Lokasi berikutnya merupakan sebuah pantai yang juga menjadi diving spot. Pantai Jikomalamo yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pantai Sulamadaha ini menawarkan laut yang super jernih sehingga sangat cocok digunakan sebagai lokasi penyelaman. Selain air laut yang jernih, pantai ini juga mempunyai pemandangan pulau Hiri dan Halmahera di kejauhan. Dengan formasi seperti ini, lengkap sudah landscape alam yang ditawarkan. Untuk pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana, di tempat ini terdapat tempat makan yang lokasinya berada di atas laut. Sepertinya akan sangat menyenangkan menghabiskan liburan dengan berkumpul bersama rekan maupun keluarga di tempat ini.

Air Lautnya Super Jernih

Indah

Danau Tolire

Ternate mempunyai obyek wisata alam yang lenngkap, mulai dari pantai, gunung hingga danau. Salah satu danau di Ternate adalah Danau Tolire. Danau ini mungkin merupakan objek wisata utama di Ternate. Namun demikian pada saat saya ke danau ini, suasananya sangat sepi, tidak ada pengunjung lain yang datang. Mungkin karena hari itu bukan hari libur kerja. 

Danau Tolire, Terkenal Dengan Legendanya

Danau Tolire merupakan sebuah danau berukuran besar yang terkenal dengan legendanya yakni pengunjung tidak akan mampu melakukan lemparan batu hingga mencapai permukaan danau. Karena penasaran dengan legenda tersebut, dua rekan saya mencoba membuktikannya dengan melemparkan batu dari sisi danau. Dua rekan saya ternyata berhasil melemparkan batu hingga terdengar suara bahwa batu tersebut mencapai permukaan danau. 

Tanpa Pagar Pembatas/Pengaman

Di lokasi danau ini, pengunjung harus hati-hati saat berada di sisi danau karena tidak ada pagar yang membatasinya. Jika pengunjung terpeleset pada saat melempar, akibatnya akan fatal, karena sisi danau dengan permukaan danau sangat tinggi dan curam.

Makam Sultan Machmud Badaruddin II

Selain wisata alam, di Ternate kita juga melakukan wisata sejarah sekaligus wisata religi. Salah satunya adalah dengan berziarah ke Makam Sultan Machmud Badaruddin II. Beliau merupakan salah seorang pahlawan nasional perjuangan kemerdekaan RI karena perlawanannya terhadap penjajah kolonial Belanda. Pada saat diasingkan ke Ternate, kedudukan beliau merupakan Sultan di Palembang yang dimakzulkan oleh penjajah kolonial ke Ternate karena tidak mau kooperatif dengan musuh. 

Makam Sultan Mahmud Badaruddin II

Makam Sultan Mahmud Badaruddin II Diapit Makam Istri dan Menantunya

Makam Sultan Machmud Badaruddin II berada di komplek pemakaman umum namun mempunyai bangunan tersendiri. Bangunan tersebut berupa sebuah kubah yang tidak terlalu besar yang di dalamnya hanya berisi tiga makam yakni makam beliau, permaisuri dan seorang menantu beliau yang sekaligus menjadi ahli agama. Di luar kubah ini ada pula makam-makam pengikut dan keturunan Sultan Machmud Badaruddin II. Sebagai tambahan info, menurut warga setempat, makam ini sering dikunjungi oleh peziarah dan pejabat-pejabat terutama yang berasal dari Palembang.

Ngade

Lokasi wisata ini merupakan lokasi wisata di Ternate yang menurut saya paling memukau. Letaknya berada di salah satu lereng gunung Gamalama. Dari tempat ini, kita bisa melihat dengan leluasa landskap Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya. Saya bisa berlama-lama berada di tempat ini karena lokasinya yang sangat strategis. Ada pemandangan danau, gunung, laut, hutan, pulau serta pusat kota Ternate dari kejauhan. Ditambah dengan untaian awan yang mendung sore itu, pemandangan dari Ngade menjadi sangat spesial.

Pernah Di Sini

Tak Henti Mengagumi

Viewnya Istimewa

Satu hal yang perlu diperhatikan jika akan menuju ke lokasi ini, diperlukan keahlian dan kemampuan khusus dalam mengendarai kendaraan. Hal ini penting karena jalan menuju ke lokasi ini sangat terjal, berkelok-kelok dan curam. Selain itu, kondisi kendaraan harus dalam keadaan prima, karena satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Pantai Fitu

Jika anda pernah melihat lukisan pada mata uang pecahan Rp1000 beberapa periode lalu yang menggambarkan pemandangan alam berupa laut dan gugusan gunung di latar belakangnya maka Pantai Fitu merupakan lokasi aslinya. Di pantai ini pengunjung dapat menyaksikan dan membandingkan gambar di lembaran uang dengan pemandangan aslinya.

View Uang Seribu

Sebagaimana digambarkan di mata uang Rp1000, di pantai ini terdapat beberapa kapal nelayan berukuran kecil. Kapal-kapal ini sepertinya sedang diistirahatkan setelah digunakan. Di sisi lebih jauh, ada jajaran beberapa pulau yang menambah indah pemandangan.

Menenangkan Namun Kebersihannya Disayangkan

Sayangnya pantai Fitu ini kotor, banyak sampah terutama plastik yang tercecer di sekitar pantai. Menurut saya, pantai ini tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, padahal jika ditata secara professional lokasi ini bisa menjadi lokasi wisata yang strategis dan layak untuk dikunjungi.

Kantor Walikota Ternate dengan Latar Belakang Gunung Gamalama
Moment beberapa hari di Ternate cukup berkesan untuk saya karena di pulau ini saya disuguhi pemandangan akan keindahan alam yang luar biasa. Saya berharap suatu saat dapat kembali lagi mengunjungi pantai ini, bahkan jika kunjungan tersebut berupa penempatan di sana.


Selasa, 09 November 2021

Memori Dua Minggu di Jakarta Tahun 2008: Adu Nasib Tanpa Persiapan

Ada satu episode dalam hidup saya yang akan selalu saya kenang. Episode ini adalah ketika saya berkelana ke Jakarta selama dua minggu dengan harapan mendapatkan pekerjaan demi masa depan namun berujung dengan kegagalan.

Jakarta, Maret 2008

Episode ini tepatnya berlangsung pada Maret 2008. Saat itu saya sedang dalam kondisi galau karena sejak lulus kuliah pada awal tahun 2006 saya masih belum mendapatkan pekerjaan mapan. Hampir setiap saat saya hanya bisa berangan-angan kapan saya bisa mendapatkan penghasilan sendiri dan membeli barang-barang yang saya inginkan. Yang menjadikan saya semakin bertekad untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik adalah teman-teman kuliah yang sudah mendapatkan pekerjaan. Ada yang menjadi asisten dosen, menjadi PNS dan pekerjaan lain yang menurut saya bonafid.

Kondisi demikian membuat saya bertekad untuk mengadu nasib ke Jakarta. Modal utama saya waktu itu adalah kenekatan. Saya tidak mempunya gambaran dan rencana jelas tentang apa yang akan saya lakukan di Jakarta atau bagaimana mewujudkan cita-cita saya untuk mendapatkan pekerjaan. Saya hanya mengandalkan teman dan family yang ada di Jakarta.

Keluarga terutama Ibu menentang kenginan saya untuk pergi ke Jakarta. Saya dianggap belum siap untuk pergi merantau ke Jakarta serta belum jelas apa yang mau saya kerjakan di Jakarta. Meski demikian saya tetap nekat berangkat.

Saya berangkat ke Jakarta menggunakan Kereta Api Matarmaja dari Stasiun Malang Kota dengan tiket sebesar Rp55.000. Jika dibandingkan dengan saat ini, perjalanan menggunakan kereta api Matarmaja saat itu sungguh tidak nyaman. Jumlah penumpang melebihi kapasitas, banyak penjual asongan, peminta-minta, dan pengamen yang lalu lalang. Kereta Matarmaja sebagai KA ekonomi bersubsidi tidak dilengkapi dengan AC. Walaupun ada kipas angin, namun hanya spot-spot tertentu yang bisa merasakannya. Bisa dibayangkan betapa gerahnya suasana perjalanan menggunkan kereta api saat itu. Dalam kondisi yang sangat gerah tersebut, sejak naik hingga turun kereta, saya tidak pernah melepas jaket saya. Saya tidak mau ambil resiko kecopetan karena saya menyimpan tas kecil berisi dompet, HP dan dokumen penting di balik jaket saya. Lebih baik saya kegerahan sepanjang jalan dari pada kehilangan barang-barang tersebut.

Perjalanan dengan KA Matarmaja saat itu menghabiskan waktu selama 22 Jam, tepatnya pukul 12.00 siang berangkat dari Malang dan tiba di stasiun Pasar Senen Jakarta pukul 10.00 pagi di hari berikutnya. Durasi yang sangat lama itu di antaranya disebabkan oleh durasi berhenti di stasiun-stasiun yang molor. Seringkali kereta berhenti lebih dari 15 menit untuk menyaksikan kereta-kereta eksekutif bersimpangan atau melewati kereta Matarmaja. Pertunjukan kesenjangan yang nyata.

Di Jakarta saya dijemput oleh family, Afif, untuk kemudian lanjut menuju ke kosannya di daerah  Cempaka Mas. Di Kosannya yang berukuran sempit saya numpang istirahat untuk beberapa hari. Tidak ada kegiatan khusus selama saya numpang di sini. Sekali waktu saya di ajak ke Mall ITC Cempaka. Mall yang menurut saya waktu itu sangat-sangat besar.

"Mosok Gedung Sakmene Akehe Ganok Sing Gelem Nerimo Awakmu"

Beberapa hari kemudian saya ganti numpang di kosan teman kuliah saya yang berada di daerah JIEP Pulogadung, Dodie. Di tempat ini saya numpang cukup lama. Walaupun kosannya panas dan gerah, di kosan ini ada playstation dan berbagai macam judul film vcd bajakan. Lumayan, ada banyak hiburan agar saya tidak suntuk. Karena jam kerjanya terbagi dalam shift, pada siang hari saya sering di ajak keliling Jakarta. Yang masih saya ingat adalah ketika Dodie membawa saya ke Mall Ambassador. Di mall ini saya diajak makan di Resto Hoka-Hoka Bento. Ada satu momen dimana Dodie menenunjuk ke arah gedung-gedung tinggi sambal berkata “mosok gedung sak mene akehe ganok sing gelem nerimo awakmu” yang artinya “masak dari sekian banyak gedung, tidak ada yang mau menerima kamu kerja”. Perkataan singkat yang melecut semangat saya untuk tidak patah semangat dalam menghadapi masa depan. Saya tidak tahu bagaimana caranya namun saya yakin pada saatnya saya akan bisa menjadi sukses.

Wahana Kicir-Kicir di Dufan

Selain ngemall bareng, Dodie juga mengajak ke Dufan. Kami berangkat mulai pagi hari pada weekday agar puas bermain-main di Dufan. Karena sepi, antrian jadi tidak banyak dan kami bisa bolak-balik menjajal wahana yang kami suka. Mulai halilintar, kora-kora, kicir-kicir dan wahana-wahana lain yang menguji adrenalin. Satu wahana yang ternyata sangat bermanfaat saat cuaca sedang panas adalah istana boneka. Di sini saya bisa numpang mendinginkan badan dan beristirahat sejenak di atas perahu kecil yang melaju pelan.

Ngadem di Istana Boneka Dufan

Selain numpang di kosan Dodie, saya juga merepotkan teman kuliah yang lain, Rizqi. Rizqi saat itu sudah bekerja sebagai PNS di Kementerian PU dan tinggal di Kosan dekat kantor pusat Kementerian PU di daerah Blok M. Karena Dodie sedang sibuk terpaksa saya berangkat sendiri menggunakan Busway menuju kosan Rizqi. Rizqi akan menjemput di Masjid AlAzhar, namun karena HP saya mati karena kehabisan daya, terpaksa saya muter-muter dulu cari tempat numpang nge-charge. Untungnya saya akhirnya bisa numpang nge-charge bentar di sebuah konter pulsa dan kemudian menghubungi Rizqi agar menjemput saya. Saya hanya menginap selama semalam di kosan Rizqi karena dia harus keluar kota. Sebelum pamitan Rizqi sempat memberi uang jajan Rp50.000. Mayan bisa buat jajan atau menyambung hidup.

Dari kosan Rizqi, saya kembali ke kosan Afif. Di sini, Saya sempat membuat surat lamaran ke salah satu Hotel yang membuka lowongan kerja. Surat lamaran yang tidak pernah mendapatkan balasan walaupun penolakan.

Di Jakarta saya juga sempat maen ke rumah Wulan di Rawamangun, rekan kuliah di FH UB bersama Rizqi, Dodie,dan Afif. Di sini kami bernostalgia serta makan-makan bersama. Terus terang pada saat itu saya merasa minder karena hanya saya yang belum mendapatkan pekerjaan jelas.

Wulan dan Rizqi

Setelah beberapa hari lagi numpang, Ibu di rumah menelepon agar saya pulang ke Malang. Beliau tidak tega saya klontang-klantung tidak jelas di Jakarta. Saya pun jadi bimbang dan sudah tidak bersemangat untuk lebih lama berada di Jakarta. 



Pemandangan Stasiun Gambir di Tahun 2008

Tepat dua minggu berkelana di Jakarta saya ikut Afif ke Cirebon untuk mengunjungi kakaknya. Dua malam saya menginap di Cirebon untuk kemudian pulang ke Malang menggunakan bus antar kota. Alhamdulillah keesokan harinya saya tiba di Malang dengan selamat dan dengan perasaan kalah, karena merasa cepat sekali menyerah sebelum berjuang dengan sepenuh tenaga. 

Sempat Mampir di Cirebon Sebelum Balik ke Malang

Sebagai manusia yang mempunyai sifat kompetisi, kita harus berjuang dan berusaha menggapai kesuksesan. Kita dibekali modal kekuatan dan kemampuan untuk bisa meningkatkan taraf hidup kita. Yang berbeda mungkin dari masing-masing kita ada lah kemauan untuk mencari peluang, memanfaatkannya dan mewujudkannya.

Yang juga menjadi pelajaran adalah pentingnya menyiapkan diri baik kondisi fisik, mental maupun kemampuan sebelum “bertempur” di sebuah arena kehidupan. Pengalaman saya saat pertamakali mengadu nasib ke Jakarta, saya tidak mempunyai bekal yang cukup selain gelar S.H. di belakang nama saya. Kemampuan berupa soft skill, jaringan, komunikasi dan persiapan mental saya saat itu masih sangat kurang. Bisa dimaklumi jika pada saat itu saya tidak mendapatkan apa yang saya mimpikan.

Pengalaman selama dua minggu mengadu nasib di Jakarta menyadarkan saya bahwa tidak semua orang akan sukses pada percobaan pertamanya. Ada yang berulang kali baru bisa menaklukkan kerasnya kehidupan ibu kota. Ada lagi yang gagal dan tidak pernah mencoba lagi. Ukuran kesuksesan tiap orang yang menggantungkan nasib di ibukota memanglah variatif, namun demikian saya merasa beruntung karena saat ini saya bisa berkarier dan mencicipi sedikit kenyamanan yang disediakan di kota ini.

 

Selasa, 24 Agustus 2021

Siswa Sekolah di Masa Pandemi

Ketika beberapa kali keluar kosan dalam masa pandemi ini, saya sering melihat anak-anak kecil usia sekolah SD yang sedang bergerombol bermain bersama. Mereka bermain bersama pada jam-jam dimana mereka (jika tidak ada pandemi) seharusnya sedang berada di dalam kelas untuk menerima pelajaran dari para pengajar.

Dalam masa pandemi, model pembelajaran secara tatap muka diliburkan dan diganti dengan proses belajar daring dari rumah masing-masing. Sekolah dengan memanfaatkan gadget baik handphone maupun laptop ini merupakan langkah keluar yang harus diambil karena pertemuan fisik di sekolah masih dianggap rawan penyebaran covid. Ada beberapa sisi positif yang menjadi dampak penerapan sekolah model daring ini. Pertama, siswa lebih banyak waktu dengan keluarga. Kedua, tidak banyak biaya yang dikeluarkan oleh para orang tua untuk membayar ongkos transportasi dan uang jajan. Berikutnya, siswa jadi lebih mahir menggunakan teknologi informasi yang semakin maju.

Di sisi lain, model pembelajaran daring juga membawa dampak negatif antara lain: Siswa menjadi terkungkung di dalam rumah. Kedua, interaksi langsung antar siswa menjadi berkurang. Interaksi langsung ini sangat penting bagi kemampuan siswa dalam bersosialisasi. Selanjutnya, pembelajaran secara daring akan berlangsung monoton karena siswa hanya berfokus pada gawai yang menjadi peralatan utama dalam sesi belajar-mengajar. Berikutnya, pengawasan langsung guru terhadap muridnya akan relatif berkurang karena suasana pembelajaran yang berbeda dan keterbatasan peralatan untuk digunakan dalam mengawasi murid satu persatu.

 Masa pandemi yang cukup lama ini membawa konsekuensi bagi kehidupan sosial tidak hanya untuk orang dewasa namun juga terhadap anak-anak usia sekolah. Mereka tidak lagi bisa bertatap muka secara langsung dengan para guru dan teman-teman sekelasnya. Interaksi dengan teman-teman yang bervariasi dari berbagai kalangan dan latar belakang sedikit banyak akan mengajarkan mereka pentingnya bersosialisasi dan bertoleransi. Disamping itu, dalam masa pandemi ini, energi besar anak-anak dalam bermain dan belajar harus tetap tersalurkan dengan baik agar mereka tidak merasa tertekan berada dalam satu lingkungan untuk waktu yang relatif lama. Salah satu cara untuk menyalurkan energi bermain mereka adalah dengan mengijinkan mereka bermain dengan teman sebayanya yang berada di satu lingkungan yang sama. Hal ini bisa menjaga mereka tetap ceria karena menemukan kawan seusia dan semasa. Yang harus menjadi perhatian adalah ketaatan mereka dalam menjalankan prokes, karena seperti sering saya lihat, banyak anak-anak bergerombol yang tidak memakai masker atau memakai masker namun tidak sesuai himbauan.

Jika prokes tidak dijalankan sedangkan anak-anak ini dibiarkan tetap bersosialisasi dengan bergerombol, saya khawatir penyebaran virus ini akan terus berlanjut. Maka dari itu, saya berharap para orang tua dan guru selalu mengajarkan dan menekankan pentingnya kedisiplinan dan ketaatan terhadap prokes kepada para muridnya agar pandemi ini segera berakhir dan kita semua dapat beraktifitas seperti sebelum adanya wabah ini.

Pesona Keindahan Sore yang Istimewa di Engelberg

Blog kali ini merupakan ekspresi kekaguman saya atas keindahan alam di sebuah kota kecil bernama Engelberg, sebuah kota kecil dimana stasiun kereta untuk menuju ke puncak Titlis berada. Sebagaimana ukuran kotanya, stasiun kereta di kota ini juga berukuran kecil. Stasiun ini bukan berupa bangunan megah dan mewah, melainkan bangunan fungsional yang mengutamakan fungsi. 

Stasiun Engelberg
Yang istimewa bagi saya adalah pemandangan sore di sekitar stasiun ini. Ada hamparan rerumputan yang tumbuh rapi dengan background pegunungan dengan puncak-puncak bersalju. Disamping areal rerumputan tersebut ada jalan kecil berpasir. Perpaduan pemandangan rerumputan, jalan kecil, pemukiman dan pegunungan bersalju pada sore itu memang luar biasa menenangkan. Saya merasakan kedamaian dan ketenangan hanya dengan berdiam duduk di salah satu kursi di pinggir stasiun.
Sore Yang Istimewa di Engelberg

Suasana di sekitar stasiun Engelberg saat itu sangat sepi. Mungkin letak stasiun ini memang agak jauh dari pemukiman warga jadi tidak banyak aktifitas warga yang saya lihat. Tidak banyak mobilitas orang yang terlihat kecuali para turis yang menuju atau baru balik dari puncak Titlis. Pemandangan serupa juga terlihat di jalan raya yang tidak jauh dari stasiun. Saya sangat jarang melihat kendaraan yang melewati jalan tersebut.

Keindahan, Kenyamanan, Ketertiban, Keamanan dan Keadilan 

Saya kurang tau aktifitas utama warga di kota ini, tapi yang jelas kotanya sangat sepi. Tidak jauh dari stasiun memang ada beberapa kafe, namun kafe tersebut terlihat seperti sedang tutup.

Ini Kalau Tahlilan Agak Susah Ngumpulin Jamaahnya

Suasana sepi dan tenang juga saya lihat di sepanjang perjalanan kereta di wilayah Engelberg. Pada beberapa titik, saya melihat rumah-rumah penduduk yang letaknya terpisah cukup jauh dengan rumah penduduk yang lain. Bagi orang yang menyukai ketenangan dan keheningan serta penghargaan terhadap privasi, pemukiman di kota Engelberg ini akan sangat cocok. Namun buat warga desa seperti saya yang terbiasa guyub dengan tetangga, pemukiman seperti di Engelberg sepertinya akan terasa membosankan.

Istimewa

Kembali ke kesan saya terhadap kota Engelberg, saya yang menyukai kedamaian dan ketenangan merasa sangat beruntung pernah menikmati suasana sore di tempat seindah ini. Selain pemandangannya yang indah, cuaca sore itu yang cerah dan udara yang sejuk sungguh membuat saya merasakan kesyahduan yang sangat. Mungkin kota dan stasiun ini hanya menjadi transit bagi turis yang akan menuju ke puncak Titlis, namun bagi saya kota, stasiun serta semua atraksi yang disuguhkannya adalah sebuah keistimewaan.

Puncak Titlis Swiss, Sebuah Cerita dari 3.000 Meter di Atas Permukaan Laut

Swiss bagi saya merupakan negara yang sangat menakjubkan, utamanya pemandangan alamnya yang sangat indah. Di antara keindahan alam Swiss yang benar-benar saya kagumi adalah puncak Titlis.

10,000 ft Above Sea Level

Titlis merupakan salah satu puncak pada pegunungan Alpen yang berjarak sekitar 35 KM dari kota Luzern. Adapun ketinggian puncak Titlis mencapai 3.238m. Atraksi utama di lokasi wisata ini adalah puncak-puncak bersalju yang sungguh sangat indah. Suasananya bagi saya bagaikan berada di dunia lain dengan pegunungan tajam yang puncaknya didominasi oleh warna putih salju.

Breathtaking Scenery

Perjalanan menuju ke puncak Titlis menggunakan kereta gantung dengan biaya sebesar 92 franc per orang. Biaya ini memang cukup besar jika dirupiahkan. Namun biaya sebanyak ini akan terbayar dengan sensasi naik kereta gantung dengan view yang luar biasa indah dengan cuaca yang cerah. Di sepanjang perjalanan dengan kereta gantung, bisa dilihat gugusan pegunungan yang menjulang tinggi serta lembah yang menghijau berupa padang rumput luas dengan sapi yang berkeliaran bebas. Semakin tinggi perjalanan cable car, pemandangan semakin menakjubkan. Semakin banyak juga terlihat tumpukan salju, saling berganti dengan sisi-sisi gunung yang berbatu keras dan tajam serta beberapa kali menembus awan. Benar-benar sensasi yang sangat luar biasa.

Atraksi pertama dimulai

Perjalanan menuju ke puncak Titlis terbagi menjadi dua bagian, yang pertama menggunakan cable car kecil yang dapat memuat 4 penumpang. Para pengunjung Titlis tidak perlu berjejal atau berebutan di cable car ini, karena ada banyak sekali jumlahnya. Setiap cable car mempunyai satu stiker bendera berbagai negara di seluruh dunia yang lumayan seru dipakai buat tebak-tebakan.

Titlis 360 Rotair Cable Car 

Di tengah-tengah perjalanan ke puncak, pengunjung akan transit di salah satu stasiun untuk berganti kereta gantung ke ukuran yang jauh lebih besar yang mampu menampung puluhan pengunjung. Kereta gantung kedua ini bisa berputar 360 derajat yang memungkinkan pengunjung melihat dari berbagai sisi. Agak ngeri-ngeri sedap saat saya menaiki kereta gantung kedua ini karena jumlah yang naik sangat banyak sedangkan saya melihat kabel yang menjadi titian berupa rangkaian tiga kabel yang tidak begitu besar.
Kompak

Setelah total perjalanan selama lebih dari 30 menit, perjalanan cable car sampai di stasiun terakhir puncak Titlis. Di stasiun ini terdapat restoran, toko souvenir, toilet, hingga studio foto. Lantai atas stasiun ini terhubung dengan ruang terbuka yang dilengkapi dengan beberapa deret kursi. Di sini kami sempatkan untuk menikmati perbekalan kami. Makan siang di atas puncak Titlis ini merupakan pertama kalinya kami berkesempatan makan di atas ketinggian 3000m. Selepas makan, kami lanjut ke areal salju yang terhampar luas. Kami tunda dulu main saljunya untuk menuju ke anjungan pandang. Lokasi anjungan di puncak Titlis merupakan lokasi yang sangat strategis untuk menikmati pemandangan. Anjungan ini merupakan titik tertinggi yang bisa diakses oleh pengunjung. Dari sini pengunjung bisa melihat ke semua sudut, semua puncak bersalju dan bahkan jurang-jurang curam di di bawah puncak gunung.

Anjungan Puncak Titlis

Puncak Titlis saat itu diselimuti salju tebal. Kami pun bisa puas bermain-main dengan salju. Untuk mengabadikan momen ini, tak lupa kami pun berfoto dengan background salju. Sebagai informasi, salju ini licin dan membuat basah pakaian. Untuk dapat berjalan di atas salju, Sepatu yang dikenakan harus proper, jika tidak akan seperti sepatu saya yang akhirnya basah dan bau. 

Areal Luas Bersalju di Puncak Titlis

Setelah melewati hamparan salju, pengunjung akan mendapati Jembatan gantung yang cukup panjang untuk akses ke dalam perut gunung. Jembatan ini adalah jembatan yang akan menguji adrenalin kita, karena lantai jembatan merupakan besi berrongga yang memunginkan kita untuk melihat pemandangan jauh di bawah jembatan. Pemandangan di bawah jembatan besi gantung ini bukanlah hamparan salju, melainkan jurang curam dengan formasi bebatuan tajam. Sensasi melewati jembatan ini cukup mendebarkan karena saat berada di atas jembatan akan terasa adanya goncangan.

Jembatan Gantung yang Menguji Adrenalin

Setelah melewati jembatan gantung, pengunjung bisa menikmati atraksi selanjutnya dari Puncak Titlis yakni sebuah terowongan yang menghubungkan salah satu sisi puncak Titlis dengan stasiun kereta gantung. Terowongan ini memudahkan pengunjung untuk balik ke stasiun tanpa melewati timbunan salju yang licin. Suhu dalam gua ini tidak kalah dingin dingin dengan suhu di luar ruangan. Bahkan menurut saya jauh lebih dingin di dalam gua ini karena dinding-dindingnya berupa es. Gua ini cukup panjang dengan penerangan yang terbatas. Walaupun tidak mendapat pemandangan puncak gunung, perjalanan melewati gua ini lebih aman untuk menuju kembali ke stasiun, karena tidak harus melewati hamparan salju yang licin dan basah.

Gua di Puncak Titlis yang Super Dingin

Area Terbuka di Puncak Titlis
Setelah sampai di stasiun, kami kembali ke titik areal terbuka untuk sekali lagi menikmati suasana dan pemandangan puncak Titlis. Di areal ini kami bertemu, walaupun tidak berkomunikasi, dengan rombongn wisatawan keluarga asal Indonesia. Melihat bekalnya yang berupa nasi goreng, ingin sekali rasanya meminta sedikit porsi. Hahaha. Karena saya lihat makanan tersebut tidak habis dimakan dan dimasukan kembali ke dalam wadah penyimpanan.
 
Titlis dan Keajaibannya
Titlis dan Keajaibannya2
Sebenarnya tidak ada kata puas untuk menikmati view yang luar biasa dramatis seperti di Puncak Titlis ini. Gugusan puncak pegunungan Alpen yang berselimut salju, lembah hijau serta danau di kaki gunung merupakan atraksi luar biasa yang ditawarkan oleh puncak Titlis. Paket wisata lengkap semacam ini membuat Puncak Titlis menjadi salah satu lokasi wisata yang paling berkesan bagi saya.

Menikmati Keindahan Swiss dari Balik Jendela Kereta (Wisata)

Swiss merupakan salah satu tujuan utama wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk menikmati keindahan alamnya yang luar biasa. Untuk memudahkan turis dalam menikmati keindahan alam tersebut, berbagai macam sarana dan prasarana pendukung terlihat digarap dengan sangat serius. 

Suasana Stasiun Luzern

Salah satu sarana yang sangat mendukung turisme di Swiss adalah moda transportasi berupa kereta. Ada dua jenis kereta yang sempat saya jajal, yakni kereta antar kota dan kereta wisata. Jika kereta antar kota melayani perjalanan jarak jauh, maka kereta wisata ini merupakan moda transportasi penghubung antar kota dalam jarak yang relatif dekat yang konsern utamanya adalah wisata. Dalam kesempatan kali ini, akan membahas moda transportasi kereta wisata.

Kereta Luzern - Engelberg 

Pada saat saya berkesempatan berkunjung ke Swiss, moda transportasi kereta wisata ini membuat saya kagum. Dari sisi tampilan, eksterior kereta ini sangat elegan, bersih dan menarik. Kereta ini juga mempunyai ukuran jendela kaca yang sangat besar sehingga penumpang dapat menikmati pemandangan luar biasa pada saat melakukan perjalanan. Yang unik dari kereta di daerah wisata ini adalah bagian atas kereta yang dilengkapi jendela kaca tambahan. Dengan adanya jendela ini, penumpang bisa melihat pemandangan di atas kereta, contohnya pada saat kereta melewati pinggiran gunung atau memasuki terowongan. Tidak kalah dengan eksteriornya, interior kereta ini juga sangat memanjakan penumpang. Kebersihannya sangat terjaga, tidak terlihat bagian yang kusam di berbagai sudutnya. Bentuk kursinya juga sangat nyaman. Tidak hanya memanjakan penumpang, kereta ini juga dilengkapi dengan petunjuk dan peralatan keselamatan penumpang yang terpampang dengan jelas. Jelas sudah jika kereta ini tidak hanya mengunggulkan sisi atraksinya, namun juga faktor keselamatan penumpangnya.

Interior Dalam Kereta: Ada Jendela Kaca di Bagian Atapnya

Sebagian besar kereta di Swiss menggunakan listrik sebagai tenaga penggeraknya. Dengan demikian, laju kereta menjadi sangat halus dan tidak terdengar bunyi mesin yang nyaring. Deru mesin masih terdengar halus walaupun kereta memasuki jalur ekstrim pendakian ke ketinggian. 

Silhouete

Pemandangan favorit saya saat menaiki kereta wisata di Swiss adalah pada jalur Luzern menuju ke Engelberg dan sebaliknya. Dalam perjalanan ini saya sungguh kagum atas keindahan alam Swiss yakni perpaduan antara pegunungan, danau yang jernih dan luas serta kawasan pemukiman yang tertata rapi dan terlihat permai. Pemandangan ini juga ditambah dengan rimbunnya pepohonan di pegunungan serta langit yang sangat cerah saat itu.

Pemandangan Swiss dari Jendela Kereta
Pemandangan Swiss dari Balik Jendela Kereta

Kebetulan saat itu penumpang kereta tidak terlalu banyak. Dengan demikian banyak kursi kosong di gerbong saya. Saya bisa leluasa berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain untuk dapat menikmati pemandangan dari ke dua sisi kereta. Saya sungguh merasa beruntung dapat kesempatan menjajal kereta ini.
Scenery Menakjubkan, Pegunungan, Danau, Pemukiman dan Gereja 

Durasi perjalanan kereta Luzern - Engelberg ini berlangsung cukup lama dengan laju kecepatan sedang. Laju kecepatan ini memungkinkan penumpang untuk menikmati pemandangan hingga puas. Karena apabila laju kereta terlalu cepat, maka durasi pemandangan pada suatu tempat akan menjadi lebih singkat. Dalam perjalanannya, kereta ini berhenti di beberapa stasiun kecil. Ada satu stasiun yang bagi saya mempunyai pemandangan yang luar biasa yakni Stasiun Sachseln. Istimewanya stasiun ini adalah lokasinya yang berada di tepi danau yang luas dan bersih dengan latar belakang pemandangan pegunungan menghijau.

Stasiun Sachseln dengan View Super Cantik 

Selain interior, eksterior serta jalur relnya, kereta di Swiss juga unggul dari sisi ketepatan waktu dan pengaturan jadwal. Jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta terpampang dengan jelas di papan pengumuman. Dengan adanya papan informasi ini calon penumpang dapat dengan mudah menemukan kereta dan platform atau jalur keberangkatan keretanya. Selanjutnya, kereta ini sangat tepat waktu, baik jadwal keberangkatan dan kedatangannya. Dengan jadwal yang tepat, penumpang dapat mengandalkannya dalam menyusun rencana perjalanan. Selain itu, interval atau jarak keberangkatan kereta juga cukup baik. Tidak terlalu lama maupun tidak terlalu singkat. Dengan demikian calon penumpang yang akan melakukan perjalan bisa memilih jadwal kereta sesuai dengan keinginannya.

Penuh Rasa Syukur di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Alhamdulillah, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bisa secara langsung menunaika...